A²💜1

3.9K 75 0
                                        


Kalau ada typo bertebaran jangan lupa komen ya.

Dan jangan lupa spam part ini
Semoga kalian suka.

Happy reading semua.

***

Saat ini sang rembulan malu malu tuk menampakan sinarnya. Sama halnya dengan bintang yang tak mau menampakan gemerlap indah sekalipun. Mungkin mereka kedinginan, karena sang angkasa tengah di guyur derasnya hujan.

"Lihat apa Neth? Serius banget." Diara bertanya saat baru saja datang dari arah dapur sembari membawa dua gelas coklat panas bersiap menghampiri Aneth menuju pintu balkon yang di tutup karena sedang hujan deras.

"Lihat hujan, mereka hebat ya. Meskipun jatuh dari langit tinggi ke bumi berkali kali, tapi mereka ngga pernah ngeluh. Ngga kaya gua." Aneth menatap lesu ke luar jendela balkon.

"Lo kalau mau jadi guru bahasa Indonesia jangan di sini deh, pake acara ngomong begitu. Ngga pantes. Nih gua buatin coklat panas, minum gih." ucap Diara mengganti topik sembari menyodorkan satu gelas coklat panas dan di sambut hangat oleh tangan Aneth.

"Ada ada aja lo, btw thanks ya. Lo selalu ada buat gua. Ngasih tumpangan kalau gua males pulang. Nyadarin gua kalau gua salah. Rela tengah malam ke bar cuma buat ngejemput kalau gua mabuk. Lo emang sahabat terbaik gua."

"Sama sama Netha. kan udah tugas seorang sahabat buat bantu sahabatnya yang lagi kesusahan." imbuh Diara lalu menyunggingkan senyum manis andalannya. Diara baru menyadari bahwa Aneth telah menjatuhkan beberapa kristal berharga di pelupuk matanya.

"Lo mewek! Sejak kapan Neth gue mewek? Ulululu tayang." maki Diara mengejek saat memperhatikan Aneth yang dari tadi menunduk lesu. Masih dengan ejekannya, kini tangan usil Diara malah menguyel uyel pipi Aneth. Aneth dengan cepat menghapus air matanya dan menggeplak kepala Diara.

"Lah, kok gua di geplak sih!" rajuknya bersidekap dada, Aneth tersenyum. Memang hanya Diara yang bisa mengembalikan senyuman itu.

"Salah sendiri pipi gua di uyel." balasnya tak mau kalah.

"Bodo amat, yang penting gua nggak mewekkan." sindrinya mengatai.

"Ya kali gua mewek, ngaco lo." alibinya berusaha bersikap sombong. Diara terkekeh pelan, dari dulu Aneth memang tidak pernah pandai dalam hal yang satu itu, apalagi kalau bukan menutupi kesedihannya. Jika berhasil, jatuhnya malah seperti orang tak tau daratan.

"Jangan pernah pendam semuanya sendiri. Lo masih punya gua, Naisa dan Raliya di hidup elo kok. Jangan anggap hidup lo cuma sebatang kara yang terus sendiri dan lapuk karena usia." kata Diara sembari memeluk tubuh Aneth yang sedikit kurus. Seolah olah Diara tau apa yang Aneth rasakan. Mereka saling berpelukan, membagi luka yang tak dapat di lihat seberapa dalamanya, namun bisa di rasa oleh raga. Aneth melepaskan pelukan Diara dan menghembuskan nafas kasar.

"Lo jelek kalau sok puitis." cemoh Anetha membalikkan suasana yang tadi melo kini malah pecah di selingi tawa geram Diara.

"Di."

"Hmm?"

"Hidup tuh aneh ya."

"Maksutnya?"

"Ya aneh aja hehe."

"Lo kelihatan ngga waras Neth." ucapan Diara barusan berhasil membuat Aneth tertawa. Tawa itu menular.

"Berarti gua temennya orang ngga waras." tawa itu kembali menjadi setelah Diara berucap demikian.

"Besok malam gua mau pulang ke rumah." putusnya membuat Diara hampir tersedak hot coklat setelah berhenti tertawa dan ingin minum.

"Ehh... Ati ati Di, itu panas goblok." maki Aneth frontal.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang