A²💜31

1.3K 39 7
                                        

Buat yang udah nungguin Thaksa

**

Unknown number is calling
0821xxxx

"Halo?"

"LO GILA? kemaren malem gua dapet laporan kalau lo ketemu Aksara, mau mati lo?" maki seseorang di seberang sana. Sontak ia menjauhkan ponsel dari telinga.

"Kalem bro kalem, rahasia kita aman. Gua bakal main main dulu sama tu bocah, lagian belum ada yang dia tau tentang seluk belum kematian Alfaska."

"Nga usah cari mati, lo tau kan antek antek tu bocah banyak. Lengah dikit, abis." sulut seseorang di seberang dengan nada berapi api.

"Lo takut?" tantang Pria yang menerima telfon.

"Gua ngga pernah takut, apalagi sama bocah curut." pria yang menerima telfon tertawa lepas ketika mendengar jawaban itu.

"Gua ada berita bagus. Cewek yang kita cari selama ini ada di dekat Aksara. Semalam gua lihat dia ke sirkuit bareng Aksa."

"Berita bagus."

"Tapi identitasnya berubah. Dia bukan Mitha lagi, namanya sekarang Aneth. Gua percaya sama lo, lo bisa cari lagi indentitas lengkap cewek itu."

Tut tut tut

Panggilan telfon diputus secara sepihak.

*

Pukul 6.10 Rs. Arthawijaya JAKARTA SELATAN

"Saya mau sekolah."

"Tidak bisa nona, kondisi anda belum sepenuhnya pulih." jelas seorang perawatan dengan satu temannya yang hanya diam ketika  Aneth ngotot ingin minta sekolah, padahal kondisi kakinya belum membaik sama sekali.

"Saya baik, buktinya saya bisa ngomong." bantahnya tak mau kalah. Sementara beberapa bodyguard yang berjaga di depan pintu hanya dapat geleng geleng karena tingkah nona mereka.

Semalam, Laras datang kemari karena mendapat kabar bahwa penyakit Aneth kambuh. Namun pagi ini ibu tirinya itu pulang dengan alasan mengantar Afinda untuk sekolah karena Leksmana ada di Surabaya, bahkan papanya merasa acuh dan tak sekalipun menjenguknya. Lagi pula, bukankah gadis itu telah dewasa, tapi sekolah saja masih minta di antar.

"Nona, kami mohon dengan sangat. Tolong jangan malanggar larangan dokter." pinta perawat itu menyatukan kedua tangan. Aneth mengerlingkan matanya malas. Sebenarnya ia kasihan dengan perawat di depannya, namun apalah daya. Keinginannya melebihi rasa belas kasih itu.

"Larangan dokter atau oma saya?" kali ini kedua perawat itu bungkam. Memang benar Maria lah yang meminta dua perawat tersebut agar menghalangi Aneth untuk sekolah.

"Tsk, saya baik baik saja. Akan tambah lebih buruk jika saya terus terusan dikurung dalam rumah sakit ini." cerca gadis itu penuh semangat, intinya ia harus sekolah.

"Mitha." panggilan dari arah pintu kamar inap itu berhasil menghentikan perdebatan antara Aneth dan perawat. Mereka sama sama mengalihkan pandangan guna mengetahui siapa yang memanggil. Senyum Aneth merekah, seketika ia jadi melupakan keinginan untuk bersekolah hanya karena di panggil oleh orang itu.

Wanita tua itu terus berjalan, dengan Butler Rina yang masih setia mengintilinya dari arah belakang, kemudian memeluk Aneth dan mengecup sayang pada kedua pipi cucunya.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang