A²💜40

996 18 0
                                        

Hujan deras mengguyur Jakarta sore ini, Aneth baru saja tiba dengan taxi pesanan Aksara yang mengantarnya. Gadis itu menatap seisi apartemen yang lumayan rapi. Meletakkan tasnya asal kemudian mencopoti sepatu dan memasukkan sepatu tersebut ke rak di ujung pintu. Ia kembali menggendong tasnya dan pergi ke kamar untuk mandi dan ganti baju.

Ceklek (bunyi pintu yang di buka)

"Enaknya makan apa ya?" gumam gadis itu kala selesai dengan rutinitas mandi nya.

"Masak ramen enak kali ya, hujan hujan gini." lagi lagi Aneth bermonolog. Ia kemudian berjalan menuju dapur dengan sendal bulu bentuk kelinci barunya. Entah kenapa semenjak pindah rumah dirinya merasa sedikit feminim. Ramen selesai di buat, gadis itu berjalan dengan mangkuk yang berada di tangan kanannya dan segelas air putih di tangan kiri. Ia berjalan pelan menuju meja makan di depan dapurnya.

"Enak juga ya tinggal sendiri, hehe." serunya bangga. Gadis itu makan dengan lahap, sembari menatap ruangan tempatnya tinggal.

"Habis ini ngapain ya? Mau latihan climb di luar hujan, males gua basah basahan. Apa nonton anime aja ya? Iya seru kali ya." monolognya, tiba tiba gadis itu menepuk jidatnya pelan.

"Aduh gua lupa. Kan sekarang episode 5 nya Wind breaker. Nonton itu aja deh." serunya kegirangan. Jiwa anime lovers nya muncul guys. Awas aja ada yang ngatain wibu bau bawang🖕🏻

"Sakura haruka, i'm coming." girangnya. Kemudian berjalan menuju kamar dan memutar televisi modern nya.

"NAKIGOE, TOOKU IKI WO AWASETE, MOU ICHIDO SONNA, BOKURA NO MIR__"

Tok tok tok (suara ketukan pintu)

"Ckk. Siapa sih, ganggu aja." decal Aneth kesal. Tanpa mematikan layar televisinya. Gadis itu berjalan sebal menuju pintu utama.

Ceklek

"Iya ada yang bisa di ban__ eh eh eh hati hati."

Bruk

Gadis itu mendadak dapat serangan pelukan setelah membuka pintu, sontak ia yang tak siap akibatnya hampir terjatuh dan bajunya lumayan basah kuyup karena ulah seseorang di depannya.

"Kan basah baju gua. Ish, cepet jauh jauh." gadis itu mendorong lengan pria di depannya hingga pria itu terjungkal dan terjatuh menabrak tembok apartemen.

'Dug'

Aneth meringis "Sakit." rintih pria itu lemas.

"Eh, sorry sorry. Mana yang sakit?" gadis itu mendekat dan memegang wajah laki-laki di depannya. Banyak luka memar dan lebam di dekat mulut dan pipi. Desisan pelan lagi lagi terdengar.

"Shh, sakit. Jangan keras keras pegang nya." ucap pria itu.

"Buset, tumben tumbenan kalem. Biasanya keras loh Ra, kek batu. Eh tunggu." sembari memegang dahi Aksara. "Badan lo panas banget." ujar Aneth di sela sela tangannya menyentuh bagian wajah Aksara.

"Bentar bentar, ini copot dulu. Yang basah di copot biar ngga lebih parah masuk anginnya." gadis itu dengan telaten melepas satu persatu benda basah yang menutupi tubuh Aksara, mulai dari bandana di kepala, jaket, seragam hinga tersisa kaus hitam dan celana.

"Lo ikut gua ke kamar, ganti baju sama celana lo pake punya gua dulu. Masih kuat ganti baju sama celana kan?" tanya gadis itu langsung di angguki Aksara. Aneth memapah Aksara yang beratnya dua kali lebih besar darinya menuju kamar tamu. Setelah selesai dengan aktifitas tersebut, cepat cepat gadis itu berlari ke kamarnya untuk mencari baju dan celana besar yang kira kira pas di pakai Aksara.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang