A²💜38

916 12 0
                                        

❣Have fun ya temen temen❣

Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakan 🤗

*

Aksara dan Aneth turun bersamaan menggunakan lift saat di beri tahu Leon bahwa mama dan papa laki-laki itu sampai. Namun Aneth berniat pamit untuk pulang saat mereka sampai di lantai satu.

"Gua pulang aja ya, malu kalo ketemu tante Alfi."

"Dih, ngapain malu. Biasanya juga malu maluin." lontaran kata Aksara berhasil membuat kedua alis Aneth menyatu. Gadis itu menatap horor laki-laki tegap di sampingnya. Berniat membalas kata kata sinting dan tak berbobot dari Aksara.

"Apa?" baru saja Aneth akan membalas, namun ucapan Aksara berhasil meluluhlantakkan kata kata mutiara yang akan Aneth ucapkan. Lupa mau ngomong apa.

"Eng--nggak jadi. Dah ah, mau pulang gua." pamitnya agak sedikit terbata. Buru buru Aksara menarik pelan rambut Aneth yang di kuncir satu.

"Jangan di tarik ege. Nanti kusut." Aneth berusaha melepaskan tangan Aksara dari rambutnya, namun nihil. Sama sekali tarikan itu tak terlepas.

"Mulutnya kasar banget."

"Biarin, biar lo takut." Aksara menahan tawa yang hampir mirip nada mengejek.

"Badan segede kucing aja ngapain takut." ejek laki-laki itu.

"Enak aja, bada gua tuh besar."

"Iya, sebesar anggora."

"Lo." Aneth menunjuk nunjuk Aksara yang masih setia menarik rambutnya.

"Apa? Apa? Ngga terima?"

"Ngeselin ya."

"Emang, wleee." culas Aksara benar-benar puas menjahili gadis di sampingnya.

"Aduh sakit." buru buru Aksara mengangkat kedua tangannya. Takut jika tarikanya tadi seperti jambakan. Gadis di depannya terlalu cantik untuk merasakan rasa sakit.

"Eh sorry sorry. Mana yang sakit?" Aksara mengusap usap rambut Aneth pelan.

'Kyaaaaa, gimana ngga baper?'

"Tapi boong, wleee." Aneth tercengir, kemudian berlari sebelum Aksara benar-benar bisa menggapainya. Sementara Aksara malah senyam senyum dan memegang dada yang terasa begitu aneh.

"Kayanya gua harus ke dokter jantung. Ini dari tadi jedag jedug mulu perasaan. Giliran si anak setan pulang kenapa sembuh." ucap Aksara polos kemudian berlalu untuk menemui kedua orang tuanya. Di maklumin aja, soalnya dari orok ngga pernah suka sama cewek wkwk.

*

"Ma, Pa?" panggilan Aksara berhasil mengalihkan atensi Andhi dan Alfi yang tengah menangis. Alfi menghampiri putranya, berniat meminta kejelasan.

"Jelasin sama mama."

"Oke, mama tenang ya. Aksara jelasin."

"Gimana mama bisa tenang, adik kamu di dalem kesakitan sampai harus pakai alat bantu pernafasan. Gimana mama bisa tenang Aksa." tangis Alfi pecah, ia benar benar takut jika peristiwa yang lalu terulang kembali. Aksara merengkuh tubuh ibunya.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang