A²💜52

453 14 1
                                        

KALO VOTE NYA LEBIH DARI 30 BINTANG, MALAM INI AKU UP LANJUTANNYA 🤗

**

Aksara selesai dengan kegiatan sekolah pukul enam sore, buru buru ia berjalan ke pintu belakang untuk mamapir ke warung kang Vay. Warkop sederhana milik pria asal Jombang yang merantau ke Jakarta. Matanya menelisik tajam, banyak sekali merk motor terparkir rapi di depan warung. Tanda bahwa anak anak Araster banyak yang mampir. Sudah jadi rahasia umum bahwasanya warung ini adalah langganan anggota Araster. Maka dari itu jarang ada anak anak biasa yang kemari karena takut. Kang Vay pun tak merasa dirugikan karena Araster konsisten hadir dengan anggota yang lebih dari duapuluh orang perhari.

Aksara mengedarkan pandang, terlihat Fadan dengan stelan casual duduk dan menyeruput teh manis. Sementara Damian dan Varo tengah asik menjajal satu persatu koleksi Vape mereka. Leon dan Samuel tak kalah andil, mereka sama sama menyeleksi berbagai macam rokok yang berbaris rapi didalam showcase sembari menunggu Aksara datang. Laki-laki itu memang terlambat karena harus menemui kepala sekolah atas medali emas yang ia raih. Ingat Aksara pernah Olimpiade beberapa bulan lalu? Medalinya baru sempat di serahkan sekarang. Sekolah ini pun memiliki sistem bahwa medali akan di gandakan. Yang asli di bawa pulang, sedangkan satunya untuk di pajang di sekolah.

"Bro." Aksara menepuk pundak Fadan. Laki-laki itu mengangkat kepala singkat, kemudian mereka saling sapa dengan tos. Sedangkan Samuel dan Leon malah bertingkah aneh, bisa bisanya saat Aksara datang mereka bow ala idol korea yang tengah bertemu senior. Sontak Damian dan Varo saling memandang, kemudian tertawa renyah.

"Langsung aja Ksa." Damian berucap ketika semua member telah duduk merapat. Untuk gambaran, warung kang Vay terbilang cukup luas. Ada tiga gazebo yang terpasang. Dan gazebo pojok dibawah pohon adalah milik core member. Kalian bayangin gazebo sekolah yang cat nya ngelupas, kurang lebih seperti itu. Aksara mulai menceritakan kejadian pagi tadi saat ia datang kerumah Aneth, serta menyerahkan foto yang menjadi barang bukti. Fadan menatap cepat foto tersebut. Lumayan kaget namun masih bisa ditutupi oleh wajah datarnya.

"Lo sempet tanya sesuatu?"

"Lah itu gobloknya Aksara. Masa ngga berani tanya, padahal biasanya juga langsung nyekik." sarkas Damian. Aksara menyunggar rambutnya dan menatap lain arah. Samuel dan Leon saling pandang saling melempar senyum jahil, kemudian manggut manggut faham.

"Lo takut dia ngerasa difitnah?" mendengar pertanyaan Fadan, Aksara tak menjawab.

"Gua dari kemaren yakin kalo Aneth ada sangkut pautnya." Fadan kembali berucap.

"Tapi gua juga yakin cewek semanis Aneth ngga akan ikut beginian." Aksara menimpal.

"Gua juga setuju, tapi foto dia dan Alfa wajib di curigai sih." sarkas Damian.

"Gua mulai goyah kalo dia ngga ada hubungan, karena setiap apapun tuhan selalu datangin dia ke kita. Pertemuan kolega sekolah, kasus Ariz, sirkuit, ulang tahun Mian. Tuhan kek ngasih tau kalo orang yang selama ini kita cari ya dia." Varo berucap setelah sekian lama diam.

"Ngga bisa gitu juga Var, dia kan emang anak yang masuk kategori lingkungan kita." tandas Leon.

"Lah, bisa jawab juga lu." Samuel mencemooh.

"Dipikir otak gua kek elu. Cewek mulu isinya." Samuel cengengesan.

"Lo tanya aja deh. Tanya pelan pelan aja, jangan langsung intinya." ide Damian benar-benar membuat Aksara bimbang. Satu sisi ia ingin tahu, satu sisi lagi ia takut Aneth marah dan membencinya.

Fadan menepuk bahu Aksara singkat, "lo mending tanya Ksa. Gua yakin Aneth ngga akan langsung benci lo. Mungkin bakal marah kalo nada tanya lo mengintimidasi. Tapi kalo lo tanya baik-baik, tujuh puluh persen aman."

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang