Happy reading guys...
Makasih sama kalian yang udah mau baca cerita aku sampai detik ini....
Luppp buat kalian dari author. Wkwkwk.
***
"Bangun lo!" garang Aksara sembari mengguncang bahunya yang disandari oleh, siapa lagi kalau bukan Aneth. Aneth yang merasa terusik pun mengerjapkan mata. Namanya Aksara pasti terkenal dengan kata nylekit nan menyakitkan. Ia akan berkata semau dan seenak jidadnya saja meskipun lawan bicara adalah wanita.
"Tsk, basah kan baju gua kena rambut lo." decal nya sebal.
"Apaan sih, ganggu orang tidur aja, lagian basah dikit juteknya ngalahin lebarnya langit." papar Aneth yang masih belum menyadari bahwa ia ketiduran dan bersandar di punggung tegap Aksara saat perjalanan tadi. Siapa sangka, saat Aksara melingkarkan tangan Aneth di perut sixpack miliknya, ia merasakan bahwa tangan yang melingkar itu semakin kencang seperti lilitan tali yang tak ingin terlepas, dan apa ini? Cewek yang baru di temuinya itu berani bersandar di pungungnya? Rontaan dan cibiran yang ia dengar tadi pun sekarang lenyap. Ingin rasanya mengerem motor mendadak agar si gadis gila itu tersadar, ada rasa sedikit tak sudi punggungnya di jadikan sandaran. Tapi apa? Aksara merasa nyaman dengan posisi ini dan mengurungkan niat berteriak nya agar tak mengusik orang di belakang yang kelihatan tengah tertidur pulas.
"Udah nyampe? Cepet banget." heran Aneth dengan suaranya serak khas orang bangun tidur. Ia langsung turun dari motor besar itu, menyisihkan Aksara dengan raut wajah yang ingin sekali meledak.
"Dasar pelor. Enak banget tidur di punggung gua." cibir Aksara pada Aneth. lagi lagi Aneth hanya memasang tampag melongo, ia berkacak pingang sembari melihat tampang Aksara, ups tepatnya menilai.
"Gua?" katanya sembari menunjuk dirinya sendiri. " tidur di punggung elo? Ngimpi kali." imbuhnya seperti membela diri. Padahal toh ia juga tahu barusan ia tertidur dengan pulas di punggung nyaman pria itu. Tapi dengan gamblangnya ia berbicara seolah olah ia tak melakukanya. yakkali ngaku, mau di taruh mana muka cantik nan mengemaskan Aneth. Aksara mendelik mendengar penuturan gadis gila di depannya.
"Dasar aneh." cacinya menatap Aneth nyalang.
"Dasar batu." balas Aneth jengkel, kali ini Aksara di buat melotot. Baru kali ini ada seseorang yang berani mengatainya terang terangan. Untung cewek, kalau cowok, sudah pasti sekarang tengah di larikan ke rumah sakit.
"Udah lah, nggak mood debat sama cowok batu kayak elo, gua mau masuk, dingin banget." gumamnya mendramatisir dan sedikit sarkastis.
"Ya udah masuk." Acuh Aksara bersiap untuk pulang dan menghidupkan mesin motornya yang barusa ia matikan.
"Ehh non Aneth, kok baru pulang non?" cletuk seseorang berperawakan tinggi dengan perut sedikit membuncit ke depan, lengkap dengan atribut khasnya seorang satpam dari celah pagar. Dengan telaten satpam bernama asli Diman itu membukakan pagar rumah yang menjulang tinggi bersama ketiga rekannya, lalu menghampiri Aneth yang masih berada di luar pagar untuk segera masuk.
"Loh kok bapak masih jaga? Bodyguard papa di mana?" tanya Anethsedikit kaget. Toh biasanya satpam satpam ini hanya berjaga sampai jam dua belas malam, dan sip-nya akan di ganti dengan bodyguard papanya.
"Owalah, sek-bodigar bapak diutus ke kantor non. Nganter berkas penting katae." balas satpam itu dengan dua bahasanya yang khas.
"Bodyguard pak." koreksi Aneth.
"Lah, iya maksut saya gitu non." Aneth tertawa dengan ucapan satpam barusan.
"Semalam ini pak? Emang dokumen apa?" tanyanya sedikit penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
