Pukul tujuh malam. Aksara dengan stelan casual berjalan santai dengan langkah tegap menuju ruang keluarga. Berniat ingin berpamitan sebelum pergi ke tempat balap yang telah Gani beritahu. Netranya menelisik setiap inchi, banyak sekali foto kenangan yang terpajang rapi pada dinding ruangan itu. Tak ada yang di rombak, semua sama. Bahkan foto Alfaska kecil bersama dirinya pun tak pernah tersisihkan. Andaikan saja abang sialannya masih hidup. Mungkin keluarga ini akan lebih terlihat berwarna.
"Mau kemana Ksa?" tegur wanita paruh baya itu kala mendapati anaknya tengah melamun.
"Aksa mau ke__"
"Oh... Mama tau, kamu pasti mau balikin mobil Ametha kan? Gih sana, nanti keburu malem malah Ametha nya tidur lagi." selak wanita itu cepat. Aksara mengernyit heran. Bukannya gadis itu sempat mengutarakan sendiri dan bersikukuh tak ingin mobilnya di antar satpam Aksara?
"Aksa mau k__"
"Iya sayang, boleh kok. Tunggu apalagi, sana gih pergi." potong wanita itu kembali. Aksara berdecak pelan. Jika terus begini, sudah di pastikan Aksara tak akan menang berdebat.
"Ck, mobil cewek itu kan bisa di anter satpam mah." dengusnya sebal.
"Satpam mana tau alamat rumahnya." balas Alfi tak ingin kalah.
"Kan bisa tanya dia." ujar Aksara dongkol. Memang. Sebelum berangkat sekolah, pagi tadi mamanya sempat bertukar nomor telfon dengan gadis aneh itu.
"Nanti kalau satpam nganter, yang jaga rumah siapa?" kata Alfi masih tak mau kalah.
"Satpam di rumah banyak." protes Aksara dengan raut sebal sekaligus datar yang selalu mendominasi.
"Udah lah bang, turutin aja kata mama." pungkas seseorang setelah sekian lama diam menyaksikan perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Diem lo." sambar Aksara cepat sembari terus melayangkan tatapan intimidasi ke arah Arizka. Yang di tatap menatap balik dengan nyalang tanpa punya rasa takut sedikitpun.
"Sana berangkat, apa perlu izin keluar malamnya mama stop." kicep, jika Alfi sudah seperti ini siapa yang bisa melawan. Mau tak mau, ia harus rela memotong waktunya untuk pergi ke rumah gadis sialan itu.
"Aksa berangkat." pamitnya setengah hati, Kemudian berjalan gontai menuju garasi. Tak lupa, jari tengahnya mengacung ke arah Arizka yang masih menertawainya, di susul suara tos kemenangan dari mereka berdua.
*
Tit..Tit... Tit...
Klakson mobil berkali-kali Aksara suarakan, tak butuh waktu lama. Gerbang besar tinggi menjulang itu telah terbuka bersamaan dengan dua orang satpam di dalamnya. Aksara kembali melajukan mobil, netranya melirik sekilas lewat kaca dalam yang biasanya menghiasi pintu. Ia turun, kemudian menyapa seseorang yang tengah menyantap pisang goreng di bagian posko bersama salah satu orang lagi yang di duga menjadi sopir pribadi di kediaman ini.
"Pak, bisa tolong saya?" mendengar suara bariton Aksara yang begitu familiar, salah satu di antaranya segera menegakkan pandang.
"Ehh... Aden yang nganterin non Aneth waktu itu ya?" tanya salah satu satpam sumringah. Aksara mengangguk sekilas. Di susul dengan wajah laki laki itu yang sedikit menahan tawa karena name tag satpam yang barusan menanyainya. Masih ingat mang Diman? Yap, orang itulah yang tengah berhadapan dengannya sekarang.
"Lah. Aden mah kalau mau ketawa ketawa aja, emang si Diman mah sarap. Mana ada nama orang modelan begitu." lontar pak supir berhasil membuat tawa Aksara pecah. Jangan kira Aksara laki laki dingin dengan sejuta diamnya. Dia juga akan bersikap layaknya orang biasa ketika bersama orang se frekuensi meskipun dengan selisih umur yang begitu kentara. Catat, Aksara hanya akan berwajah datar jika dirinya merasa tak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Ficção GeralFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
