A²💜67

81 4 0
                                        

Pagi itu, venue terasa lebih bising dari biasanya. Mata Aneth terus berkeliling, hari ini memang lebih ramai karena ini hari terakhir. Berbagai atlet dari cabor lain berkunjung untuk naik podium, merayakan kemenangan dengan medali yang akan di gantung di leher masing-masing pemenang.

Jadwal kategori speed putri Aneth tengah di persiapkan, papan yang kemarin tertutup kain besar kini berdiri jelas. Jalur itu, mendebarkan sekaligus menggugah jiwa persaingan Aneth. Ia tersenyum tipis, ini tentang dirinya yang ingin membuktikan bahwa prestasi bukan hanya sekedar angka matematika yang berhasil dipecahkan, bukan pula tentang soal yang harus di jawab dengan tepat tanpa celah. Tapi ini adalah prestasi yang berhasil membawa dirinya sampai sejauh ini.

"Neth, lo yang fokus. Ngga usah mikir hal hal yang buat fokus lu lepas."

"Iya Din, aman kok gua." balas Aneth dengan senyum ramah. Mereka sudah sampai di venue, dengan Dimas dan Dina yang menemani Aneth.

"Aksara katanya dateng ya Neth?" Aneth mengangguk ketika Dimas bertanya.

"Lu berdua kemaren kemana aja?" Dina dan Dimas mendadak saling gugup, bingung harus menjawab apa.

"Ayo cepet, itu coach udah nunggu." Dina mengalihkan pertanyaan Aneth. Aneth yang panik pun berlari duluan, meninggalkan mereka berdua. Dina dan Dimas saling pandang.

"A.. Emm... Gua ke Aneth dulu." pamit Dina akward.

"Gu-gua ngecek depan, takut Aksara sama yang lain ngga tau."

"Iya sana, hati hati." balas Dina, kemudian lari dan memisahkan diri dengan Dimas. Entah apa yang terjadi malam tadi, tapi Dina dan Dimas terlihat kasmaran. Beda dari sebelumnya.

Tempat parkir.

Dimas melirik sekitar, lima menit berlalu. Ia sama sekali tak melihat batang hidung Aksara dan teman-temannya yang lain.

Dimas jongkok di pinggir. Tangannya refleks naik ke atas wajah untuk menutupi terik matahari. Sepuluh menit berselang, nampak sebuah alphard hitam datang ke arah parkiran. Buru buru Dimas menghampiri, karena Varo sempat berkabar mereka naik mobil tipe tersebut.

Pintu mobil terbuka, nampak Varo yang keluar lebih dahulu. Disusul Fadan, Damian, Leon dan Samuel. Tanpa Aksara. Dimas melangkah gontai. menyusul mereka yang clingak clinguk tak jelas. Baru setelah melihat Dimas, mereka saling ber tos ria. Menandakan bahwa kekabraban telah terjalin.

"Pada kabar lu Dim?"

"Baik gua, lu gimana Var? Aman kah?"

"Agak ngantuk, Jetlag semalam." Samuel melirik Varo sinis. Jetlag apanya? Padahal semalam dia yang tidur paling cepat.

"Aksara mana?" saat Dimas bertanya demikian, mereka berlima saling pandang. Bingung harus menjelaskan apa tentang Aksara.

"Gimana ya, bingung gua mau cerita." Damian menggaruk belakang kepala yang tak gatal.

"Dia ada urusan. Kita masuk aja dulu." pungkas Fadan langsung di angguki oleh Dimas. Mereka kemudian masuk ke venue dan duduk di barisan penonton.

Flash back on.

Pukul enam pagi, Aksara terbangun karena alarm yang ia pasang semalam. Tangannya meraba nakas di samping kasur, cepat cepat ia mematikan suara alarm sebelum membangunkan seluruh penghuni villa.

Netra indahnya terpejam beberapa saat, berusaha mengusir sisa kantuk yang masih menggantung. Saat kembali terbuka, pandangannya perlahan menyesuaikan diri dengan cahaya remang yang menyusup dari sela tirai.

Aksara bangkit dari kasur.

Pintu kamar yang dibiarkan terbuka sejak semalam membuat ruang tengah masih terlihat jelas dari tempatnya berdiri. Pemandangan pertama yang ia lihat sukses membuat sudut bibirnya terangkat.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang