Seperti biasa, Aneth bergegas pulang saat latihan ekskul memanjatnya telah usai. Pukul empat petang, ia baru saja sampai di pekarangan rumah elite yang begitu megah. Ferrari spider itu kini telah bertengger manis dalam garasi yang memuat sekitar enam belas mobil, di tambah jajaran motor klasik koleksi Leksmana yang bermacam macam, dari moge sampai vespa juga menjadi ciri khas tersendiri di rumah ini.
"Pak Beni saya titip kunci, nanti malam saya mau pergi." pesan Aneth sembari memberikan kunci mobil kepada satpam.
"Siap nona." balas satpam itu cepat, Aneth hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam, ingin cepat cepat mandi karena di rasa badanya lengket dan sedikit masam oleh bau keringat. Afinda yang mendapati Aneth baru pulang menatapnya sinis, sedangkan Aneth tak mengubris sama sekali seakan akan tak ada seorangpun selain dirinya di rumah ini.
"Dari mana aja lo? Jam segini baru pulang." kata Afinda sinis, Aneth tak ambil pusing. Ia hanya melirik Afinda jengah, tak mau membalas pertanyaanya. Toh dia juga sudah tahu kalau tadi Aneth tengah ekskul.
"Lo budeg apa tuli sih, di tanya nggak nyaut." katanya lagi sedikit menghina.
"Berisik." ucapnya terus berjalan.
"Owh, kupingnya ikut mati di bawa Liana." kali ini kata katanya sedikit menyingung mama Aneth yang sudah tiada. Aneth menghentikan langkah, membalikan tubuh seratus delapan puluh derajat menghadap Afinda yang tengah terkekeh meremehkan. Aneth menunjukan smirk evil yang bisa membuat lawan bicaranya seketika panas dingin, dan hal ini lah yang sekarang bereaksi pada tubuh Afinda. Aneth terus melangkah, tepatnya ke arah saudara tirinya itu.
"Coba ulang sekali lagi omongan lo." gertak nya penuh benci menatap mata Afinda intens. Afinda menelan saliva susah payah, sebisa mungkin ia menyembunyikan ketakutan dengan menatap balik manik mata Aneth yang sudah siap menerjang.
"Lo budek? Makanya punya kuping tu di pake, bukan cuma di buat pajangan." srengah Afinda dongkol.
"Sekali lagi gua denger elo ngejelek jelekin nyokap gua__" kata kata Aneth sengaja di gantungkan.
"Jangan harap hidup elo yang numpang ini bisa tenang. Cerna baik baik ya saudara tiri." sambungnya, di akhiri kekehan pelan serta sedikit menekankan kata numpang di kalimatnya. Seperti biasa. Tak ada kata bentakan, namun menusuk, Afinda malu? Benar saja gadis itu malu, bagaimana tidak. Pertengkaran mereka didengar beberapa maid yang tengah berlalu lalang. Niat awal Afinda adalah membuat Aneth malu, namun malah berakibat sebaliknya. Gadis itu menepuk pundak kakak tirinya yang tak berkutik, menyadarkan bahwa gadis itu kalah bantah. Karena sama sekali tak merespon. Aneth melenggang pergi menuju kamarnya.
"Sialan! Awas aja lo Aneth, lo bakalan dapet balasan karena elo udah berani ngelawan gua." dengusnya penuh dendam, ingin sekali ia memaki gadis itu, namun ia masih merasa segan dan malu, bahkan saat ia berkata sengaja sangat pelan sampai ia pun tak bisa mendengarnya karena banyak maid yang masih menonton.
*
Gemericik air menari indah di pendengaran Aneth. Yap, gadis itu tengah mandi. Salah satu kebiasaannya saat sedang kesal adalah mandi dengan guyuran air shower yang dingin. Apalagi setelah insiden Afinda tadi yang menjelek jelekan ibunya, benar benar harus memupuk kesabaran ekstra. Gadis itu menghela nafas kasar. Tanganya senantiasa mengepal sampai buku jarinya memutih. seperti inilah dirinya, sangat sensitif kalau bersangkutan dengan Liana.
Tiga pulu menit berlalu, Aneth keluar kamar mandi hanya dengan balutan bathrobe dan handuk kecil yang menutup kepala. Waktu telah menunjukan pukul setengah tuju petang menjelang malam, ia sudah cantik dengan pakaian casual nya. rambut lurus yang di ombre bawahnya pun tergerai apik. Tanganya terulur untuk memainkan ponselnya dan duduk di pinggiran kasur.
520 chat from 75 contacts.
Archives 544
Diara melisha 1
Neth, gua sama yang.....
+6256xxxx 5
Ppppp
+6222xxxx 6
Woi, bales napa chat.....
And others...
Nb : Mimin nggak tau lagi
Pokoknya bentukan WA
Aneth kaya gitu🤣
Diara melisha :
Neth, gua sama yang
lain udah di depan rumah.
Me:
Ada maid kan?
Me:
Bilang aja mau ketemu Netha.
Diara melisha:
Okeyy babe..
Read.
Ya, memang saat sekolah tadi teman temanya telah merencanakan akan berkunjung ke rumahnya, sedangkan Aneth hanya mengangguk setuju. Toh ia juga bosan kalau terus sendirian di rumah. Aneth menyusuri tangga dengan sedikit berlari agar teman temanya tak menunggu terlalu lama di bawah. Matanya menyusuri setiap tempat, ternyata teman temanya berada di ruang tamu. Tapi tunggu, mereka tengah berbicara dengan, ah sial. Aneth memutar bola matanya malas.
'Caper banget.'
"Guys." gadis itu memanggil dengan suara ogah ogahan.
'Tau gini mending nggak usah gua iya-in tadi.'
Sontak ke empat orang yang tengah asyik berbicara itu pun menengok ke arah sumber suara.
"Itu Neth." kata Laras gembira, sedangkan Aneth hanya menatapnya dengan sorot tak suka.
"Gua tunggu di atas." ketus Aneth dengan nada datarnya lalu melenggang pergi meninggalkan teman teman tanpa mau menunggu sama sekali.
"Maafiin Aneth ya." pinta Laras, karena putri tirinya itu menyambut tamu sedikit tidak sopan.
"Ah nggak papa tan, Aneth mah orangnya gitu, ntar juga balik lagi." sahut Raliya. Laras hanya mengangguk mengiyakan.
"Mba, tolong anter anak anak ini ke kamar Netha ya." pintar Laras pada salah satu maid yang berjaga.
"Baik nyonya, mari nona nona." balas maid tersebut, lalu memberikan akses jalan pada teman teman Aneth lewat gerakan tangannya.
"Kita masuk dulu ya tan." pamit Diara bersiap berdiri dari kuris yang mereka duduki. Lagi lagi Laras hanya mengangguk, namun kali ini matanya tak seceria tadi, wanita itu menatap sendu Aneth yang sudah ada di pucuk tangga, berharap suatu saat nanti kehadirannya akan diterima dengan baik dirumah ini.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
