A²💜5

2.1K 47 0
                                        

Happy reading ya.

Kenapa harus rapuh kalau bisa tangguh.

_Anetha prajnaparamitha

**

Masih dengan stelan baju yang sama, Aneth berjalan gontai ke arah parkiran. Saat perjalanan pulang nanti ia ingin mampir ke sebuah cafetaria guna mengobati rasa lapar. Lima belas menit kemudian gadis itu sampai, berniat ingin segera masuk karena perutnya benar-benar keroncongan.

"Sore kak, ingin pesan apa?"

"Beef rice bowl nya satu sama teh hangat."

"Baik kak, silahkan di tunggu." Aneth mengangguk patuh, gadis itu menyusuri seluruh cafetaria guna mencari tempat paling pas untuk ia duduk.

"Kayanya di pojok enak." gumamnya. Tanpa di minta, gadis itu berjalan pelan pada bangku kosong di depan sana. Makanan Aneth sampai di sepuluh menit pertama ia duduk.

"Silahkan kak." Aneth mengangguk. Baru saja ingin menyendok makanannya, suara gebrakan meja di seberang berhasil membuat mood makannya hilang.

"Maksud lo apa kroyok anggota gua yang sendirian!?" laki-laki di belakang yang barusan menggebrak meja mencengkeram kerah dan menekan kata penuh intimidasi pada seseorang yang juga pelanggan di cafetaria ini. Laki-laki yang merasa terintimidasi pun bangkit.

"Gua ngga pernah ngeroyok anggota lo. Araster bukan kaya geng lo yang suka buat onar!" tekan laki-laki itu membalikkan keadaan.

"Bacot lo!"

"Kenapa Jor, emosi?" bulu kuduk Aneth seketika meremang dengan kata laki-laki di belakangnya. Laki-laki yang juga menjadi pelanggan cafetaria. Di samping itu, sudah ada beberapa staf cafetaria yang berjaga di belakang guna melerahi jika terjadi hal hal yang tidak di inginkan.

"Gua ngga akan buat onar di sini, tapi gua pastiin Araster bakal kalah di jalanan! Inget kata kata gua Ksa" laki-laki yang Aneth duga bernama Jor itu melenggang pergi. Meninggalkan satu laki-laki lain yang bernama Ksa. Sadar perdebatanya di lihat seorang gadis, laki-laki bernama Ksa tadi melirik tajam ke arah Aneth.

"Apa?" Aneth geleng-geleng. Kemudian pergi tanpa memakan pesanannya sama sekali.

*

Setelah sampai, Aneth menghempaskan tubuhnya kasar pada kasur king size dalam kamarnya. Pukul enam petang ia baru bisa pulang karena terjebak macet di perjalanan. Matanya terpejam, tapi pikirannya melayang seolah menembus puing masa lalu dan membayangkan lagi, lagi dan lagi, selalu saja begitu setiap ia selesai datang dari makam Liana.

Keluarga kecilnya yang nampak bahagia kini telah hancur karena seseorang di dalamnya sirna di telan pahitnya kenyataan. Ia lelah pura pura tangguh di depan semua orang, bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa apa. Tapi jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam ia penat, ia rapuh, ia bukanlah sosok yang tangguh seperti di film film yang mengisahkan kesendirian tanpa ada orang tua yang menemani. Bukan, itu bukanlah Aneth, ia ingin membagi setiap lara yang ia derita.

Tapi kepada siapa ia harus mengutarakannya? saat ibunya tiada. Ayahnya malah menyibukkan diri dengan bisnisnya yang merajalela. Ia tak memikirkan perasaan Aneth kecil yang kesepian, yang dulu hanya di temani oleh pembantu pembantu rumahnya yang kira kira berjumlah 6 orang. Ia tak butuh materi, ia hanya butuh secuil waktu luang Leksmana walaupun tak ada satu jam. Cih, bayangan semu yang naif dan tak akan pernah terwujud. Sampai ia tumbuh menjadi gadis remaja pun jarang sekali bertemu ayahnya, hinga suatu hari orang yang ia bangga banggakan itu kembali pulang setelah beberapa tahun tak berkabar. tapi apa? Kedatanganya membuat dunia gadis itu roboh seketika.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang