Berusaha upload sehari sekali di waktu sore, Februari aku mulai kuliah. Mungkin akan susah upload, maka dari itu Januari aku usahakan up sebanyaknya dengan catatan
👇🏻
(kalo mood)
terimakasih sudah membaca 👋
**
Aksara menggandeng erat tangan Aneth menuju ruangan Arizka. Mengusap halus punggung tangan dengan jempol supaya gadisnya tak terlalu gugup.
"Bener tante Alfi ngga kaget?" pastinya. Aksara menatap Aneth sesekali dengan kaki yang terus melangkah.
"Ngga akan." yakin Aksara. Aneth patuh, ia meremas pelan tangan Aksara untuk menyalurkan kegugupan. Laki-laki di sampingnya mendadak tersenyum dengan hembusan nafas pelan.
"Kenapa?"
"Ngga ada, kamu lucu cutie pie. Biasanya juga ngga sepanik ini kalo ketemu mama." Aneth memukul pelan lengan kekasihnya. Mata coklat itu kini membulat, memberi isyarat kesal dengan godaan itu.
"Ya kan dulu statusnya beda Asa." Aksara menghentikan langkah, ia melepas tautan tangan, kemudian menghadap Aneth yang sedikit gerogi. Tangannya terulur menyentuh kedua lengan Aneth. Ia kemudian menurunkan kepala sejajar dengan tinggi gadisnya. Mata mereka saling beradu, senyum manis tercetak jelas di wajah Aksara saat melihat bibir Aneth refleks sedikit mengatup.
"Dengerin aku, mama ngga akan judge seperti yang ada di pikiran kamu. Mama bukan tipe orang yang lihat sampulnya. Jadi apa adanya aja ya, seperti cutie pie biasanya." Aneth mengangguk, gugupnya sedikit terasa samar, tak seperti sebelumnya. Respon Aksara hanya tersenyum, senyum yang amat manis bagi Aneth. Tak berhenti disitu, Aksara semakin memoles kasih sayang dengan mengusap pucuk kepala Aneth gemas, hal itu membuat Aneth merasa dicintai dengan damai tanpa syarat.
Mereka kembali berjalan sesuai rute ruang dengan tangan yang kembali bertaut.
"Buahnya berat." Aksara lupa, dari tadi tangan Aneth membawa sekeranjang buah. Ia terbawa suasana sampai tak ingat bahwa pasangannya membawa beban.
"Maaf sayang, aku lupa. Sini." Aneth tersenyum manis. Padahal ia hanya berencana membuka topik, tapi malah Aksara memanggil kata keramat itu.
Di depan ruang tunggu, terlihat Vella yang duduk sendirian dan fokus bermain handphone. Mungkin mencari muka di depan namanya pikir Aksara. Tak ambil pusing, mereka melalui gadis itu tanpa menyapa.
"Ngga bilang halo dulu sama Vella?" tanya Aneth polos. Sebenarnya ia cukup kesal dengan sikap gadis itu tempo hari. Tapi ya sudahlah, toh ia juga sudah membalas dengan mendorong balik.
"Ngga usah, ngga penting." Aneth mengangguk. Baru saja tangan Aksara menyentuh gagang pintu. Suara keras Vella berhasil menghentikan langkahnya.
"Masih berani cari muka lo, pembunuh kak Alfa." mata Aksara menampakkan kilatan tajam, alisnya mengkerut seakan kata Vella terlalu sensitif. Ia kaget, begitupun Aneth.
'Kok masih di tuduh pembunuh sih, apa tante ngga cerita ke dia?'
"Pembunuh? Alfaska?" Aksara menatap datar Aneth. Bukan emosi, namun tatapan penuh tanya dan permintaan penjelasan.
"Bukan. Aku jelasin pelan pelan, kamu tenang dulu. Jangan emosi." sangkal Aneth cepat, Aksara mengangguk. Tak ingin membuat kekasihnya kembali merasakan sakit atas emosi yang gampang tersulut. Sebenarnya Aneth ingin menjelaskan hal ini ketika selesai dari Bali, namun Vella membuat semuanya hancur dan diketahui terlalu cepat.
“Udah ya, ketemu tante Alfi dulu setelah itu aku jelasin.” Aksara lagi lagi mengangguk sebagai jawaban. Mood nya benar benar hancur, ingin sekali rasanya meninju orang karena masalah sensitif yang dibahas Vella.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
