A²💜28

1.2K 27 0
                                        

Lanjutan yang kemaren ygy😅
Sorry telat banget.

**

'Ini gua mau minta maaf loh, tapi tuhan maha baik membolak balikkan pikiran. Bukan hati, happy dong gua si batu ngge-iya in. Tapi bener nggak sih? Ini halu apa gimana?'  monolog Aneth dalam hati sembari terus menganga lucu.

~~

"Ha? Gimana gimana?"

"Nggak ada pengulangan." Papar Aksara langsung berbalik menuju pintu, Aneth mendengus sebal sembari berjalan satu kaki untuk berganti pakaian. Gara gara si Hani sialan kakinya tak dapat berjalan seperti biasa. Kalau saja bukan karena ada janji dengan Elita, ia tak akan pernah mengemis bantuan dari laki laki sok dingin itu.

"MANUSIA BATU TUNGGU GUA DI RUANG TAMU, JANGAN PULANG DULU." Teriaknya lagi. Aksara hanya geleng-geleng kala mendengar suara itu. Sangat mirip dengan Arizka yang suka berteriak semena mena. Tunggu, tak biasa biasanya Aksara mau menuruti perintah orang. Tapi ini? Ah sudahlah. Mungkin jiwa malaikatnya tengah mampir karena jiwa tirani libur. Atau mungkin Aksara mulai suka dengan Aneth? Ahh lupakan, mungkin hanya kebetulan.

Tujuh menit kemudian.

Aneth menuruni tangga dengan bantuan penyangga di sampingnya, lengkap dengan penampilan yang seratus delapan puluh derajat berbanding terbalik dari yang sebelumnya. Yang awalnya piyama motif, kini berubah menjadi crop top hitam berbalut kemeja senada dengan bawahan jeans sobek, juga rambut di cepol asal semakin menambah kesan bad girl yang kini menjadi poin plus di mata Aksara. Di sisi lain, Aksara memandang dengan cermat tampilan gadis itu, bukan main. Tampilannya sangat berbeda dari apa yang Aksara lihat selama ini di sekolah. Hanya ada satu kata yang dapat mewakili 'cantik'.

"Kenapa lo? Naksir?" Aksara tersenyum smirk kala mendengar perkataan gadis itu. Ia mendekat, terus mendekat sampai sampai dapat merasakan deruan nafas gugup gadis di depannya. Bau stroberi dari rambutnya lagi lagi membuat Aksara candu.

"Mimpi." Bisik Aksara lalu kemudian pergi menuju dapur di kediaman Leksmana. Lain halnya dengan Aneth yang mati matian menahan kesal karena ulah dari laki laki batu yang sekarang resmi menjadi musuh adu bacotnya, di tambah perut sialan yang semakin merusak moodnya. Loh, bukan seharusnya Aksara pergi ke garasi? Ini kenapa manusia setengah batu itu malah pergi ke dapur? Wahh ada yang nggak beres nih.

"Kok lo pergi ke dapur? Woi batu, ish. Budek banget sih. WOI? YUHHU? MANUSIA SETENGAH BATU? AKS__"

"Berisik." Potong Aksara cepat. Kalau di teruskan bisa jebol nanti gendang telinga miliknya.

"Ya lagian lo budek, di panggil ngga nyaut." Maki Aneth setengah berteriak karena ketinggalan jauh di belakang. Tau sendiri kan kaki Aneth keseleo? Ya walaupun udah agak baikan sih karena habis di pijit tukang urut.

"Bi, minta tolong bubur di kamar sama obat dia Anter ke depan." Kata Aksara sopan pada salah satu maid yang bertugas khusus memberikan layanan 24 jam di dapur.

'Mampus, kenapa inget sih. Ini yang punya rumah gua, tapi kenapa nggak ada beban banget main minta sama bibi.'

"Baik tuan. Maaf, tapi nona ingin kemana?" Tanya Nilam penasaran, Nilam adalah salah satu maid di rumah ini.

"Mau cari angin mba, nanti kalau papa pulang bilang aja kaya biasanya." serobot Aneth mengedipkan sebelah mata, apalagi kalau bukan menginap di rumah Diara.

"Siap nona." Balas wanita itu sembari menyatukan ibu jari dan telunjuknya. Aksara tak mengindahkan percakapan dua wanita beda generasi di depannya. Ia hanya fokus pada benda pipih sejuta umat yang ada di genggaman tangan.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang