Double up buat kalian readers terchintongkohh..😂😂
happy reading friends and don't forget to comment if there is a typo😁
***
"Pah, apa kamu nggak terlalu keras dengan Aneth semalam?" tanya Laras pada Leksmana setelah melihatnya keluar dari kamar mandi. Laras tengah membenahkan sprei kamar, benar. Laras lah yang melihat dengan jelas dan mendengarkan dengan akurat semua perlakuan Leksmana pada Aneth dini hari lalu.
"Dia emang pantas dapat perlakuan seperti itu, biar sifatnya yang liar berubah." cerca Leksmana sedikit berapi api.
"Ya tapi kan nggak harus bilang seperti itu pah, apa kamu nggak mikirin perasaan dia kaya apa? Bisa aja kan dia kena musibah di jalan sampai sampai pulang nya telat." duga Laras menasehati suaminya. Memang ia sadar bahwa ia sangat di benci oleh Aneth, tapi rasa benci anak tiri kepadanya itu ia tepiskan, ia tak boleh egois, ia harus menunjukkan pada Aneth bahwa ia sangat menyayanginya. Walaupun statusnya adalah ibu tiri.
"Faktanya kan memang benar. Rambutnya acak acakan bahkan dia pakai sendal kamar yang bukan dari rumah, pulangnya juga sudah hampir pagi. Apa namanya kalau bukan bi__"
"Cukup pah, mama nggak mau papa ngucapin kata itu lagi. Rambut Aneth itu basah, wajahnya pucat. Papa nggak lihat kalau dia seperti habis tenggelam?" pungkas Laras menebak. Leksmana nampak menimang ucapan istrinya barusan. Memang bisa juga itu terjadi.
"Seharusnya kamu lebih menjaga emosi kamu pah. Aneth kan masih remaja, wajar banget kalau dia bertingkah semaunya, dan kita sebagai orang tua harus bisa bersikap lebih dewasa untuk menyikapi sikapnya."
"Makasih ya sayang, kamu udah sabar dan mau memperhatikan Aneth sama seperti kamu memperhatikan Afinda tanpa membeda bedakan mereka." ucap Leksmana mengecup singkat dahi Laras. Wanita itu mengangguk lalu keluar setelah selesai dengan rutinitas paginya. Ia ingin membantu Rina beserta maid lainya untuk memasak sarapan pagi.
*
Bola volly kini tengah melambung dengan tingginya di kediaman keluarga Wijaya. Kebiasaan yang sering di lakukan kala akhir pekan telah datang. Hanya di hari minggu semua aktifitas kantor dan sekolah di liburkan. Acara bermalas-malasan dan tidur tiduran Aksara terusik karena papanya tadi pagi menggedor kamar. Al hasih dengan malas Aksara wajib keluar. Kalau sampai ia tak menuruti, bisa jadi uang saku bulanannya akan di potong dan lebih parahnya lagi mungkin tak ia dapatkan. Sebenarnya ia juga bisa tak menuruti ucapan papanya dan uang saku jadi taruhan. Aksara termasuk golongan yang tak suka dengan jajanan, mentok dia hanya membeli rokok dan mi instan di warung kang Vay. Pemilik warung yang sering di datangi oleh anggota Araster. Dua puluh empat jam nonstop warung minimalis itu selalu terbuka lebar untuk menampung seluruh anggota Araster yang di bilang lumayan banyak. Mungkin kumpul kumpul mereka hanya untuk sekedar nongkrong. Tapi di dalamnya terselip rasa solidaritas yang mendalam. Dan mungkin ini adalah salah satu bukti bahwa kebahagiaan tak hanya bisa di beli dengan uang. Kebahagiaan akan muncul jikalau kita saling mempererat tali persaudaraan.
"Papa, Aksa, berhenti dulu. Ini mama bawaiin minuman." seru seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Alfiya wijaya. Ibunda Aksara. pertandingan pun terhenti dengan skor yang tercetak jelas lebih unggul Andhi wijaya dari pada putranya itu.
"Payah kamu, masa sama papa yang umurnya segini kalah." sindir Andhi pada Aksara telak.
"Masih ngantuk." dengusnya sebal. Andhi tertawa, putranya berkali-kali terkenal bola karena tak fokus, sekarang malah menjadikan ngantuk sebagai alasannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
