FOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎
INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT!
Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
Aksara keluar dari tempat rapat lima menit lalu, laki-laki itu masih mematung di atas jok motor dengan pikiran kosong. Bingung ingin melakukan apa karena jam baru menunjukkan pukul empat petang. Lima menit berlalu, ia turun dari jok motor. Berniat memakai mobil milik Varo yang sengaja di tinggal, baru ingin turun dari motor. Laki-laki itu dikejutkan deringan telfon dari ibunya.
'Mama? Tolong, gua ngga mau denger berita buruk.'
"Halo ma?"
"Bang adek keadaannya udah stabil. Dia berhasil keluar dari masa kritis dan sekarang mau di pindahin ruang rawat inap, jahitan di wajah dan tangannya juga udah mulai kering. Kamu bisa tenang sayang, mutiara kita aman."
"Mama ngga bohong kan? Sumpah ma aku seneng banget, seneng Ariz mau berjuang buat hidup lagi setelah semalaman stuck di masa kritis."
"Iya sayang, ini semua berkat pertolongan Tuhan dan bantuan dari orang orang yang sayang dan support adek. Kamu istirahat dulu aja, kalau kondisi Ariz membaik dalam semalam, 50 persen rencana awal pemindahan ke Singapore dibatalkan. Tapi tetap nunggu keputusan papa."
"Oke ma, Aksa faham. Maaf ma kalau semalam Aksa ngilang dan susah di hubungi."
"Abang, abang semalam nggak hilang, tapi istirahat di tempat yang tepat. Mama tunggu abang di rumah sakit ya, bawa Aneth kalau bisa. Mama kangen.'
"Kalau bisa ma, Aksa tutup telfon."
"Iya sayang."
Panggilan telfon terputus, senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Ia segera turun dari motor dan berlari untuk masuk kembali.
"WOI, ADEK GUA UDAH LEWATIN MASA KRITIS..!!" ujar Aksara semangat sementara lima temannya menatap balik Aksara intens.
"Lo serius?" Samuel mencengkeram kerah jaket Aksara.
"Gua ngga pernah se-seneng ini dapat kabar. Dan, kalo kondisi dia prima. Limapuluh persen keberangkatan ke Singapore dibatalkan."
"WOOOOOO!!!" sorakan senang menggema. Fadan membuang asal scrapbook, Leon dan Varo langsung menghamburkan deck of cards yang mereka jaga angkanya, Damian yang semula memakai jaket dan ingin pulang kini urung, ikut merayakan kesenangan. Mereka semua berpelukan dan bersalaman layaknya Araster, Araster yang kembali utuh saat salah satu raganya pulih.
"Gila, seneng banget gua. Harus traktir anak anak nih." kelakar Samuel senang.
"Gua juga, mau kirim cemilan buat anak anak di markas." Leon menimpal.
"Kalo gua, ganti helm temen temen yang rusak." Damian ikut bertutur.
"Gua bagi alat tulis gratis buat temen temen panti." Fadan ikut andil.
"Gua dan Aksa sumbang uang sama benerin bangunan panti." pungkas Varo. Mereka sama sama membuka kaleng soda dan cheers untuk merayakan perkembangan Arizka, adik tersayang yang nyawanya hampir hilang.
*
Laki-laki dengan berita baik itu benar benar turun dari lantai dua setelah berpamitan kembali, ia menukar motor dan memakai jeep Varo untuk menepati janji makan malam bersama Aneth. Hanya makan malam, selebihnya mau atau tidak di ajak ke rumah sakit Aneth lah yang memutuskan. Entah dengan alasan apa, Aksara sangat tak sabar memberikan berita ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.