"ANETH...!" Aneth mengusap mata sendu nya. Kemudian berbalik cepat karena panggilan seseorang. Vella, mengapa gadis itu kemari? Dengan tante Alfi pula. Dan itu? Raut sedih tante Alfi? Apa maksud semua ini.
"Lo ngapain disini, lo komplotan yang bunuh kak Alfa ya." tuduh Vella langsung mendorong Aneth, Aneth yang tak siap terhuyung kebelakang lalu jatuh. Alfi yang melihat hal itu sedikit tertegun, lalu sepersekian detik menolong Aneth yang tersungkur. Aneth terlihat marah, matanya meruncing dan alisnya sedikit maju ke depan.
"Maksud lo apa? Mulut lo pedes banget ya Vel." ujar Aneth balas mendorong Vella. Hanya dorongan pelan, namun Vella terjatuh di kubangan lumpur bekas hujan. Gadis itu meringis dramatis.
"Eh Aneth. Lu ngga usah bohong deh. Terus kenapa lo disini? Bukannya yang lo kenal pertama kali kak Aksa?"
"Ngga ada urusannya sama lo Vel. Mau gua kenal Aksa ataupun Alfa. Gua ngga perlu klarifikasi ke lo kan?"
"Udah jelas lo komplotan yang nyerang kakak kan. Ngaku lo!" tekan Vella, gadis itu bersiap mendorong Aneth lagi, namun karena Aneth sigap. Ia langsung bergeser dan akhirnya Vella jatuh dua kali.
"Tante sakit." adu nya memelas. Alfi diam saja sembari memandangi gadis itu iba. Tak mendapat perhatian, Vella pun berdiri sendiri dan menatap Alfi melas. sayang, separuh rok nya kotor karena kubangan bekas hujan.
"Vella oke? Kamu pulang aja ya, tante ngobrol sama Aneth dulu. Vella mandi dan ganti baju, itu supir tante nunggu di parkiran." Vella menatap sendu ke arah Alfi.
"Tante ngga papa aku tinggal sendiri?" Alfi tersenyum manis.
"Engga dong sayang, ada Aneth di sini. Kamu pulang aja ya."
"Ya udah tante, aku pamit ya. Sorry belum bisa nemenin berdoa di makam kak Alfa." Alfi mengangguk. Sepersekian detik Vella hilang dari pandangan. Wanita paruh baya itu menatap manik Aneth yang terlihat selesai menangis. Arah pandang nya pun masih tertuju pada nisan putranya.
"Kamu kenal Alfa ya?" Aneth terperangah karena suara Alfi.
'Jangan bilang, Alfa itu kakak Aksara. Ngga, ini terlalu mendadak ngga sih?'
"Tante kenal abang?" Alfi tersenyum.
"Kamu panggil Alfa abang ya?" Aneth mengangguk mantap.
"Abang yang selamatin aku dari panti dulu." Alfi kaget, benar-benar tak habis pikir. Apakah hidup Aneth semenyedihkan itu?
"Kamu ngga papa sayang?"
"Aman aja kok tan, emang dasarnya aku yang kabur dari rumah. Lupa jalan pulang karena keseringan di anter supir, sekalinya kabur jadi gelandangan. Akhirnya ketemu orang baik, di anter ke panti. Eh, pantinya sering di datengin abang. Akhirnya abang juga yang nemuin aku sama papa."
"Oh kamu anaknya pak Leksmana ya? Yang namanya Mitha? Dulu Alfa sering cerita kalo suka main bareng sama kamu. Di bantu cari cari sama kenalan papanya, ternyata kamu anaknya pak Leksmana yang hilang." Alfi senang mengenang masa itu, dimana putranya sering berbagai cerita tentang anak gadis yang sebal dengan ayahnya.
"Oh iya tante, aku minta maaf banget tadi dorong Vella. Kesel aja dibilang komplotan pembunuh abang." tandasnya memberi alasan. Alfi tersenyum.
"Ngga papa sayang. Tante faham kok. Aneth mau ngobrol sama tante? Didepan ada coffe shop, kalo Aneth berkenan bisa banget. Tante juga kangen banget sama Aneth. Gadis itu tersenyum canggung. Mereka berjalan beriringan, meninggalkan puluhan gundukan tanah yang tiap tandanya memberikan kesedihan bagi seluruh manusia yang ditinggal.
"Tante ngga curiga kaya Vella tadi? Bisa aja aku komplotan pembunuh abang." Alfi tersenyum sembari mengusap rambut Aneth yang tertutup hoodie. Ia kembali mengingat masa itu, masa dimana Alfaska menceritakan pertemuannya dengan Aneth.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
General FictionFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
