A²💜32

1.1K 29 1
                                        

"Kakek lo di rawat di ruang mana?" tanya Aksara membuntuti Albern yang berjalan di depannya.

"VVIP 5." balas Albern singkat, Aksara manggut-manggut, itu berarti ruangan kakek Albern tak jauh dari ruang Aneth.

"Tadi malem lo kemana aja?"

"Kepo."

"Dasar boncel, pake main rahasia rahasiaan segala lo sama gua." cibir Albern tak terima sembari mengacak rambut Aksara kasar.

"Tsk, rambut gua bang." cercanya tak suka.

"Ngga denger. Ngga punya kuping." balas Albern berjalan mendahului Aksara.

Mereka berdua sampai, tanpa diminta Albern membuka pintu kaca dengan interior indah didepannya. Bahkan jika orang-orang awam melihatnya, Gedung ini lebih mirip penthouse dari pada rumah sakit.

"Mi, opa." panggil Albern dari daun pintu.

"Albern ya?"

"Iya, ini Al bawa teman." ujar anak kuliah itu pada opa-nya.

"Ajak masuk Al." sahut mami Albern dari dalam. Memang ruang VVIP ini di lengkapi dengan gorden yang dapat di lepas pasang, dan kebetulan gorden itu tengah di pasang dan menutupi brankar opa Albern. Maka dari itu wajah Aksara dan Albern tidak kelihatan.

"Siapa Al temennya?" tanya Shofia, mama Albern. Wanita itu fokus menyuapi mertuanya sampai tak sempat menengok ke arah putranya.

"Aksara mi, adik Alfa." refleks Shofia berbalik badan setelah selesai menyuapkan sendok terakhir bubur pada opa Albern. Wanita itu tersenyum ramah. "Papa istirahat ya, aku nyapa temen Albern dulu." pamit wanita itu dengan mertuanya. Sang mertua pun mengangguk setuju.

Shofia membuka tirai, alhasil nampak putranya tengah meneguk segelas air mineral dan Aksara yang tengah duduk anteng sembari bermain ponsel. Sepersekian detik Aksara mendongak, pandangan Shofia dan Aksara saling bertemu. Benar-benar awkward. Di mata Aksara, Shofia sedikit berubah dengan tampilan rambut yang pendek. Sementara di mata Shofia, hal yang pertama kali ia lihat dalam diri Aksara adalah siluet Alfaska. Yep, Alfaska. Anak laki-laki baik yang telah ia anggap seperti anak sendiri. Sontak bayangan beberapa tahun silam terputar dalam otak Shofia.

Beberapa tahun lalu

Semua orang nampak tegang dengan perasaan campur aduk ketika dua orang penting dalam Araster di kabarkan mengalami pengeroyokan masal. Sama halnya dengan Alfi dan Shofia, dua wanita itu saling menguatkan diri dengan cara berpelukan karena jagoan mereka tengah sama-sama berjuang.

"Ma." panggil Aksara pada ibunya, laki laki itu baru saja datang dengan baju yang acak acakan. Sontak Alfi memeluk putranya masih dengan tangis yang histeris.

"Sa, abang mu." adu-nya terus menerus dengan tangisan yang tak dapat terbendung.

"Iya, Aksa tau kok ma. Alfa berjuang di dalem sana. Kita doa bareng bareng ya biar Alfa sembuh."

"Iya, kita doaaa. AYO SEMUA DOA. DO'AIN ALFA DAN ALBERN SUPAYA MEREKA SEMBUH." teriak Alfi frustasi. Fikiran nya benar-benar buntu ketika mengetahui putra pertamanya di keroyok dan mendapat dua luka tusuk di bagian dada dan perut, berita ini sampai pada kediaman Aksara tepat satu jam saat Aksara mendadak pergi. Dan seketika pesta anak laki-laki itu hancur, banyak dari keluarga khususnya perempuan menangis histeris. Bahkan Alfi sempat pingsan karena shock. Semua orang di sana menunduk dan berdoa dengan keyakinan masing-masing, mengharapkan secercah belas kasih Tuhan, dan berharap dua orang di dalam sana selamat.

Ceklek (suara pintu UGD yang di buka)

"Dok, gimana keadaan anak saya dok?" tanya Shofia dengan suaminya yang menyusul dan merangkulnya. Sama halnya dengan Alfi yang langsung melepas pelukan dari Aksara dan berlari menuju dokter.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang