A²💜69

138 4 0
                                        

Doa kan bisa up tiap hari ya met😣

**

Suara rana kamera terdengar silih berganti. Tak hanya satu ponsel, hampir semua bergantian mengabadikan momen itu dengan kamera masing-masing. Ada foto bersama, foto bertujuh, foto berdua, bahkan beberapa foto candid yang berakhir dengan gelak tawa karena selalu ada saja ekspresi aneh dari salah satu di antara mereka.

"Ganteng banget gua." Leon mengangguk puas memperhatikan hasil foto di layar ponsel. Senyumnya melebar ketika mendapati foto foto aneh bin nyeleneh. Ada pula satu foto yang menarik atensi, sehingga tawa tak dapat ia bendung.

"Hahaha!" tawa Leon pecah begitu saja. Varo yang sedang memasukkan ponselnya ke saku langsung menoleh.

"Kenapa lagi nih anak?" gumamnya heran. "Le, jangan kumat di sini lah." Leon langsung melotot horor.

"Jaga alat bicara lo, Par."

Aksara yang berdiri di samping Aneth terkekeh pelan. "Fomo lu, itu kan kalimat gua." Aneth spontan menoleh ke arah laki-laki itu. Sudut bibirnya terangkat geli.

"Sejak kapan kalimat itu jadi punya dia hihihi."

"Udah sini mpruy, gua punya rahasia." Leon mengulurkan ponselnya ke arah Varo. Varo menerima dengan alis berkerut. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada gengsi.

"Nyimpen rahasia apa sih lu." baru beberapa detik menatap layar. Pupil mata Varo melebar.

"Hahahahaha" Tawanya langsung pecah.

"Sialan, ngakak banget gua." Samuel yang sedari tadi hanya menjadi penonton langsung mendekat.

"Sini, gua lihat." sepersekian detik berlalu, Samuel ikut tertawa.

"Pftt__" Ia buru-buru menutup mulut sembari melirik Fadan dan handphone bergantian. Saking parahnya menahan tawa. Bahu Samuel bergetar hebat.

"Apa sih?" Damian yang mulai penasaran langsung merebut ponsel dari tangan Samuel.

"Heh!"

"Balikin woi!" sungut Leon berusaha mengambil kembali ponselnya. Namun sayang, refleks Damian lebih cepat, matanya menyipit memperhatikan foto itu.

"Khm. KHM KHM..!" Damian berdeham beberapa kali, berusaha untuk terlihat serius. Sayangnya, sudut bibir miliknya tetap terangkat. Cepat-cepat Damian memalingkan wajah sejenak, berusaha menahan tawanya sendiri sembari berjalan beberapa langkah mendekati Fadan, Aksara, dan Aneth.

"Lihat sendiri dah."

"JANGAN, DAM!" Leon hampir melompat merebut ponselnya. Gatcha, dapat. Laki-laki itu bernafas lega.

"Apa sih kak?" tanya Aneth penasaran. Damian hanya mengangkat bahu pura-pura tak tahu.

"Tanya aja sama yang punya."

"Ngga ada Neth, biasa urusan cowok." Aneth ber oh ria. Toh juga tak penting.

"Coba sini, gua mau lihat." Aksara meraut ponsel di genggaman Leon.

"Pftt..." Sudut bibirnya terangkat. Ia menoleh ke arah Aneth sambil memutar layar ponsel itu.

"Kamu mau lihat kan sayang." Aneth mendekat sedikit. Begitu melihat foto yang dimaksud. Cepat-cepat Aneth menutup mulutnya sendiri.

"Jahat Asa itu. Cepetan hapus!" Aksara menggeleng kecil sambil menahan tawa.

"Nggak bisa. Ini wajib dilihat Arizka."

"Jangan lah, iseng banget." omel Aneth mencubit pelan lengan laki-laki itu. Aksara tertawa.

"Kamu KDRT cutie pie." Aneth tertawa mendengar penuturan Aksara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 20 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang