Selamat pugu🙌🏻
**
Aksara keluar dari garasi dengan wajah kusut. Pagi damainya dirusak sekumpulan manusia pecicilan. Belum lagi pacarnya yang semalaman tak mau di hubungi karena sifat temperamental nya kumat.
Sorot elang Aksara menatap sinis beberapa penjaga, nyali mereka lumayan ciut. Semenjak dua tahun belakang, jika tatapan Aksara tak bersahabat, biasanya akan ada yang dipukuli. Hal ini lambat laun menjadi lumrah karena Aksara temperamental.
Singkat cerita, awal mula Aksara hanyalah seorang anak laki-laki biasa, anak yang di didik dengan penuh cinta oleh kedua orang tuanya. Hidupnya baik, keluarganya rukun dan harmonis. Tapi setelah Alfaska meninggal tepat dihari ulang tahunnya, ia menjadi gampang marah dan suka melukai orang. Setelah di bawa ke psikolog, ternyata Aksara divonis menderita penyakit mental Intermittent Explosive Disorder (IED), yaitu gangguan kontrol impuls yang ditandai dengan ledakan amarah, agresi, atau kekerasan fisik yang tidak proporsional dengan pemicunya. Pada kasus trauma atau kehilangan yang berat, seseorang dapat mengalami ledakan kemarahan spontan sebagai respons terhadap kesedihan yang terpendam. Dan itu awal mula Aksara memilih menjadi ketua Araster. Mengantikan kakaknya dengan niat untuk balas dendam. Awalnya emosi itu tak terkontrol, tapi karena terapi mingguan. Situasi gawat perlahan memudar, Aksara lebih bisa membawa diri, walaupun kadang lepas kontrol.
Biasanya Andhi yang akan memisah ketika penyakit ini kambuh. Kemudian menghukum atau membawanya kembali untuk terapi mingguan. Tapi hari ini Andhi tak ada di rumah. Beberapa bulan lalu orang tua Aksara sempat mengkonfirmasi bahwa penyakit itu sembuh. Tapi ketakutan masih melayang di pikiran para staf, dan itu nyata adanya.
"Pagi tuan muda." sapa salah satu bodyguard memberanikan diri.
Aksara mengangguk. Masih dengan wajah tertekuknya. Ia memberi isyarat bukalah gerbang selebar mungkin.
Semua ajudan bernafas lega, memang benar. Tuan muda mereka sembuh.
"Syukurlah, ternyata penyakit itu benar-benar sembuh." bisik salah satu staf. Penyakit ini tak ada yang tahu. Bahkan Varo, sahabat-sahabat Aksara pun tak tahu. Mereka hanya tahu sifat Aksara memang suka meledak-ledak.
"Aku pun tak menyangka ternyata ada hal ajaib seperti ini." balas yang lainnya.
"Diam kalian, teman-teman tuan muda datang."
Para penjaga yang terlihat bergosip kembali berdiri tegak. Mereka menyapa teman teman Aksara yang terlihat lebih seger dari tuan muda mereka.
"Aksara kalo berangkat emang pagi banget pak?" tanya Damian pada dua staf yang berjaga di garasi.
Staf itu mengangguk. "Tuan muda selalu keluar di jam enam lebih lima belas." Damian mengangguk.
"Pantes tu bocah kaga pernah telat." Leon berbicara sembari menatap kagum punggung Aksara.
"Mentok sengaja nelat." tanggap Damian.
Kebiasaan Aksara berangkat jam enam lebih lima belas sudah tak perlu di ragukan, para staf yang berjaga pun sampai hafal. Mungkin ini terdengar aneh untuk ukuran ketua geng yang biasanya urakan. Tapi Aksara tetap memegang prinsip, pergaulan boleh liar, tapi pendidikan lebih utama.
Deru motor mulai memecah kesunyian komplek. Pun dengan teman-temannya yang telah mengekor di belakang sudah siap dengan kuda besi masing-masing.
"Muka Aksara kecut bet. Kek cucian ngga kena matahari." ujar Leon.
"Shut.. Diem lu, ngga inget tadi sendok dibanting? Masih untung wajah jelek lo ngga dipukul." sarkas Samuel. Mood Aksara benar-benar naik turun, sarapan tadi ketika Damian memberitahu bahwa mereka bisa ke Bali wajahnya begitu girang. Tapi lima menit berselang moodnya rusak ketika memeriksa chat semalam yang hanya di read oleh Aneth. Suasana sempat cair lagi ketika Leon melawak. Tapi kembali ke titik awal kala Aksara melirik benda pipih berlogo apel setengah gigit itu. Benar-benar bucin.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
