A²💜44

693 7 0
                                        

Aku mau lanjut nulis lagi setelah 3 tahun mood mood an, jadi enjoy ya Wpiaa🤗💜

**


Aksara berjalan gontai ke arah parkiran, berniat menyusul motor yang semalam nangkring santai dalam basement apart. Ia merasa sedikit beruntung, ditengah huru hara kasus bully Arizka dan penyerangan dadakan markas ternyata masih ada Aneth yang mau menemani dan memberikan senyuman hangat padanya. Entahlah, mungkin Aksara memang jatuh cinta untuk pertama kali pada gadis itu. Aksara mengetik beberapa pesan.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aksara menyudahi kegiatan membalas pesan, berniat cepat guna membereskan masalah yang membeludak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aksara menyudahi kegiatan membalas pesan, berniat cepat guna membereskan masalah yang membeludak. Motor itu melesat jauh dengan bayang pemilik yang ikut lenyap. Ahh rasa ingin putar balik ke apartemen Aneth benar-benar menggebu dengan alasan hanya di sana masalah itu lenyap seketika. Aksara mampir ke supermarket yang sempat ia singgahi tadi, mengambil beberapa camilan dan soda ringan lalu membayarnya. Selesai dengan kegiatan itu, ia kembali ke tujuan awal, menyusul ke markas. Dua puluh menit menerjang panasnya Jakarta, laki-laki itu sampai di sebuah rumah komplek, beberapa orang dengan cepat membuka gerbang dan menyapa Aksara, ia menganggukkan kepala singkat dan langsung memarkirkan motor ke garasi. Turun dari motor dengan tangan kanan yang menenteng kantong camilan, terus berjalan tegap tanpa menutupi netra yang lurus  kedepan semakin menambah aura maskulinnya.

"Dateng juga akhirnya lu Ksa." Damian memecah keheningan tatkala siluet Aksara berhasil menyita perhatian. Aksara dan Damian kemudian ber-tos ria ala Araster, bergantian dengan Samuel sembari menunggu yang lain keluar. Sepersekian detik, Leon turun dari lantai atas dengan stelan celana pendek dan singlet nya. Varo masih berstelan lengkap namun rambut awut awutan berhasil membuat mereka yakin laki-laki itu baru bangun tidur. Fadan keluar dari kamar depan dengan sketchbook di tangan yang tak pernah absen. Tempat ini adalah rumah Varo yang sengaja tak di huni dan biasanya di gunakan untuk transit anggota papa nya yang tengah menunggu pekerjaan baru. Dengan izin dari sang ayah, tempat ini berhasil mereka miliki dengan benefit kamar yang lebih dari sepuluh pintu.

"Thanks snack nya, gua ambil." ujar Samuel merampas snack di atas meja dengan soda ringan di tangan kiri nya. Mereka mulai melingkar di atas karpet. Ya, duduk layaknya api unggun saat persami di sekolah.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang