Sorry menghilang dari lane dua minggu lebih, aku liburan guysss jadi ngga bisa di ganggu xixi
Terimakasih yang sudah menunggu
HAPPY READING
**
"YA AMPUN ANETH, GUA LIAT LIAT LU MAKIN LENGKET AJA YA SAMA KETUA GENG SEBELAH." teriak Naisa penuh ambisi ketika Aneth meletakkan ranselnya diatas meja.
"Pagi pagi Isa. Bisa santai ngga?" gadis yang di panggil Isa itu cengengesan.
"TAPI GUA BUTUH PENJELASAN ANETH." teriak Naisa pas di depan wajah Aneth. Aneth yang tak siap langsung menutup mulutnya dengn kedua tangan.
"Emang nafas gua bau ya?" Naisa mendadak overthinking.
"Iya." satu kata dari Aneth berhasil membuat Naisa panik.
"Omo, kenapa ngga bilang? Malu, ah nyesel sarapan rendang. Hah hah, ngga bau kok." tawa Aneth pecah. Pun Diara dan Raliya yang terus menyimak juga sama.
"Emang bau ya Di?"
"Dasar bego. Lu di bohongin Isa." tawa Diara dan Aneth langsung terdengar. Benar-benar puas dengan ekspresi Naisa.
"Bangga banget gua, kalo aja dulu dia ngga kecebur. Pasti sampe sekarang masih jomblo." menyudahi tawa, Raliya berbicara demikian. Sontak Aneth menatap sinis sahabatnya itu.
"Itu mulu yang di inget." tandas Aneth garang. Sedangkan Raliya hanya tersenyum dengan deretan gigi putihnya yang mulai terlihat.
"Ceritain dong, lo ngapain tadi? Kok pake mini Cooper pacar gua?" Raliya bertanya karena penasaran.
"Males ah, mau gua keep sendiri."
"Lu gua cekik ya Neth." Naisa mengancam, refleks Diara dan Raliya melotot ke arah gadis itu.
"To much Isa." Naisa kembali cengar-cengir. Aneth tertawa.
"Oke oke gua cerita."
Flash back on
Aksara memarkirkan mobil tepat disamping gerobak dorong. Matanya fokus pada Aneth yang mulai sigap melepas seatbelt.
"Cutie pie jangan keluar, tunggu aku dulu." Aneth mengangguk patuh, sungguh bubur ayam di belakang membuat perutnya keroncongan.
Pintu mobil di buka Aksara perlahan. "Yuk turun. Tas nya di tinggal aja." Aneth kaget, tumben sekali Aksara bersikap manis dengan membukakan pintu mobil. Ah sudahlah, mugkin suasana hati Aksara tengah baik.
"Terimakasi Asaaa." ucap Aneth manis. Aksara mengangguk dengan seutas senyum, kemudian menggandeng tangan Aneth layaknya anak sd yang ingin menyeberangi jalan.
'Se digandeng ini ya? Hihi, lucu juga. Berasa jadi anak tk.'
"Mang, buburnya ada kan?"
"Masih atu. Oh ini... Neng bagja pisan, kahareup kabogohna bageur. Neng ngagaleuh bubur sadayana, supados abdi tiasa mudik heula." Aneth dan Aksara saling tatap seperti ada kode rahasia, dua sejoli itu kembali menatap depan dengan senyum misteri karena bingung dengan perkataan pedagang itu. Bagaimana tidak, Aneth lahir di Malang dan besar di Jakarta. Lingkungan sekitarnya pun menggunakan campuran bahasa Indonesia dan Jawa, tak ada Sunda sama sekali, maka dari itu ia tak faham. Sedangkan Aksara, laki-laki itu besar di Jakarta dengan pendidikan khusus bahasa Inggris sejak umur dua tahun. Di rumahnya pun pelayan dan bodyguard wajib berbahasa formal.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
