A²💜60

174 2 0
                                        

Pesawat berangkat lebih cepat dari dugaan Aneth. Matanya menatap teduh hamparan awan di langit lepas. Bibirnya tertarik, membentuk lengkungan indah favorit Aksara. Ia mengalungkan bantal leher, berniat tidur sebelum sampai di Bali walaupun kurang dari satu jam pasca take off.

"Neth." Aneth berdehem singkat tanpa membuka mata.

"Nethh." panggil Dina sekali lagi dengan tangannya yang terus mengguncang paha Aneth. Mau tak mau netra itu terbuka.

"Apa sih Din? Mau tidur nih."

"Kon ta iki?" (ini lu?) Dina menunjukkan layar smartphone cepat, mata yang semula sayu kini segar kembali, saking segarnya sampai hampir keluar dari tempat. Dina lahir di Tuban, salah satu kota kecil di Jawa timur, ia lumayan fasih berbahasa jawa. Sedari sd ia di ajak ayah ibunya merantau ke Surabaya karena urusan pekerjaan, dan saat sma ia pindah ke Jakarta dengan alasan yang sama pula.

"Kok bisa trending di fanbase sekolah." Dina menonyor jidat Aneth tanpa permisi.

"Udah gede makin tolol. Ya karena cowok di samping elu ini perkaranya." Aneth mengernyitkan alis bingung.

"Lapo'o, aku lo cuma maem sego uduk." (Kenapa? Orang gua cuma makan nasi uduk) 

"Gobloknya tuh ngegoblok banget." Aneth mengernyit bingung.

"Gimana? Masih belum paham letak viralnya."

"Samping lu siapa?"

"Pacar gua." jawab Aneth berbisik.

"WHAT?!" Aneth membekap mulut Dina paksa. Netra manis itu refleks mengedar, bibirnya tersenyum paksa dengan sesekali mengangguk, isyarat minta maaf dengan beberapa penumpang yang kaget.

"Mulutnya kebiasaan banget." Dina meringis.

"Sejak kapan?"

"Apanya?"

"Pacarannya Neth."

"Oh... Seminggu lalu." mata Dina makin melotot.

"Temen temen lu dah pada tau?" Aneth memamerkan gigi putihnya.

"Belum sempet ngasih tau." jidat Aneth lagi-lagi di tonyor.

"Yee gendeng kon." ujar Dina dengan bahasa Surabaya yang khas. (Yee gila lu)

"Lah, aku di arani gendeng." jawab Aneth tak terima. (Lah, gua di katain gila)

"Masalah e ngene loh Neth, arek-arek iku kan konco mu yo. Lek misal gak kon kandani opo gak kecewa coba? Mikir tala cah ayu, ojo kok cuma mikir climb tok." Dina sedikit menceramahi, gadis itu tak mau pertemanan Aneth yang sudah ia anggap adiknya ini hancur karena sikap semena-mena nya. (Masalahnya gini loh Neth, anak anak itu kan temen lu. Kalau misal ngga lu kasih tau apa ngga kecewa? Mikir dong cantik, jangan cuma mikir climb doang)

Aneth meringis, ia baru menyadari bahwa ini sesuatu yang lumayan besar. "Mari landing tak bilang." (selesai landing gua ngomong)

"Temen yo, ojo di awak pokok." (beneran ya, jangan awuran)

"Iyo Din, crewet."

"Bene, kon di___"

"Bentar-bentar, kalian ngomong apa sih? Bahasa alien?" ucapan Dina terjeda karena Dimas yang sedari tadi menyimak makin tak paham arah pembahasan.

"Diem lu, urusan cewek."

*

"Akhirnya nyampe hotel." Dina membaringkan dirinya di atas kasur dan melepas barang sembarangan. Berbeda dengan Aneth yang langsung duduk dan membuka handphone untuk mengabari teman-temannya.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang