A²💜15

1.5K 33 0
                                        

Happy reading all....
Kalau ada typo bertebaran jangan sungkan komen yapp..
Please tinggalin jejaknya ya.
Bintang di pencet.
Awas kalau nggak di pencet,
Aku sulap jadi hamster
Canda hamster. Wkwkwk

***

Pukul sebelas siang. KLX orange hitam itu bertengger manis dalam basemant lusuh salah satu gedung tua berlantai tiga. Yap, kali ini Aksara keluar mengunakan motor trellnya. Ia berjalan santai menuju ke dalam. Di depan gedung ada dua orang penjaga yang siap menyambutnya. Siapa lagi kalau bukan anak buahnya dari Araster. Gedung tua itu adalah salah satu dari empat markas besar rahasia yang hanya bisa di datangi dan di ketahui anggota kepercayaan Araster saja.

"Ajay, Doni?" ucapan Aksara melambung ke udara, kaget? Sudah pasti dia kaget. Bagaimana tidak, Ajay dan Doni adalah orang yang selama ini ia percayai setelah ke lima sahabatnya. Sontak semua orang yang dari tadi menunggunya menatap ke arah sumber suara. Mata Aksara menggelap, emosinya berada di puncak ubun ubun, tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih. Wajahnya? Sudah pasti tetap tenang walaupun penghianatan yang di lakukan oleh dua orang itu sudah tak bisa di toleransi. Nyali Ajay dan Doni seketika menciut, di lihatnya Aksara nampak tenang tapi menyiratkan mimik berapi api menahan Amarah yang siap membeludak kapan saja. Dan sasaran empuknya adalah mereka.

"Dateng juga Akhirnya." guman Damian mengembangkan senyum simpul.

"Abisin aja udah." cletuk Samuel yang di balas plototan dari Ajay dan Doni.

"Ngapain aja mereka Dan?" Aksara bertanya pada Fadan yang sedari tadi diam. Perkataanya malah seperti polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.

"Mereka ketahuan nongkrong sama Tigeral, ngebocorin tempat markas baru kita, ngasih tahu strategi tawuran yang kita susun dari jam dua belas malam sampai pagi. Dan, mereka adalah dua dari tujuh puluh lima orang yang berhasil ngeroyok abang lo." jawap Fadan tegas tak bertele tele, di tambah pemaparan akhirnya berhasil membuat Aksara naik pintam. Tak ada yang di tutup tutupi. Fadan adalah tipekal orang cuek, tak banyak bicara alias pendiam. Seketika wajah Aksara yang tenang berpusar pada titik kordinat dua penghianat. Eaak kok kaya rumus matematika sih.

"Maksud lo apa?" kalem namun menusuk, itu lah yang sekarang dapat menggambarkan raut Aksara sekarang. Bogeman mentah di perut, Aksara luncurkan pada Doni. Doni sempat terhunyung ke belakang lalu bangkit kembali. Sorot tajamnya kini tertuju pada Ajay.

"Apa lo berdua masih belum ngerti prinsip yang di junjung tinggi Araster?" sentak nya tajam mulai menampakkan jiwa tirani nya.

"Bajingan, penghianat!" caci Aksara lalu dengan sarkasnya meninju rahang kokoh Ajay. Aksara terus membabi buta, dengan sigap. Dua laki laki yang telah di pukuli teman temanya ia pukuli kembali. Remuk sudah tulang muda ku.

"Maafin kita Ksa." pinta Ajay pada Aksara memelas. Mereka sudah babak belur dan terkapar lemas di lantai. Sudut bibir Doni mengeluarkan darah, sementara Ajay di bagian hidung. Aksara tersenyum smirk melihat lawannya yang sudah tak berdaya. memenderitakan musuh adalah salah satu jalan yang di pilih Aksara untuk melampiaskan kemarahan.

"Bacot!" geram Aksara masih berapi api.

"Gu- gue minta maaf." sambar Doni yang masih terkapar, tak kuat untuk berdiri lagi.

"Maaf?" Aksara terkekeh. "Basi!" umpat nya lantang, mengisyaratkan jika ada yang berani melawannya akan berakhir seperti Doni dan Ajay. Semua orang di markas hanya diam, tak ada yang berani berbicara. Jika Aksara marah, tak akan ada yang berani mendekatinya, jika masih ada yang berani, siap siap kalian lah yang akan menjadi sasaran keduanya.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang