FOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎
INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT!
Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
"Sa, coba cek temen kamu di atas, udah bangun apa belum?" titah Alfi melihat Aksara yang hendak turun tangga, Alfi tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berempat. Termasuk Aneth.
"Males mah." tolak Aksara sopan, mata panda itu sekilas nampak lebih menghitam. Dua hari ini Aksara hanya tidur beberapa jam saja. Kemarin ia tidur satu jam karena mengantar gadis jelmaan setan itu pulang setelah insiden nyemplung di kolam Damian. Malam tadi ia juga tidur satu jam karena sampai di rumah pada pukul tiga pagi. Di susul suara bedug dari masjid serta Adzan otomatis yang ia stel di pengaturan ponselnya. Alfi geleng geleng sembari berkacak pinggang melihat putranya dari atas sampai bawah. Memang ia sudah lengkap mengunakan atribut sekolah, tapi penampilan dari atas sampai bawah tak layak seperti seorang pelajar. Mulai dari rambutnya sehabis keramas tak di keringkan, dasi mencong seperti orang frustasi karena di phk, seragam yang di balut jaket hitam keluar awut awutan, sepatu converse itu pun berwarna merah, bukan hitam yang semestinya di pakai anak sekolahan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kira kira jaketnya kek gini ya man teman. Yang bagian dasi sama lainya di bayangin sendiri aja. Wkwkwk.
"Kamu mau kemana?" tanya Alfi tak menatap sama sekali kepada yang di ajak bicara karena dia masih sibuk dengan masakan yang di hidangkan.
"Mau sekolah lah ma, mau kemana lagi?" balas Aksara bingung, udah jelas pakek seragam kok di tanya mau kemana.
"Mau sekolah atau mau tawuran?" tebak Alfi mulai gedeg dengan sikap putranya yang suka seenak jidat. Aksara tak menanggapi ucapan mamanya yang memang ada benarnya, mamanya ini dulu sekolah jurusan suketi dan cenayang atau sebagainya apa gimana sih?
"Pagi mama, pagi Abang Sa_" gantung Arizka yang barusan turun dari tangga dan duduk di samping Aksara. "Mpah." lanjutnya mengakhiri kalimat Sa yang ia gantungkan. Kata Arizka, mengatai Abang tripleknya adalah kewajiban yang harus di lakukan olehnya setiap hari. Aksara menjitak pelan kepala Arizka.
"Yang ada elo, sampah keluarga." sekali balas langsung savage. Aksara dengan teganya memasukkan satu roti isi penuh coklat ke mulut Arizka. Arizka mendengus sebal dengan mulut blepotan yang di penuhi roti berselai coklat. Untung toa masjid berlabel mulut itu telah di sumpal. Kalau tidak, akan terjadi adu mekanik yang menyebabkan Alfi banting piring karena terus mendengar ocehan Arizka yang mirip petasan lima ribuan di warung tante Jum. Janda tua beranak lima yang di ceraikan suaminya karena tak tahan istrinya sering di goda oleh suami tetangga.