Author up lagi...
Maaf juga ya aku jarang up😅
Jangan lupa
Vote + coment ya.
Kalau ada typo bertebaran jangan sungkan sungkan komen😇😇
Happy reading guyss
***
Deru motor melaju pesat melewati jalan raya yang telah sepi, spedometer mencapai angka 100 membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri. Ego dan hatinya tengah adu mekanik. Si ego berkata tak usah memperdulikan gadis itu, tapi hatinya? Sialan, kenapa ini! Ini bukan Aksara, ini bukan dirinya.
Ckitttt
Decitan rem yang saling bergesekan menimbulkan bunyi nyaring. Ia mengerem motor berkecepatan tinggi itu mendadak karena lampu merah di depannya menyala. Kepala itu rasanya ingin pecah padahal baru memikirkan seorang gadis kecil, lebih baik ia memikirkan buku buku tebal berisikan rumus dari pada ini.
Aksara mengumpat kesal di balik helm full face yang ia kenakan. Untung terhalang helm, kalau tidak. Pasti beberapa orang yang ikut berhenti di lampu merah mengatainya gila karena terus mengumpat tanpa mau berhenti untuk berucap. Dua menit kemudian, lampu merah itu berganti warna menjadi hijau. Aksara dengan sigapnya memutar motor untuk mencari si biang masalah. Kali ini egonya yang tinggi harus kalah dengan hati.
"Arrrght.... tuh cewek ke mana sih?" Aksara mengacak rambutnya frustasi setelah melepas helm full face yang ia kenakan lalu berhenti di pinggir jalan. Setengah jam ia mencari. Dan setengah jam pula batang hidung itu tak kelihatan. Untung besok hari minggu, jadi ia bisa tidur sepuasnya tanpa mementingkan telat pergi ke sekolah.
*
Sementara di lain tempat, Aneth telah mati kebingungan sembari terus mengabsen satu per satu nama nama hewan. Pasalnya tak ada satupun taksi atau kendaraan yang lewat di tempat yang ia singgahi. Jangan lupakan keadaan yang gelap. Aneth benci hal itu. Catat, sangat membenci kegelapan.
"Duh.. kok sepi ya, gua kira rame. Jangkrik nggak ada yang mau nyanyi lagi." runtuknya pada diri sendiri sembari terus berjalan menyusuri jalanan sepi. Ia memeluk tubuhnya yang kedinginan. Bagaimana tidak? Heyy... Ini larut malam, otomatis udara akan berhembus lebih kejam. Bahkan kaus oversize dan denim selutut juga sendal bulu yang ia kenakan tak ada manfaat nya sama sekali. Berjalan sendiri tanpa arah itu tak enak. Sial adalah kata kata yang terus ia runtuki. Kalau sudah begini siapa yang harus di salahkan? Aneth pun yakin kalau teman temanya pulang atas perintah bos tirani gila itu setelah mengganti pakaiannya, Siapa lagi kalau bukan dia? Secara, dia adalah orang teraneh dan paling menyebalkan dari orang orang yang pernah Aneth temui. Tapi, apa benar Aksara yang meminta mereka pulang? Ahh mungkin benar. Kalau tidak, siapa lagi yang mau mengantikan dress nya dengan pakaian casual ini kalau bukan teman temanya. Ahh.. Lupakan saja.
Di sinilah Aneth sekarang. Duduk di salah satu halte kosong tak layak huni. Ketakutan, itulah hal yang sekarang ia rasakan. Aneth mulai putus asa karena mungkin ia akan bermalam di sini sampai pagi, takut? Iya lah. Siapa yang tak takut sendirian di tempat sepi. Ia tak apa jika harus bergelut dengan nyamuk, tapi kalau sampai ada preman bagaimana? Memang ia bisa bela diri, tapi jika jumlah preman lebih dari satu bagaimana?
Gadis itu memberanikan mental dengan duduk dan bersandar di dinding halte sembari menelungkup-kan kepalanya dan memeluk lutut sendiri. Berjalan tanpa arah sungguh menguras tenaga. Aneth masih bergelut dengan hatinya, berusaha meminimalisir rasa takut. Tapi apa? Egonya kalah, ia lemah dan mulai terisak pelan. Meskipun ia tangguh dan terbilang cuek, Aneth juga wanita biasa, ia juga bisa menangis ketika merasa terancam.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
Fiksi UmumFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
