Aksara merasa terusik ketika cahaya matahari yang begitu silau mengenai wajahnya lewat sela gorden. Laki-laki itu mengerjap, menyesuaikan kadar cahaya sembari menyorot seluruh ruangan yang ia huni saat ini. Sorot mata Aksara berhenti tatkala ia melihat sosok perempuan tengah tertidur lelap dengan kaki tertekuk serta selimut yang sudah terbuang di lantai. Laki-laki itu tersenyum, merasa terpana dengan paras cantik gadis yang semalam merawatnya.
"Indah. Cowok mana yang nggak jatuh cinta sama lo?" Aksara mengerjap, bingung dengan kata yang barusan keluar dari mulutnya.
'Mulut gua, eh dia belum bangun kan? Fyuh aman.' runtuk Aksara dalam hati. Lenguhan pelan terdengar dari gadis yang barusan ia pandang. Refleks Aksara kembali pada posisi semula dan menutup mata agar gadis itu tak curiga ia bangun terlebih dahulu.
"Hoam, udah pagi aja." Aneth berucap sembari terus menguap karena kurang tidur. Gadis itu segera menjumput selimut yang jatuh dan melipatnya agar ruangan tak berantakan. Setelah selesai dengan selimut, gadis itu beranjak dari sofa untuk mengecek suhu tubuh Aksara. Rasa hangat menyelimuti Aksara tatkala telapak tangan Aneth menyentuh keningnya. Halus, sangat halus sampai hampir menyamai tangan ibunya.
"Udah lumayan." celos gadis itu, detik yang sama tanpa sungkan Aneth yang hanya wanita biasa menatap penuh puja wajah tampan Aksara.
"Iya gua ganteng, ngga usah di lihat terus, gua ngga bakal hilang." damn, pipi Aneth memerah. Ia malu tertangkap basah memandang wajah laki-laki tampan di depannya. Memalingkan wajah adalah hal yang Aneth lakukan sekarang.
"Apaan sih, ge'er banget. Siapa coba yang lihat wajah lo. Najis tau."
Refleks Aksara menatap remeh. "Najis kok bikin pipi sampe merah." tanpa diminta Aneth berbalik arah tepat membelakangi Aksara dengan tujuan menyembunyikan pipi yang semerah tomat rebus.
"Eh pipi gua emang merah kalo pagi." Aneth beralasan.
"Emang iya?"
"Udah ah, gua mau bikin sarapan. Lo duduk aja di situ." pungkas Aneth berjalan cepat menuju pintu keluar. Masih dengan senyum nakal nya, Aksara berniat menggoda gadis yang merawatnya semalam.
"Awas kecoa di depan lo."
"HAH? MANA MANA? MANA ADA KECOA!!!" Aneth panik, sepersekian detik berikutnya gadis itu naik ke atas sofa yang semalam ia tiduri.
"Di atas sofa." balas Aksara enteng. Mata gadis itu membulat lebar. "Tadi katanya di depan, sekarang di atas sofa. Ini banyak banget perasaan." runtuk gadis itu sebal.
"HUAAA, KECOA AWAS LO. ABIS INI GUA BAKAL SEWA ORANG BUAT BUNUH LO SAMPE KE AKAR!!" teriak gadis itu kemudian turun dari sofa dan beralih ke kasur yang Aksara tempati.
Bruk
'Tuhan, ini udah tiga kali loh. Masa iya jatuh terus meluk begini, mana di atas kasur. Malu Tuhan, malu.' runtuk Aneth dalam hati.
Lima detik berselang
"Sorry sorry."
"Gu__gua juga, sorry banget." Aneth canggung sembari berusaha berdiri.
"Gu gua ke sana dulu ya." pamit Aneth langsung di angguki Aksara.
"Itu toilet." Aneth gelagapan.
"Eh iya, salah ya. Gua ke dapur dulu, lo mandi deh. Baju semalem udah gua cuci kok. Gua taruh di atas laci" ucapnya keluar kamar. Sedangkan Aksara langsung memalingkan wajahnya.
"Lucu." kekeh Aksara sembari mengusap pipinya yang mendadak panas. Matanya melirik ke baju dan celana pemberian Aneth semalam. Sepuluh detik berselang. Laki-laki itu mengedarkan pandangan ke kanan kiri untuk mencari smartphone nya. Nampaknya smartphone itu berada di atas nakas dengan batrai penuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
THAKSA
General FictionFOLLOW DULU SEBELUM BACA☘︎ INTRIK! ANCAMAN! MUSLIHAT! Hidup dilingkungan penuh sesak membuat ia tak mempercayai siapapun. Kehilangan dua orang dalam waktu singkat membuat hatinya lebih kuat. Mabuk? Balapan? Mencari penghasilan tambahan? Semua ia le...
