A²💜24

1.2K 21 0
                                        

Tetap stay ya bestie walaupun ceritanya gaje mwehehehe...
Love you se truk buat klean semua....

Berani sentuh wanita yang mati matian gua jaga, jangan tanya seberapa besar balasan yang akan kalian terima.

_Delaksara Wijaya.

***

Diara, Naisa, serta Raliya penat mencari Aneth yang sampai jam pulang sekolah belum datang ke kelas. Bahkan tadi bu Nonon tak mengajar, beliau hanya berceloteh ria membuat seisi kelas mengantuk karena Aneth tak datang. Yap.... Dari banyaknya siswa siswi di kelas ini. Hanya Aneth sajalah yang berani melawan dan membantah guru berusia setengah abad dengan sanggul juga sarung jarik yang di lilitkan pada bagian bawah tubuhnya, serta jangan lupakan poni yang hampir menyentuh mata itu.

"Guys, gua capek nih. Beli minum dulu kali yah." tawar Raliya mengitari sekolah.

"Boleh deh, gua juga aus." balas Naisa yang merespon baik ajakan Raliya.

"Lo gimana Di?" Naisa menyenggol pundak Diara, baru saja ingin membalas tiba tiba ia di panggil salah satu siswi yang memakai rompi berlambangkan pmi.

"Di. Temen lo di uks, tadi dia jatuh dan kakinya memar parah sampe nggak bisa jalan." tutur Rina. Teman sekelas mereka yang memang sedang ada piket untuk jaga uks.

"Hah, serius?" balas Diara cengo.

"Iya. Kalau gitu gua pulang dulu ya." pamit Rina berbalik menuju arah loker karena jam piketnya telah usai.

"Ehh iya Rin, ati ati. Thanks juga ya." sahut Raliya karena Diara tak merespon saat di ajak bicara. Wajah nya pun terlihat pias serta jangan lupakan mulutnya yang masih mengangga. Untung cantik wkwkwk.

"Di, ahh elu mangap mulu. Ayo ke UKS sayang." ujar Naisa menyenggol lagi bahu Diara. Ini mah kalau nggak di senggol pasti sampe malem pun tetap mangap. (Emot nangis)

Setelah sampai di depan tempat tujuan dengan gerak cepat Diara mengebrak pintu kayu uks karena sangking paniknya, bahkan beberapa orang di dalam termasuk anggota PMR pun terjungkat kaget. Pasalnya tidak ada angin maupun hujan pintu di tendang, untung kayu. Kalau triplek mah udah jebol. Tak memperhatikan sekitar yang masih melihatnya dengan tatapan cengo, Diara malah berlari menyisihkan Naisa dan Raliya. Malu? Sudah pasti. Di situasi seperti ini mereka hanya bisa haha hihi dan sesekali meminta maaf.

"Tahan dulu amarahnya nanti kita hakimi Diara." bisik Raliya pada Naisa yang juga sudah gigit jari.

"Neth, kaki lo nggak papa kan?" ujar Diara khawatir saat di beritahu Rina, salah satu anggota PMR sekelasnya yang menolong Aneth tadi. Andai saja ia tak meninggalkan Aneth sendirian, mungkin ia bisa menolong sahabatnya yang jatuh. Aneth memberitahu kalau memang ia jatuh tersandung pintu loker terbawah yang tak sengaja belum di kunci pemiliknya. Bukan jatuh karena di bully Hani. Ahh sudahlah jangan bahas cewek itu lagi.

"It's okay, i'am fine." balasnya tersenyum.

"Terus pekan olahraga lo gimana?" selak Naisa tak tahu situasi dan kondisi. Raliya mengeplak jidad Naisa.

"Kebiasaan banget kalau ngomong nggak tau tempat." desis Raliya pelan.

"Santai Is. Pekan olahraga gua masih sekitar dua bulan. Ya mungkin ngga begitu maksimal sih, tapi sabi lah." kata Aneth tenang. Mungkin kalau orang lain sudah kelabakan tak jelas karena pekan olahraga nasional itu salah satu hal yang penting, tapi ini Aneth. Ia yakin, kalau memang ia belum bisa ikut, ya berati perlombaan itu belum ada di pihaknya.

THAKSA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang