《All we need just heal》
_I.N_
▪︎ Malam Ini ▪︎
===================================
☘☘☘
Sirene ambulans memecah malam bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar berhenti di lokasi kecelakaan. Suaranya panjang dan tajam, memantul di antara bangunan dan jalan kosong yang biasanya ramai di siang hari. Lampu biru dan merah berputar tanpa henti, memotong kegelapan dan memantulkan kilatannya pada badan mobil Mercedes Benz C200 yang kini berubah menjadi gumpalan logam ringsek di tepi jalan.
Bagian depan mobil hancur parah. Kap mesin terlipat ke dalam seperti kertas diremas. Kaca depan pecah membentuk retakan besar menyerupai jaring laba-laba yang memantulkan cahaya lampu jalan. Asap tipis masih keluar dari celah mesin yang panas, bercampur bau logam, karet terbakar, dan bensin yang samar tercium di udara malam.
Beberapa warga sudah lebih dulu berkumpul di pinggir jalan. Sebagian berdiri mematung dengan wajah tegang, sebagian lagi saling berbisik, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi beberapa menit sebelumnya. Tidak ada yang berani terlalu dekat.
Begitu ambulans berhenti, pintunya langsung terbuka keras. Dua paramedis turun hampir bersamaan. Mereka membawa tas trauma besar dan senter kepala yang langsung dinyalakan. Tanpa banyak bicara, keduanya berlari menuju mobil yang hancur.
“Di sini! Masih ada orang di dalam!” teriak seseorang dari kerumunan, menunjuk ke arah kursi depan.
Sinar senter diarahkan ke dalam mobil melalui kaca yang pecah.
Di sana terlihat dua tubuh. Pengemudi, seorang remaja laki-laki, terkulai lemah di balik kemudi. Sabuk pengaman masih menempel di tubuhnya. Kepalanya sedikit miring ke samping, darah tipis menetes dari pelipisnya dan mengalir ke pipi. Dadanya masih bergerak naik turun, meski tidak teratur. Paramedis pertama segera membuka pintu pengemudi yang sudah penyok. Ia meraba leher remaja itu.
“Nadi ada,” katanya cepat. “Kesadaran menurun, tapi masih respons.”
Sementara itu paramedis kedua memfokuskan senter ke sisi penumpang.
Tubuh Mahesa terlihat dalam posisi yang tidak biasa. Ia tidak sekadar duduk di kursi penumpang. Tubuhnya setengah condong ke arah pengemudi, seolah menutupi orang di sebelahnya saat benturan terjadi. Lengan kanannya terbentang di depan dada Andaru. Seperti refleks seseorang yang mencoba melindungi. Kepala Mahesa terkulai ke samping. Rambutnya basah oleh darah yang mengalir dari pelipis kanan hingga menodai kerah bajunya. Di bawah cahaya senter, wajahnya terlihat pucat dan diam. Paramedis itu segera meraba lehernya. Beberapa detik yang terasa lama.
“Nadi karotis ada…” katanya pelan.
Ia menekan lagi untuk memastikan. “…tapi lemah.”
Paramedis pertama menoleh cepat. “Kondisinya?”
“Lebih parah.”
Mereka berdua langsung bergerak lebih cepat. Mobil itu ringsek cukup parah sehingga pintu penumpang tidak bisa dibuka dengan tangan. Salah satu petugas mengambil alat hidrolik dari ambulans. Logam berderit keras ketika alat itu mulai memaksa pintu yang terjepit untuk terbuka. Suaranya kasar dan memekakkan di malam yang sepi. Akhirnya pintu itu terbuka beberapa sentimeter, lalu cukup lebar untuk menjangkau tubuh di dalam.
“Stabilisasi kepala dulu.”
Paramedis kedua langsung masuk setengah badan ke dalam mobil. Kedua tangannya menahan kepala Mahesa agar tidak bergerak sedikit pun. Cedera tulang leher selalu menjadi kemungkinan pada kecelakaan seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
IN
Teen FictionMenepilah. Jika segala tentang hilang terbilang bahagia. Jika segala gundah terbayar suka. Jika hadir bukan lagi pelipur lara.
