Baru saja mereka membicarakan soal hujan, ternyata hari ini hujan benar-benar turun. Balkon Zea yang tadinya terbuka, cepat-cepat ditutup oleh perempuan itu dengan gerakan yang tergesa-gesa. Kimo ikut membantu walaupun tidak seberapa karena dia juga bingung harus melakukan apa. Bermain seperti ini ke rumah seseorang yang seumuran dengannya adalah sesuatu hal yang pertama kali untuknya. Ternyata tidak seburuk yang Kimo kira.
Sekarang Kimo berakhir duduk di balkon tersebut di atas kursi kain dan karpet berbulu ditemani dengan segelas kopi susu hangat yang dibuatkan oleh Zea. Nikmat rasanya ketika dingin-dingin ditemani dengan yang hangat-hangat.
"Dulu gue sering seperti ini sama papa. Duduk sambil cerita-cerita berdua sambil ketawa-ketawa," celetuk Zea ketika mereka hanyut dalam keterdiaman yang ditemani bunyi rintik hujan yang berbenturan dengan atap dan tanah. "Tapi sekarang udah gaada lagi karena papa udah gaada." Perempuan itu tersenyum setelah menceritakan sesuatu yang menyedihkan menurut Kimo. Tapi perempuan itu terlihat bahagia?
"Its okay Ze. Lo gak perlu cerita,-"
"Nggak Kim. Gapapa, gue pengen cerita ke elo aja entah karena apa," ujar Zea, lagi-lagi perempuan itu tersenyum. "Jangan khawatir. Setelah gue cerita, gue gak akan maksa lo buat cerita balik tentang keadaan lo kok. Ini pure keinginan gue buat cerita. Gue..." Seketika wajah Zea berubah sendu. "Gue cuma pengen membuat semuanya jadi jelas untuk pertama kalinya. Karena selama ini gaada yang mau mendengarkan gue." Dan senyum itu lagi-lagi kembali muncul.
Kimo hanya bisa diam dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Zea.
"Jadi papa udah lama meninggal. Itu waktu gue kelas satu smp. Meninggalnya karena penyakit sih. Ternyata diam-diam papa punya penyakit diabetes yang udah komplikasi parah." Zea terdiam untuk beberapa saat. Sekilas Kimo dapat melihat bibir perempuan itu bergetar. "Jadi gue itu lebih dekat ke papa dan sedangkan Zia lebih dekat ke mama. Entah kenapa mama menganaktirikan gue tanpa sebuah alasan yang jelas. Ya, mama gak suka sama gue. Zia selalu jadi kebanggaan dia. Apa-apa selalu Zia dan gue dilupakan."
"Baru-baru ini gue tau kalau ternyata mama benci papa dan pengen bercerai waktu papa masih hidup. Mama benci papa karena penyakitnya yang udah parah dan menurut mama itu menyusahkan. Mama gak suka hidup susah dan jadi pengen bebas dari papa. Dan sekarang gue ngerti kenapa waktu itu malah tante gue yang dampingin papa dan bukannya mama. Percintaan yang miris ya kan?"
Kimo hanya tersenyum tidak enak.
"Setiap mama marah ke gue, mama bakal selalu bilang kalau gue itu kayak papa. Dari situ gue mikir ternyata mama benci gue karena gue selalu mengingatkan gue tentang papa. Kan mama benci papa, haha."
Itu adalah tawa paling miris yang pernah masuk ke telinga Kimo.
"Dan Zia ga suka sama gue karena dulu papa terlalu sayang sama gue. Zia gak suka, dia pengen perhatian mama dan papa hanya buat dia. Tapi nyatanya papa dekatnya sama gue. Dia iri sama gue keknya, tapi gak pernah ngakuin semua itu. Setelah papa meninggal, dua bulan kemudian mama nikah lagi sama pengusaha kaya. Dia duda gak beranak dan dia sayang sama mama dan Zia. Tetapi nggak berlaku buat gue. Intinya di rumah ini tidak ada yang menyukai gue."
"Gue suka lo."
Zea menatap Kimo dengan mata membulat. Sepertinya Zea salah paham maksud Kimo?
"Suka dalam artian yang..." Kimo jadi bingung harus menjelaskannya bagaimana.
Zea tertawa, "Gue ngerti maksud lo kok." Kimo langsung merasa lega.
"Btw, sekarang rumah ini jadi milik gue," kata Zea senang.
"Kok gitu? Mama sama..." Bagaimana cara bertanya nya, Kimo bingung.
"Mereka pindah ke rumah baru Ayah, maksud gue suami baru mama gue. Gue gak diajak karena kata mama biar gue aja yang ngurusin rumah kecil ini."
Cerita Zea membuat Kimo berhasil bungkam untuk berkali-kali. Kimo tidak menyangka bahwa ada cerita semenyedihkan itu dibalik kehidupan Zea yang hanya seorang perempuan yang begitu rapuh. Bukan, Zea bukan perempuan yang rapuh. Zea adalah perempuan yang tegar.
Rumah Zea memang tidak terlalu besar. Rumah Zea memang ada dua tingkat tetapi di tingkat dua ini cenderung seperti gudang sebelum Zea menempatinya. Jadi ketika keluar dari kamar Zea, Kimo akan langsung bertemu dengan tangga yang membawa mereka ke bawah.
"Lo gak papa seperti ini? Sendirian?"
"Gak papa kok. Udah biasa. Mama emang ga suka gue, tapi dia tetap bayarin hidup gue kok walaupun pas-pasan dan gak sebanyak yang dikasih ke Zia." Kimo menyeruput kopi susunya sedikit dan masih panas ternyata. "Setidaknya dengan begitu, gue masih bisa berpikir kalau ternyata mama gak setidaksuka itu kok ke gue. Dia masih sayang walaupun cuma sedikit. Suka ga suka kan gue tetap anak yang keluar dari rahimnya."
Kimo mengangguk, lalu menepuk pundak Zea seolah memberikan Zea semangat, walaupun semua itu tidak terlalu berarti untuk perempuan itu.
"Ngomong-ngomong lo menganggap gue dan lo itu apa?" tanya Kimo tiba-tiba. Pertanyaan di luar dugaan Zea. Zea pikir Kimo akan menanyakan sesuatu tentang keluarganya, tetapi nyatanya tidak.
"Lo dan gue?" Zea berpikir sejenak. "Teman?"
"Kalau gue tidak menganggap lo teman bagaimana?"
Zea terdiam. Terbesit sedikit perasaan kecewa di sana. Tapi perempuan itu tetap tersenyum. Tidak apa-apa. Bagi Zea semua ini sudah biasa. "Ya gak papa. Teman kan ga kayak pacaran yang kalau satunya gak cinta berarti gak bisa pacaran. Beda kali, Kim."
Kimo mengangguk dan menyeruput kopi susunya juga. "Apa rasanya punya teman?"
Zea terlihat berpikir sejenak, kemudian mengedikkan bahunya. "Gak tau. Gue gak pernah punya teman sebelumnya. Gak ada yang mau deketin gue soalnya."
"Kenapa?" tanya Kimo.
"Karena mereka pikir gue gak asik dan berbeda. Mereka pikir gue aneh," balas Zea sambil menatap gelas kopi susunya.
Kimo hanya memperhatikan perempuan itu yang sibuk dengan gelasnya. Entah apa yang menarik dari gelas itu.
"Lo gak takut sama gue?"
"Hah?" Zea sedikit terkejut.
"Gue seperti psycho, Ze."
Zea bungkam lagi. Ia diam menatap mata Kimo yang tajam ketika Kimo mengatakan itu. Setelah mengatakan itu seketika Zea merinding. Tiba-tiba Zea merasa takut.
Kimo tersenyum miring. "Lo takut sekarang."
Zea jadi gagu. "Gu-gue gak takut. Lo kan temen gue." Mulutnya berkata seperti itu, tetapi tidak dengan tubuhnya. Matanya saja menghindari tatapan Kimo sekarang.
"Maaf kalau gue bikin lo takut. Karena gue memang punya sedikit kelainan jiwa. Seperti yang lo bilang, gue juga berbeda dan dianggap aneh. Gue juga belum pernah punya teman."
Zea pelan-pelan kembali menatap mata Kimo. Setelah dipikir-pikir Kimo juga tidak semenakutkan itu? Tidak! Kimo memang semenakutkan itu. Kalau tidak kenapa Radit bisa di rs sekarang kan?
"I-iya gue takut sama lo." Zea menunduk. "Tapi lo tetap akan gue anggap sebagai teman. Karena cuma lo satu-satunya yang melihat gue dan menolong gue. Actually, yes you are a psycho, but I think psycho in the good way? "
Kimo tertawa ketika mendengar kata Zea barusan. Melihat itu tak urung mengudang tawa Zea juga. Kimo berbicara di sela-sela tawanya, "Gaada istilahnya psycho in the good way Ze. You are such a ridiculous girl."
"Gue serius!"
Kimo masih tertawa. "Oke then, mulai sekarang lo teman gue." Kimo tersenyum.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet but Psycho
Teen FictionTerlahir sebagai anak konglomerat mungkin terlihat sangat menyenangkan. Namun mereka tidak tahu senang dan ancaman adalah satu paket yang harus diterima oleh anak konglomerat. Kimora salah satunya, perempuan yang terlahir dari keluarga konglomerat...
