"Zia, gue mohon sama lo, jangan marah sama gue," mohon Zea ketika mereka sudah sampai di rumah. Rumah yang sebenarnya hanya Zea yang menetap.
"Gue ga ngerti sama lo. Gue pergi bentar aja, lo udah godain cowo gue. Gue gak paham ya sama lo lagi Zea."
Zea menangis. Ia menggenggam tangannya sendiri ketakutan karena memang dia sangat ketakutan. Ia seperti makan buah simalakama. Ia pusing, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Lo harus percaya sama gue Zia. Gue deket sama Vino karena diancam sama dia. Gue gak bohong sama lo."
"Untuk apa Vino ngancam lo, hah?"
"Karena ada foto telanjang lo dipegang sama Vino. Kalau gue ga deket sama dia, dia bakal ngebeberin foto itu!"
Zia tertawa. Dia memegang pinggangnya dan mendongakkan kepalanya ke atas tanda ia sangat lelah dan frustrasi. Ia tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh perempuan di depannya.
"Gue bahkan ga pernah foto telanjang! Lo kalau mau buat-buat cerita itu lebih pinter dikit bisa ga!"
Zia mendorong Zea ke arah sofa, lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah. Zea sendiri, di dalam gelap rumah yang lumayan berantakan karena ulah kemarahan Zia yang tidak bisa dikontrol. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sejenak, sampai akhirnya ia menyembunyikan wajahnya di atas bantal, menangisi nasibnya yang tidak pernah beruntung. Menyakitkan rasanya dibenci oleh keluaraga sendiri tanpa alasan.
"Gue berusaha ngelindungi lo dari Radit karena foto itu dan sekarang gue harus ngelindungin lo lagi karena foto itu dari Vino. Kenapa jerih payah gue selalu lo balas dengan kebencian, Zi?"
***
Zea datang dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Saat masuk kelas, rambutnya bahkan acak-acakan dan terlihat lingkaran hitam di kedua mata perempuan itu. Kimo sadar, malah terang-terangan ia melihat ke arah perempuan itu. Tidak peduli dengan pandangan Zea yang seolah terganggu dengan tatapannya.
"Zea kenapa Kim?" tanya Ray yang ternyata ikut menyadarinya.
Kimo diam saja. Ia menggelengkan kepalanya seolah menghilangkan pikirannya tentang Zea untuk sejenak, Kimo kembali berusaha untuk fokus pada bacaannya.
"Gue denger Zia udah masuk sekolah. Apa jangan-jangan ia kenak tatar lagi sama kembarannya?" Ray bertanya tapi lebih seperti bertanya kepada dirinya sendiri.
Dalam hati Kimo setuju dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh Ray. Tidak ada yang akan membuat Zea berada di keterpurukan terdalam kalau bukan karena kembarannya sendiri. Bahkan semua masalah yang dihadapi oleh perempuan itu karena kembarannya. Rasanya ia ingin menguburkan Zia dan Vino bersamaan di dalam tanah.
"Belajar Ray. Tidak usah dipedulikan."
***
BRAK!
"Lo-lo mau apa lagi sih sama gue?" tanya Zia ketakutan saat tiba-tiba sepulang sekolah Kimo menarik tangannya dan menghempaskannya di dinding belakang sekolah. Selalu belakang sekolah menjadi tempat yang sempurna untuk penataran.
"Lo apain lagi sih kembaran lo itu? Lo ga ingat sama peringatan gue?"
Napas Zia naik turun. Ia ketakutan. Seberani apapun dia menyiksa kembarannya sendiri, ia tetap saja adalah perempuan manja yang tidak bisa berdiri sendiri.
"Gue ga ngelakuin apa-apa."
Kimo langsung menarik kerah baju perempuan itu dengan kuat sampai Zia merasa sebentar lagi lehernya akan tercekik.
"Ke-kenapa lo lakuin ini sama gue hah? Gue bisa aja lapor lo."
"Gue ga takut, bodoh."
Zia tercekat. Ia tidak bisa-bisa apa. Kalau dibiarkan, ia bisa pingsan karena kehabisan napas akibat tercekik dengan kerah bajunya sendiri. Kimo sadar akan kesulitan yang dialami oleh perempuan itu, tapi Kimo tidak peduli dan terus saja melanjutkan aksinya.
"Gue marah sama dia karena dia ngegodain cowo gue. Tapi dia malah bilang nggak, jadi gue lampiasin semuanya sama dia."
Kimo melepaskan kerah baju Zia, setelahnya Zia terduduk karena kehabisan tenaga. Buru-buru ia menarik napasnya kuat-kuat.
"Dia bilang nggak, karena kenyataannya emang nggak."
"Tapi dia malah cerita ga masuk akal. Dia bilang kalau Vino ngancam dia dengan foto telanjang gue. Bahkan gue ga pernah foto telanjang."
Kimo berjongkok untuk menyamakan posisinya di depan Zia, Ia menatap perempuan itu dengan tatapan tajam, seolah menyelidiki apakah yang dikatakan oleh perempuan di depannya adalah benar. Zia yang ditatap seperti itu langsung menunduk ketakutan. Baginya Kimo memang perempuan yang sangat menakutkan. Dia psikopat.
"Lo tahu kan gue ga akan diam diginiin," kata Zia pelan seolah mengancam Kimo, tapi kenyataannya dia ketakutan.
Kimo berdiri, lalu memandang Zia dengan pandangan mencemooh. Kimo bukanlah orang yang mudah untuk diancam, apalagi untuk ditakuti. Kimo tidak peduli. Ia tidak takut dengan Zia yang hanyalah perempuan manja yang paling-paling hanya bisa mengadu dan menyebarkan apa yang ia perbuat pada perempuan itu.
Sekali lagi Kimo tidak peduli.
"Kalau lo siksa lagi Zea, maka ga akan menutup kemungkinan gue akan melakukan hal yang sama sama lo."
***
"Lo lama banget. Ngapain aja sih?" tanya Farel sedikit tidak sabaran karena Kimo baru saja datang telat ke parkiran.
"Ada urusan."
Rafael dapat melihat kekesalan Farel, berbanding terbalik dengan Kimo yang terlihat bodo amat bahkan tak merasa bersalah sama sekali. Rafael rasanya ingin tertawa di tengah suasana canggung ini. Farel adalah laki-laki yang sangat disiplin dan cenderung tidak bisa langsung akrab dengan perempuan, apalagi harus dihadapkan dengan perempuan dingin seperti Kimo.
"Yaudah, ayok."
Kimo, Farel, dan Rafael masuk ke dalam mobil. Farel dan Rafael duduk di depan dan Kimo di belakang. Farel yang mengemudi sekali-kali mendengus ketika mengetahui bahwa di bekalangnya ada sosok perempuan yang sangat malas ia hadapi. Sejujurnya Farel kurang suka dengan karakter perempuan itu.
"Gue mengerti lo tidak menyukai gue, tapi tidak bisa memangnya lo bersikap sedikit profesional? Gue juga tidak mau ada di sini bersama kalian."
Rafael tiba-tiba bersiul dan sok serius menatap pemandangan di luar jendela, berbeda dengan Farel yang merasa malu karena baru saja dibilang tidak professional oleh Kimo. Farel berdeham sejenak, lalu memilih untuk mempercepat mobil yang dibawanya agar cepat juga sampai di rumah Sena.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah utama milik Sena dan keluarganya. Dengan kata lain, rumah ini adalah rumah yang ditinggali oleh Sena dan keluarganya, berbeda dengan rumah Sena yang satunya yang malah dijadikan laki-laki itu sebagai markas perekumpulan mereka.
Farel, Rafael, dan Kimo berjalan bersama memasuki tempat Sena. Ketika masuk mereka langsung dihadapkan oleh beberapa pengawal milik keluarga Sena. Dengan sopan mereka di bawa pengawal Sena ke arah Sena berada.
"Sen."
Sena sedang duduk bersantai di belakang rumahnya menghadap ke arah kolamnya yang besar. Sena menggunakan kacamata hitamnya dan terlihat hanya menggunakan celana pendek. Ketika Farel, Rafael, dan Kimo datang, Sena langsung terbangun. Buru-buru ia menghampiri ketiga orang itu.
"Kalian lama banget. Hampir mau berenang gue," kata Sena yang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Ketiga orang itu hanya mengikuti diam dari belakang. Kimo dapat melihat keseluruhan rumah Sena yang memiliki nuansa klasik yang khas. Kimo iseng menyentuh meja pajangan di rumah Sena untuk melihat apakah meja tersebut dibersihkan dan dirawat atau malah dibiarkan berdebu. Kimo melihat jarinya dan ternyata benar, tidak ada debu.
"Nice," gumam Kimo seraya tersenyum miring.
"Jadi apa rencana kita?" tanya Sena sekali lagi seperti biasa mengutak-atik komputernya. Kimo yakin pasti Sena sedang mengecek wesbsite gelap itu.
"Kita? Apa sekarang gue termasuk sekarang?" tanya Kimo dengan senyuman miring.
Sena menghela napas. "Welcome to the gang, Kimo."
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet but Psycho
Ficção AdolescenteTerlahir sebagai anak konglomerat mungkin terlihat sangat menyenangkan. Namun mereka tidak tahu senang dan ancaman adalah satu paket yang harus diterima oleh anak konglomerat. Kimora salah satunya, perempuan yang terlahir dari keluarga konglomerat...
