Hari itu hujan turun begitu lebat seolah menangis tersedu-sedu. Rasanya begitu suram, ditemani dengan suara petir yang memekakkan telinga. Hari itu berita duka tiba. Baraq meninggal. Semua orang mendapat kabar dari siaran tv yang menayangkan berita tentang perkembangan pasca kasus penculikan tersebut. Semua orang yang menonton tv tersebut mematung merasa simpati. Seolah sama-sama ikut merasa sedih atas kepergian Baraq.
Farel, Rafael, Sena, Adang, Ray dan Zea bergegas bersama-sama ke rumah sakit setelah mendapat berita itu di sekolah. Ketika hendak masuk rumah sakit, ternyata semua jalur diblokir karena jenazah Baraq akan dikuburkan di Amerika, tanah kelahirannya. Banyak sekali wartawan di depan pintu rumah sakit menunggu kedatangan jenazah dan keluarga. Tetapi sampai sekarang pun belum ada tanda bahwa jenazah dan keluarga jenazah akan keluar.
Keenam remaja itu merasa semakin suram tiap harinya. Bahkan di saat terakhir kali pun mereka tidak dapat melihat Baraq.
Sampai suatu ketika akhirnya jenazah itu keluar dari pintu rumah sakit bersama dengan kerabatnya. Keenam remaja itu masih setia dengan menunggu di kursi parkiran rumah sakit yang cukup berteduh. Ketika jenazah itu terlihat keenam remaja itu pun berdiri seiring dengan banyaknya bunyi jepretan dan flash kamera yang menyilaukan mata.
Keenam remaja itu hanya bisa terdiam dan mematung. Hanya dengan menunggu seperti ini yang bisa mereka lakukan untuk menghormati kepergian Baraq. Baraq adalah laki-laki baik, laki-laki itu patut diapresiasi, pikir Ray.
"Zea?"
Seseorang memanggil nama Zea membuat perempuan itu dan kelima laki-laki lainnya menoleh. Di sana berdiri seorang wanita dengan pakaian yang cukup lusuh karena tak terurus. Ditambah matanya menyiratkan kelelahan karena mungkin melakukan pekerjaannya terlalu keras. Zea membulatkan matanya, ternyata wanita itu adalah orang tua perempuan dari Radit.
"Kamu Zea kan?" tanya wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Zea terpaku untuk beberapa saat. Ia tidak tahu harus seperti apa menghadapi wanita di depannya.
"Saya boleh bicara?"
Zea meneguk salivanya. Rafael tersenyum, lalu menyentuh pundak Zea sekilas sebelum laki-laki itu bersama laki-laki lainnya memilih pergi meninggalkan Zea dengan wanita yang mana adalah mama dari Radit.
"Ada apa tante?" tanya Zea setelah hanya tinggal ia dan wanita itu saja yang tertinggal.
"Tolong panggil saya ibu saja."
Zea hanya bisa memberikan sebuah senyuman.
"Saya sudah tau apa yang dilakukan anak saya kepada kamu dan saya sangat menyesal. Atas nama anak saya, saya meminta maaf."
Zea menunduk, memain-mainkan jari tangannya dengan gelisah. Ia akan menangis jika masalah bersama Radit selalu diungkit-ungkit. Baginya masalahnya dengan Radit adalah hal yang paling menakutkan yang pernah ia rasakan.
"Saya tahu kamu marah. Saya tahu dan saya mengerti karena saya juga seorang perempuan."
Zea akhirnya mengangkat kepalanya, ia memaksakan senyum walaupun sudah tampak jelas di wajahnya kalau ia sedang menahan tangis sekarang.
"Saya yang salah, saya yang gagal mengajarkan anak saya."
"Sudah lah bu. Tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu. Saya akan melupakan semuanya."
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Saya di sini bukan hanya untuk meminta maaf kepada kamu. Saya di sini akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan anak saya."
Kali ini Zea yang menggeleng. "Tidak Bu. Saya tidak apa-apa."
"Menikahlah dengan anak saya. Saya akan jamin anak saya akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet but Psycho
Ficção AdolescenteTerlahir sebagai anak konglomerat mungkin terlihat sangat menyenangkan. Namun mereka tidak tahu senang dan ancaman adalah satu paket yang harus diterima oleh anak konglomerat. Kimora salah satunya, perempuan yang terlahir dari keluarga konglomerat...
