Cincuenta y nueve

164 6 2
                                        

Tidak dapat disengaja, kelima orang yang sudah berstatus teman itu tidur di satu ruangan setelah tadi malam mereka tidak berhenti-hentinya berbicara. Macam-macam topik yang mereka bicarakan sampai tak terasa kantuk lah mendominasi. Ketiga pagi tiba, Kimo langsung mengusir keempat laki-laki yang tertidur di karpet berbulu Kimo itu cepat-cepat dengan alasan mereka harus siap-siap untuk pergi ke sekolah.

Kemudian untuk pertama kalinya, ART Kimo itu menyiapkan banyak sekali sarapan untuk pagi ini. Biasanya Kimo tidak sarapan, walaupun ART-nya tetap membuat sarapan untuk Kimo sehingga terkadang di atas meja hanya tergeletak susu putih yang jarang sekali disentuh. Tapi ART nya tidak pernah berhenti untuk membuat sarapan untuk Kimo, walaupun hanya segelas susu putih.

Di atas meja sudah ada nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan sosis. Tidak lupa susu putih dan air putih untuk Kimora dan teman-temannya itu. Ketika empat orang laki-laki itu turun, mereka langsung merasa sangat senang ketika disuguhi oleh sarapan yang terlihat sangat enak. Mereka cepat-cepat langsung mengambil tempat duduk di meja makan besar itu.

"Mbok, makasih dasternya," kata Rafael sambil tertawa kecil.

Tidak lama kemudian, Kimo turun. Penampilannya seperti biasa tanpa polesan dengan muka polos, lalu rambutnya diikat kuda dengan ikatan yang tidak terlalu erat dan longgar. Dengan santai perempuan itu hendak mengganti sandal rumahannya dengan sepatu.

"Eh lo ngapain langsung pake sepatu?" cerocos Adang yang langsung berdiri dan merebut sepatu Kimo dari tangan perempuan itu. Adang bertingkah seperti perempuan berkepala empat sekarang.

Kimo menanggapi dengan malas, tapi kali ini ada senyuman kecil di sana. Sisi Kimo yang dulu hampir hilang, kini perlahan kembali. "Apa lagi Adang?"

Adang meletakkan sepatu Kimo di lantai, lalu mendorong perempuan itu menuju meja makan. "Anak perempuan itu harus sarapan pagi-pagi."

Adang mendudukkan Kimo tepat di sebelah Rafael yang sudah melupakan suasana yang sedang hadir. Dia sudah asik saja makan dengan makanannya.

"Gue tidak biasa sarapan seperti ini," kata Kimo jujur.

ART kimo langsung membawakan roti dan susu untuk Kimo. ART nya tahu sekali bahwa Kimo tidak biasa sarapan berat seperti nasi atau semacamnya. Hanya roti dan susu.

"Bule banget lo," sindir Sena yang tidak dipedulikan oleh Kimo.

Tidak lama kemudian, mereka selesai dengan acara makannya. Kimo dan keempat laki-laki lainnya menggunakan sepatu nya masing-masing.

"Sudah siap Mbak?" tanya Pak Joko sudah menunggu seperti biasa.

Kimo menggeleng. "Untuk kali ini tidak, Pak. Saya pergi dengan teman saya saja. Bapak bisa istirahat pagi ini."

Pak Joko mengangguk, lalu tersenyum hangat.

Ketika kemaren anak laki-laki menjemput pakaiannya untuk menginap di rumah Kimo, Rafael dan Adang memilih untuk tidak  membawa mobil. Boros minyak katanya karena kan bisa saja mereka saling menebeng saja keesokannya.

"Oke, sampai ketemu di markas?" tanya Sena, terutama kepada Kimo.

Senyum kecil Kimo terbit, lalu ia mengangguk.

Rafael, Farel, dan Kimo satu mobil karena memang satu sekolah. Berbeda dengan Sena dan Adang yang tidak satu sekolah dengan tiga orang lainnya. Sebelum Pak Joko membantu satpam untuk membuka gerbang sebesar-besarnya, kelima orang itu saling berpamitan, lalu pergi ke arah yang berlawanan, menuju sekolah masing-masing.

***

Besok adalah hari teristimewa untuk sekolah Kimo karena acara pensi yang sudah diancang-ancang oleh anak OSIS akhirnya terealisasikan besok ini. Akan ada banyak acara dan tentu saja akan sangat meriah. Anak OSIS juga mengadakan acara seperti perlombaan tingkat SMA yang menarik seperti band, fotografi dan dokumentasi, bahkan olimpiade akademik pun mereka adakan dan tentu saja acara tersebut di buka untuk umum.

Sweet but PsychoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang