Treinta y nueve

298 19 6
                                        

Kimo : Sekarang. Bisa?

Kimo dengan cepat mengirimkan pesan tersebut. Ia berjalan ke arah mobilnya dengan amarah yang masih terbawa. Ia kesal dengan Zea karena perempuan itu semakin bodoh saja. Kimo jadi bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh perempuan itu.

"Kim."

Kimo baru saja memegang ganggang pintu mobilnya, tetapi tangannya sudah ditahan oleh Ray. Ternyata laki-laki itu mengikutinya.

"Lo ngikutin gue?" tanya Kimo tidak percaya.

"Iya."

Kimo mengerutkan dahinya, "Dan apa maksud semua ini?" Kimo segera melepaskan tangannya dari Ray walaupun dengan gerakan kasar.

Ray menghela napas, berusaha bersabar dengan segala prilaku Kimo yang selalu saja kasar. Jauh dari tatapan Kimo, Ray bisa menangkap rasa kecewa di sana. Ray yakin pasti semua itu karena Zea.

"Berhenti natap gue kayak gitu. Gue benci."

Ray memiringkan kepalanya sedikit, tanda ia lagi-lagi bingung dengan apa yang dimaksud oleh Kimo. "Menatap lo seperti apa?"

"Kasihan. Lo baru saja mengasihani gue kan?" tanya Kimo sinis.

Ray terdiam. Ia terlihat berpikir untuk mengeluarkan kata apa yang tepat untuk Kimo.

Tiba-tiba Kimo kembali berbalik. Perempuan itu hendak kembali mencoba masuk ke dalam mobilnya. Namun dengan cepat Ray kembali menahannya. Kimo menatap bingung ke arah tangannya yang sedang digenggam oleh Ray.

"Lo mau minum bareng gue?"

Kimo diam. Tiba-tiba saja mulutnya terasa kelu untuk membalas. Kimo merasa bingung harus menjawab apa. Padahal sebenarnya otak Kimo sudah memikirkan penolakan, tetapi kenapa ia masih bingung? Kenapa ia tidak bisa mengucapkan penolakan itu?

Ray menunggu pada awalnya. Tetapi sepertinya kali ini Ray menjadi sosok yang tidak sabaran. Ia menarik lengan Kimo agar mengikuti langkahnya.

"Lo apa-apaan?" tanya Kimo terkejut, tetapi tetap saja kakinya mengikuti Ray.

"Lo terlalu lama diam, jadi gue anggap lo mau."

Kimo membulatkan matanya, "Tapi gue nggak bilang iya!"

"Dan lo juga nggak bilang enggak kan?" Kimo menganga tidak percaya. Sungguh ajaib prilaku laki-laki di depannya ini.

Ray tertawa renyah, lalu berkata, "Udah telat buat nolak, lo udah gue Tarik. Gue nggak akan lepasin lo Kim."

Kimo terkejut lagi. Pipinya terasa panas dan terlihat memerah. Ia salah tingkah, Kimo mengalihkan pandangannya cepat-cepat walaupun hanya dari punggung Ray. Punggung Ray membuat Kimo merasa gugup.

Orang-orang memperhatikan mereka entah karena apa. Hal itu membuat Kimo merasa semakin malu dan salah tingkah. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini, apalagi ketika berdua dengan Ray.

Berdua.

Kimo menggeleng-gelengkan kepalanya ketika pikirannya mulai salah lagi.

"Semua orang ngeliatin kita, Kenapa ya?" tanya Ray tanpa menoleh ke arah Kimo.

Kimo berdeham, lalu menjawab, "Ga tau dan gue ga peduli."

Terdengar suara kekehan Ray dari depan. "Tapi gue peduli," kata laki-laki itu, kemudian ia terlihat berpikir. "Mungkin karena lo cantik?"

Kimo langsung memindahkan pandangannya kembali ke arah punggung Ray, ia terkejut lagi. Sudah berapa kali Kimo terkejut hari ini?

Akhirnya dua sejoli itu tiba di depan sebuah kafe kopi yang begitu terkenal di kota Jakarta. Siapapun suka dengan kafe tersebut dan Kimo pun juga tidak merasa asing dengan tempat tersebut.

Ray mendudukkan Kimo di sebuah meja untuk dua orang yang terletak di sebelah jendela yang langsung menampakkan pemandangan jalanan ibukota yang begitu sibuk dan padat. Entah kenapa Ray merasa bahwa Kimo menyukai tempat yang terletak di dekat jendela. Seperti tadi misalnya ketika mereka diam-diam menyelidiki Zea dan Vino, Kimo juga mengambil tempat di dekat jendela.

"Lo ngapain sih? Gue bisa duduk sendiri Ray."

"Lo ga nolak lagi? Baguslah."

Kimo membulatkan matanya ketika Ray berucap dan lalu pergi begitu saja untuk memesan. "Gue gak bilang kalau gue setuju buat ke sini! Gue terpaksa!"

Ray masih dapat mendengar kata-kata Kimo itu dan ia tersenyum. Kimo terasa menggemaskan hari ini.

Kimo menyandarkan punggungnya pasrah ke kursi. Ia masih saja tidak percaya dengan sikap Ray kepadanya. Tidak ada laki-laki yang berani berbuat seperti ini kepadanya. Termasuk Baraq sekalipun karena laki-laki itupun juga selalu mematuhi kata-kata Kimo. Tetapi ada apa dengan Ray? Kenapa laki-laki itu tidak merasa terintimidasi lagi dengan dirinya? Bukankah dirinya aneh dan mengerikan?

Kimo memperhatikan laki-laki itu dari kejauhan. Laki-laki itu terlihat sedang menunggu pesanannya seraya memainkan hpnya. Terlihat senyuman laki-laki itu tersungging indah di wajahnya. Kimo menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bisa-bisanya dia senyum seperti itu? Menyebalkan," gumamnya.

Tak diduga, Ray menoleh ke arah Kimo. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat hingga tanpa sadar keduanya tengah terpana satu sama lain. Kimo diam membeku, seolah terperangkap di dalam ruang waktu ketika melihat mata hitam yang terlihat begitu teduh itu. Tak jauh berbeda dengan Ray, walau mereka berjarak, namun Ray tetap saja selalu berhasil tenggelam ke dalam mata tajam milik Kimo.

Lengkungan senyuman Ray tercipta. Senyuman itu semakin melengkung dan melebar saja. Kimo tidak suka, senyuman itu membuat sesuatu timbul di perasaan Kimo. Kimo tidak mengerti itu apa.

Kemudian Ray melambai ke arah Kimo dengan santai. Kimo cepat-cepat memalingkan wajahnya. Berpura-pura tidak peduli dengan sapaan Ray itu. Ray menjatuhkan tangannya kembali pada posisinya, lalu kembali menghadap ke arah kasir untuk menunggu pesanannya jadi.

Diam-diam Kimo kembali melirik ke arah Ray. Ray sudah tidak lagi menatapnya, membuat Kimo sedikit lega. Perempuan itu berdecih, lalu menggelengkan kepalanya lagi seolah tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Tetapi anehnya ia merasa senang. Senyumannya pun mucul walaupun hanya segaris. Jujur saja, Kimo sedikit takjub dengan ketidakmenyerahan Ray terhadap dirinya. Itu membuat Kimo seolah merasa diperjuangkan.

Rafael : Bisa.

Rafael : Gue share loc

Kimo membaca pesan tersebut dengan seksama. Memutar-mutar dan menggeser map yang muncul di hpnya. Kimo mengangkat kepalanya, sekedar untuk menatap Ray yang masih menunggu pesanan yang entah apa laki-laki itu pesan.

Gue pergi saja?

Kimo membaca pesannya lagi, lalu kembali menatap Ray. Ia berpikir untuk sejenak.

Tidak apa-apa kan gue tinggalkan?

Akhirnya Kimo berdiri, kemudian berjalan keluar dari kafe tersebut.

Bersama-sama dengan Ray hanya akan menghabiskan waktunya saja. Urusannya dengan Sena lebih penting dibanding waktunya dengan Ray.

Ray dan kopi, sama sekali tidak penting.

Tbc.

Sweet but PsychoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang