Cuarenta y ocho

164 7 3
                                        

Kimo sekarang berada di rumah sakit, berdiri seraya menatap lurus ke depan ke arah Radit yang masih saja berada dalam keadaan koma. Kimo tidak menyukai ini, Radit terlalu lama tertidur. Ia butuh laki-laki itu sekarang untuk diinterogasi. Ia harus menyelesaikan masalah yang tak ada habisnya ini. Ia lama-lama mulai muak.

"Lo."

Kimo menoleh.

"Faras."

Laki-laki itu tersenyum. "Lo masih ingat dengan gue."

Kimo hanya tersenyum sebagai balasan.

"Lo melihat teman gue lagi?"

"Hanya lewat."

Faras menyeringai, "Masih jawaban yang sama seperti yang lalu. Lo mencurigakan."

"Jujur sekali bicara lo Faras kepada orang asing."

Faras mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Sambil meminum minuman kaleng yang ada di tangannya, setelahnya ia berkata, "Gue memang laki-laki yang jujur asal lo tahu."

"Gue yakin sepertinya lo begitu?" tanya Kimo dengan nada canda yang dibuat-buat akrab. Rasanya Kimo jijik sekali dengan dirinya yang penuh kepura-puraan ini.

"Gue yakin kita belum berkenalan dengan baik. Nama lo, gue masih tidak tahu."

Kimo menaikkan sebelah alisnya, "Maaf gue tidak akan memberi tahu. Lo juga kelihatan mencurigakan."

Faras menelan tawanya sendiri. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya termakan dengan kalimat sendiri. Ia merasa malu dan bodoh.

"Lo terlalu serius. Gue hanya bercanda oke."

Kimo hanya tersenyum dan tidak berniat untuk mengatakan namanya kepada laki-laki di depannya itu.

"Sepertinya gue tau kenapa lo selalu melihat Radit. Lo bahkan satu sekolah dengannya. Pantas saja."

Kimo hanya bisa tersenyum, walaupun sebenarnya dia kesal karena lupa mengganti seragamnya dengan pakaian biasa. Identitasnya bisa terancam.

"Ya lo tau, topik Radit menjadi sangat menarik di sekolah. Gue melihat dia hanya karena merasa penasaran."

Faras hanya mengangguk paham. Ia seperti tidak ingin berlama-lama membahas persoalan Radit. Seolah ia membatasi Kimo untuk berbicara.

"Lo lapar? Mau makan bareng gue?"

Kimo tersenyum. "Dengan senang hati."

Faras berjalan sedikit lebih dulu, membuat Kimo mau tak mau mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Ketika Faras tidak melihatnya, diam-diam Kimo kembali menunjukkan wajah datar yang dingin seolah tak lama lagi ia akan menerkam laki-laki itu dan menguburkannya hidup-hidup.

"Lo suka makan apa?"

Cepat-cepat Kimo menunjukkan senyuman simplenya.

"Kita cuma akan makan di kantin rumah sakit kan? Gue tidak mau dibawa lebih jauh oleh orang mencurigakan seperti lo," canda Kimo. lagi-lagi ia berusaha membuat-buat ekspresinya.

Faras terkekeh. "Gue cuma bawa lo ke kantin, tenang aja."

Kimo mengangguk.

Tidak disangka kantin rumah sakit itu cukup ramai dikunjungi oleh orang. Dari pasien, dokter, suster, bahkan pengunjung yang datang hanya untuk sekedar menjenguk. Suasana kantin itu cukup baik dan tidak sekelam yang ia pikirkan.

Faras duduk di kursi yang terletak di tengah-tengah kursi lain. Kimopun duduk di seberang laki-laki dengan rambut cepak itu. Pelayanan di sana berprinsip untuk melayani diri sendiri sehingga tidak akan ada pelayan yang datang melayani mereka.

Sweet but PsychoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang