Cincuenta y cinco

159 6 3
                                        



Hal yang biasa Kimo lakukan kalau Pak Joko-supirnya belum menjemput, ia akan duduk di tangga penurunan gedung sekolahnya sampai Pak Joko tiba dan terlihat mobil yang biasa digunakan oleh pria tua itu terparkir di gerbang. Hari ini cuaca tidak terlalu bagus, karena di atas sana awan mulai menggelap, tanda sedikit lagi saja awan itu akan mengeluarkan isinya.

Kimo memandang lurus seraya bertopang dagu ke arah gerbang. Tujuannya masih sama, menanti Pak Joko yang belum kunjung tiba. Tapi disamping itu ia juga menangkap pemandangan bagaimana murid lain mengakhiri jam sekolahnya. Berbagai macam, ada yang pulang sendiri sepertinya, ada yang pergi bersama teman-teman, dan ada pula yang masih nongkrong di parkiran bersama teman-temannya hanya untuk mengobrol sampai puas.

Kimo merasa sedikit iri, karena tak bisa Kimo pungkiri Kimo juga ingin seperti mereka yang merasakan kehidupan remaja yang ringan dan nyata. Bukan kehidupan remaja yang penuh tekanan dan banyak beban seperti yang ia rasakan. Kimo sampai lupa bagaimana rasanya merasa santai dan ringan karena yang selama ini ia rasakan hanyalah beban.

Di luar dari yang Kimo rasakan, tanpa perempuan itu sadari ada yang sedang menatapnya dari kejauhan. Seorang laki-laki yang begitu mendambakan kehadiran perempuan yang kini sedang ia tatap. Baraq akhirnya menemukan perempuannya. Wajah perempuan itu masih sama seperti terkahir kali yang ia ingat. Masih datar tapi Baraq masih yakin, jauh di lubuk hatinya perempuan itu merasakan kesedihan yang teramat. Bohong jika dikatakan Kimo tidak pernah sedih, alasan kenapa semua orang hampir tidak pernah melihat perempuan dingin itu bersedih adalah karena memang perempuan itu sendiri pintar menyembunyikannya.

Baraq merasa sedih, ia mulai berandai-andai apa yang terjadi jika dia menghampiri perempuan itu. Apakah ia akan ditinju atau dihabisi atau jangan-jangan dia akan diabaikan? Yang ada di kepala Baraq hanya kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kemungkinan baik? Tidak pernah terlintas di pikirannya karena ia sendiri sadar kalau Kimo tidak akan memberikan kemugkinan baik itu.

Maaf gue pergi dan pernah menyakiti lo, Kim. Tapi kali ini semua akan berbeda. Gue akan melindungi elo.

***

"Sen, gimana? Berhasil?" tanya Kimo ketika kemarin ia sudah memberikan jawaban tentang bentuk foto yang diminta oleh Sena.

Sena yang lagi mengutik-ngutik komputernya mengangguk, lalu ia memperlihatkan hasil dari jerih payahnya kepada Kimo dengan senyuman bangga. Kimo pun berjalan mendekat ke Sena dan terkejut ketika memang ada foto telanjang tersebut. Mengerikan dan menjijikkan. Kimo bergidik ngeri.

"Actually she's hot enough."

Kimo spontan memukul kepala Sena cukup keras. Sena terlonjak kaget setelahnya ia memandang Kimo dengan tatapan tidak terima.

"Gue laki-laki, kalau lo lupa," dengus Sena yang kemudian memilih untuk kembali menutup foto itu. "Jadi mau diapakan foto ini?"

"Dihapus lah! Menurut lo kita akan menyimpan foto itu?"

"Gue mau sih."

Spontan Kimo menatap Sena dengan tatapan membunuh.

"Fine gue hapus. Gue bercanda oke."

Kimo pun pergi keluar tanpa sepatah kata, ia memutar bola matanya malas ketika mengingat tingkat kemesuman Sena tadi. Walaupun tetap saja di foto itu adalah Zia tapi kan tetap saja itu namanya pelecehan. Itu tidak benar.

Jika ditanya sekarang Kimo berada dimana, maka Kimo akan menjawab kalau dia sekarang berada di markas utama Solar System. Banyak orang yang sudah mengenalnya, ketika ada yang menyapanya maka ia akan membalasnya dengan sebuah senyuman kilat atau senyum kecil andalannya yang nyaris tidak terlihat.

Sweet but PsychoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang