Catorce

639 40 12
                                        

Kimo tersenyum seraya menyesap minuman yang dipesannya. Tidak mahal-mahal, cuma minum kating nya si es teh alias ice tea. Berbeda tapi sama, apalagi dalam segi harga.

Baru saja ia berbicara dengan ayahnya dan rasanya menyenangkan. Sudah lama ia tidak berbincang dengan ayahnya seperti tadi. Rasanya seolah semua baik-baik saja. Berbicara dengan ayahnya seperti tadi membuatnya merasa tenang.

Hp Kimo berdenting. Sebuah notifikasi muncul dan lagi-lagi dari saudaranya Kemi. Kimo menghela napas, bertanya-tanya apakah laki-laki itu benar-benar akan menceramahinya karena ia cabut dari sekolah hari ini? Kimo jadi penasaran.

Namun, ketika Kimo hendak membuka pesan dari Kemi, tiba-tiba hpnya terlempar jauh dan terhempas ke lantai trotoar karena disenggol seseorang. Kimo terkejut, ia langsung berdiri mengejar hpnya itu. Tetapi ketika hpnya sedikit lagi berada di jangkauannya, hpnya tertendang oleh banyaknya laki-laki yang berlarian. Sampai akhirnya hp itu masuk ke selokan dalam trotoar.

Kimo naik pitam hendak mengejar orang-orang yang menendang hpnya, namun baru saja ia bangkit dari posisi duduknya, ia terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang. Kimo tersungkur membuat seseorang terjatuh di atasnya.

"Maaf, gue gak sengaja. Gue buru-buru" ucapnya.

"Lo! Lo yang tadi yang nipu gue!"

Laki-laki itu berdiri dan melihat Kimo dengan lebih jelas. Lantas, matanya membulat sempurna. "Gue minta maaf Kim. Tapi kali ini gue buru-buru"

"Tunggu dulu! Woi!"

Kimo memperbaiki pakaiannya dari kotoran tanah yang menempel pada kaus oblongnya yang kebetulan berwarna putih. Ia juga memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan, sampai akhirnya ia ikut berlari mengejar laki-laki tadi yang ternyata adalah Rafael.

Kimo masih dapat melihat punggung laki-laki itu. Beruntung Rafael masih mengenakan seragam sekolah, sehingga memudahkan Kimo untuk membedakannya dengan orang lain.

Semakin lama ia berlari, ia menyadari bahwa ia telah berlari ke arah perkampungan tepian. Jalanan semakin sempit dan semakin lengang. Yang terlihat hanyalah rumah-rumah kosong yang sudah rusak. Sepertinya mulai berbahaya, itu pikiran Kimo dan itu membuat Kimo memelankan langkahnya.

"This is dangerous"

Kimo hendak berbalik untuk kembali ke keramaian. Tapi ketika ia berbalik yang ia temukan adalah tiga orang preman yang sudah mengikutinya secara diam-diam. Kimo langsung berjalan mundur secara perlahan.

"Kamu tersesat ya anak manis?" ucap salah satu preman itu. Kimo terus berjalan mundur secara perlahan.

Tertangkap dari lirikan matanya sebuah kayu yang bertengger di samping tong sampah. Satu jangkauan saja, maka sebatang kayu itu pasti sudah berada di genggamannya. Sementara Kimo fokus memikirkan bagaimana cara ia mendapatkan sebatang kayu itu, ketiga preman itu berjalan semakin dekat dengan langkah pelan,

Semakin mendekat...

Harus bagaimana?

Semakin mendekat...

Tidak ada pilihan lain!

Dengan gerakan cepat, Kimo langsung menggapai sebatang kayu tersebut agar berada di genggamannya. Kemudian, Kimo memukulkan kayu tersebut kepada preman yang berusaha mendekatinya. Namun, laki-laki tetaplah laki-laki. Kekuatan mereka begitu besar, sudah merupakan hukum alam yang tidak bisa diubah. Ketiga preman itu berhasil membuat kayu yang berada di genggaman Kimo terlempar ke arah lainnya. Di saat itu lah preman-preman itu mengambil kesempatan untuk melawan Kimo.

Ketika preman tersebut hendak meraih tubuh Kimo, sebuah tendangan mendarat di wajah salah satu preman yang mendekatinya. Dua preman lagi terkejut karena kedatangan pahlawan kesiangan yang telah membantu Kimo.

"Lo ga papa?" tanyanya kepada Kimo, perempuan itu hanya bisa diam. "Dah gue bilang jangan ikutin gue! Lo keras kepala bule pucat!"

Kimo membesarkan matanya ketika Rafael memanggilnya dengan sebutan 'Bule Pucat'. Rafael tidak bisa melihat ekspresi terkejut yang diberikan Kimo karena laki-laki itu sibuk melawan tiga preman yang tidak henti-hentinya memberikan perlawanan.

Kimo geram. Bukan karena preman yang mengganggunya, melainkan karena sebutan dari Rafael. Hey! Kimo tidak terima. Itu bukan terdengar seperti pujian.

Sekali lagi sebuah tendangan mendarat pada wajah salah satu preman tersebut.

"Dasar binatang lo!" ucap Kimo dingin kepada Rafael sambil meninju preman tersebut.

Rafael melihat sekilas aksi bela diri yang dilakukan oleh perempuan asing di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum diiringi dengan keringat yang bercucuran dari keningnya.

"Waw! You are good girl! Kenapa gak lo lawan sendiri aja? Tau gini mending gue kabur aja, gausah bantuin, ya kan?"

"Bacot lo!"

Mereka pun terus melawan tak henti-hentinya. Mereka sudah cukup kelelahan dan kedua remaja SMA itu sudah berkali-kali pula mendapat serangan dari preman-preman tidak berotak itu sampai memar biru itu terlihat di beberapa bagian tubuh keduanya. Semakin lama mereka berdua semakin kelelahan. Tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

"Gue capek woy! Udah napa! Demen banget lawan anak SMA!" bentak Rafael yang malah semakin memancing emosi preman-preman tersebut.

Kimo sudah cukup Lelah. Ia juga sudah cukup muak melakukan perkelahian ini.

Tanpa pikir panjang lagi, Kimo menumpukan tubuhnya pada Rafael dan langsung mengayunkan tubuhnya agar dapat menendang ketiga preman tersebut sekaligus.

Ketiga preman tersebut kelihatan kewalahan sehingga memberikan beberapa ruang yang dijadikan Kimo sebagai akses kabur mereka. Kimo menarik tangan Rafael dan membawa laki-laki itu berlari kabur dari ketiga preman yang tidak berotak itu.

"Kenapa jadinya gue kayak ditolong cewek? Harga diri gue terluka!" teriak Rafael dan tentu saja Kimo tidak peduli.

Kimo pun menarik lengan Rafael ketika ia menemukan tempat persembunyian. Rafael disandarkannya pada dinding, sedangkan Kimo di depannya. Mereka berdua sama-sama melirik ke samping kanannya dimana preman-preman tersebut berlari mengejar mereka. Keduanya pun menghela napas.

Kimo membersihkan pakaiannya ketika dilihatnya ada debu dan ia sedikit meringis ketika lebamnya tersentuh oleh tangannya sendiri.

"Tau sakit juga?" ejek Rafael menertawakan.

Kimo reflek meninju perut Rafael yang juga sempat ditinju oleh preman-preman tadi. Laki-laki itu meringis kesakitan sampai ia terduduk di lantai sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya.

"Lo bener-bener cewek yang gak tau kata terimakasih ya?" Kimo menaikkan alisnya mendengarkan. "Syukur-syukur gue bantu lo! Kalau enggak? tepos tu badan digrepe-grepe"

Kimo menjetikkan jarinya pada kening Rafael. Sekali lagi laki-laki itu meringis kesakitan. Setelah itu perempuan itu memasang kepala hoodie nya untuk menutupi lebam di wajahnya, ia pun meninggalkan Rafael tanpa sepatah kata.

"Dan lo pergi aja? Woy asli ni cewek" gerutu Rafael tidak habis pikir. Bisa-bisanya ia berurusan dengan perempuan seperti Kimo.

"Woy! Lo dasar ga tau terimakasih! Maen pergi aja ntar di grepe preman lagi!" teriak Rafael.

"Ada apa-apa sama lo, gue ga ada yang bakal nolong lo ya!"

"Woy! Lo denger gak sih?!!"

Rafael mulai bodo amat dan dia berbalik arah untuk pergi ke tujuan awalnya. Tapi hatinya tetap tidak tenang karena perempuan itu. Sial, perempuan itu membuat sisi gentle Rafael aktif.

"Siyalan ni cewek!" gerutu Rafael pelan.

Segera Rafael mengejar Kimo dan tanpa merasa canggung ia merangkul perempuan tersebut.

"Nih care banget gak sih gue?" tanya Rafael.

Kimo mengambil lengan Rafael dan memutarnya hingga ke belakang punggung laki-laki itu. Rafael berteriak kesakitan kali ini.

"Jauhin tangan kotor lo!" perintah Kimo dingin.

Kimo melepaskan tangan Rafael yang kembali terduduk karena kesakitan.

"Buset dah ni cewek" ucap Rafael tapi laki-laki itu tersenyum.

Tbc.

Sweet but PsychoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang