Reva sudah tak lagi bertemu Farel sejak saat itu, pertemuan terakhir yang membawa penyesalan atas kelalaian dirinya memahami perasaan Farel. Dimana, dulu, yang ia tau hanya Raka. Dimana, dulu, ucapan Dinda dan Taufik hanyalah rekaan semata. Dan kini semua terlambat Farel sudah dengan hidupnya, bukan lagi Reva yang kini lebih banyak melamun dan sering melalaikan tugas kuliah.
Satu bulan sudah semenjak pertemuan Reva dan Farel terjadi, dan pertemuan itu juga yang membawa pilu dan jerit kesedihan dalam satu bulan ini.
Saat itu, Zulfa berkunjung ke rumahnya, siapa lagi yang mengajaknya datang kalo bukan Reno. Dan saat itu juga, Reva sedang memainkan laptop nya untuk menumpahkan perasaannya. Dimana, dulu, ia masih mempunyai seseorang yang bisa menuangkan keluh kesahnya. Dimana, dulu, ia masih bisa memeluk Raka saat ia sedih. Dimana, dulu, tawanya selalu pecah pada hal yang bahkan tak lucu sekalipun. Kini, Raka telah hilang, Taufik sudah dengan hidupnya, begitupun Dinda.
Taufik dan Awi sudah menikah, dan sekarang mereka sudah di karuniai satu anak. Dinda juga sudah menikah tiga bulan lalu, saat itu, Reva masih larut dalam kesedihannya atas sepeninggal Raka. Dan saat itu perasaannya hancur berkeping-keping saat melihat akad nikah sahabatnya. Dia mengingat saat dimana Raka bersumpah padanya, nanti, suatu saat, Raka lah yang akan mengucapkan ijab kabul di depan para saksi. Namun semuanya musnah oleh takdir yang menjemput Raka lebih awal.
Dinda sudah jarang sekali berkomunikasi dengan Reva. Bukan Dinda yang membuat hubungan persahabatan mereka renggang, tapi Reva sendiri yang menghindar dari Dinda dan Taufik.
Pernah saat itu, Dinda dan Alzy sering sekali main ke rumah Reva hanya untuk memastikan apakah kondisi Reva baik-baik saja. Tapi apa yang mereka dapat hanya penolakan dan alasan sibuk yang Reva gunakan. Begitupun hari-hari selanjutnya, Reva selalu mengurung diri di kamarnya.
Reva yang periang telah hilang, Reva yang selalu tertawa juga hilang. Kini yang ada hanyalah Reva si wanita kesepian. Tak ada lagi julukan yang pantas selain itu.
Pernikahan Reno dan Zulfa akan dilaksanakan tiga bulan lagi. Pihak keluarga Zulfa dan pihak keluarga Reno pun sudah menerima, dan Reva dengan berat hatinya menerima pernikahan mereka.
Reva telah kehilangan sosok sahabat yang selalu ada, telah kehilangan abang yang selalu menghiburnya. Dan sebentar lagi Reva akan kehilangan kakak yang selalu menjaganya.
Nasib seperti ini tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Reva. Dan sekarang Reva harus menghadapinya.
"Rev, ada yang ingin ketemu kamu. Dia ingin ngelamar kamu"
Reva yang tengah terbaring, memiringkan posisi tidurnya, menjadi membelakangi pintu kamar.
"Ma, aku ga suka di jodohin" jawabnya malas.
"Kamu harus liat dulu"
"Aku ga tertarik sama siapapun Ma...."
"Kamu yakin ga mau saya lamar?"
Suara berat itu bertanya. Reva bangkit dari tidurnya dan kembali mencerna suara yang sangat familiar milik seseorang. Kebungkaman terjadi beberapa saat, hingga suara berat itu kembali terdengar.
"Dalam hitungan ketiga kamu ga keluar, lamaran ini saya batalkan. Satu... dua..."
DUARRR!!! gebrakan pintu yang sangat keras membuat Renata terkejut sedangkan suara berat itu tetap dalam keadaan tenangnya.
"Farel?" Reva terkejut saat mendapati wajah pemilik suara berat berada tepat di depan kamarnya.
"Saya ingin melamar kamu, menikah denganmu, kamu mau? Kalo kamu ga ma--"
Reva menarik paksa lengan Farel hingga membuat ucapan Farel menggantung di udara. Reva membawanya ke gazebo yang terdapat di taman belakang rumahnya. Gazebo itu di buat oleh Rangga dan Reno dua bulan lalu. Renata hanya menatap mereka dan berharap semua sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Cinta
Teen Fiction[SELESAI] [Proses Editing] Ini bukan suatu kebetulan. Bisa dikatakan ini Takdir. Takdir menemukannya lagi. Lagi yang dulu pernah terpisah. Kata orang 'kesempatan kedua ga akan bisa sama dengan awal perkenalan'. Tapi aku ga percaya. Aku yakin ini tak...
