Setelah dirawat sekitar 3 hari, Taufik kembali masuk ke sekolah. Di temani Dinda dan Reva, Taufik berada di atap sekolah. Mereka bercanda satu sama lain, Reva menceritakan tentang kesepiannya karna Taufik sakit. Dinda mendengarkan dan Taufik sedikit memberi senyum. Tak lama dari itu, Reva menatap Taufik yang duduk disampingnya dengan tatapan bingung, "Fik? Gue penasaran sama lo, siapa sih cewe yang lo suka? Lo ga pernah cerita sama gue" Reva menjeda nya sebentar dan menengok ke arah Dinda, "pasti Dinda tau" Ucapnya mengintrogasi.
Taufik terhentak, begitupun Dinda. Taufik tertawa masam dan berkata, "Gue belum nemuin seseorang yang tepat"
Reva menatap Taufik dengan tatapan mengintrogasi, "Gue ga yakin"
"Taufik cerita ke gue, kalo dia suka sama satu perempuan" ucap Dinda.
"Siapa? Siapa?" Kata Reva antusias.
Taufik menampakkan wajah dari belakang Reva, seolah Taufik memberi kode kepada Dinda dengan tatapan yang berkata, 'jangan kasih tau'
Dinda tertawa kecil, "dia ada didekat kita"
Reva membentuk raut wajah kesal karena Dinda membuatnya penasaran, "Din!!! Siapa sih?!"
Taufik dengan cepat mencibir, "Kenapa penasaran banget sih? Kan gue bilang kalo gu--"
Reva dengan cepat menoleh ke arah Taufik yang berada di sudut belakangnya, "Gue ngomong sama Dinda!" Sela Reva dengan cepat.
"Din? Siapa sih cewe yang disuka Taufik" Tanya Reva tak sabar.
"Mm.. perempuan itu... ibunya lah, iya kan Fik?" Dinda cengengesan, Taufik juga, Reva malah mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah kesal.
"Kalian sekongkol ya?" Reva masih kesal.
Taufik tersenyum, "Buat apa sih lo nanya kaya gitu, Rev? Kalo gue udah nemuin yang terbaik, pasti gue udah kasih tau lo, tanpa harus lo bertanya kaya gini" jelas Taufik.
Reva menunduk dan kembali terangkat, kini wajahnya terpatri kuat di hadapan Taufik. "Gue ga mau lo tertutup sama gue"
Taufik tersenyum lagi, "Ga akan"
Kini mereka kembali duduk dan tersenyum melihat awan di depannya. Mata Taufik sesekali melirik perempuan di sampingnya, dia tersenyum tipis, "Gue seneng punya kalian" ucap Taufik.
Reva tersenyum juga, "Gue juga" Ucapnya.
Dinda juga tersenyum melihat keduanya. "Semoga kita bisa begini selamanya" ucap Dinda.
Reva menoleh dan kemudian tersenyum lebar, "aamiin Din"
--
Mereka kembali ke kelas saat bel masuk telah berbunyi, melewati koridor kelas Multimedia. Mata Reva tertuju pada tulisan yang berada di depan kelas, XI MM 2. Reva menoleh ke arah Dinda dan menatapnya. Dinda tersadar akan tatapan Reva segera menoleh, "Ga usah dipikirin. Gue rela, kalo emang bukan untuk gue. Sekarang tergantung lo nya gimana?" Ucap Dinda.
Taufik yang kini berada di samping Reva ikut menatap mereka, Reva diam setelah perkataan yang Dinda ucap. "Jangan salah pilih Rev" kini kini Taufik yang berbicara.
Reva tersenyum, tetapi bibirnya kelu untuk menjawab perkataan dari Dinda maupun Taufik. Sampai tiba di kelas, tatapan Reva bertemu dengan Raka. Reva dengan cepat memutuskan kontak mata dengan Raka. Gue ga sanggup, umpat Reva dalam hati.
Reva berjalan ke arah kursinya, dimana kursi Reva tepat berada di depan kursi Raka. Reva duduk dan melipat tangannya diatas meja, menenggelamkan kepalanya di dalam lipatan tangannya.
Raka menggerakkan kakinya ke kursi Reva, sehingga kursi yang Reva duduki kini bergontai. Reva menoleh ke belakang, tepat di mana Raka duduk sekarang. Matanya melihat Raka dengan pandangan tajam, seakan pandangan mata Reva mengatakan, "lo bisa diem ga sih?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Cinta
Teen Fiction[SELESAI] [Proses Editing] Ini bukan suatu kebetulan. Bisa dikatakan ini Takdir. Takdir menemukannya lagi. Lagi yang dulu pernah terpisah. Kata orang 'kesempatan kedua ga akan bisa sama dengan awal perkenalan'. Tapi aku ga percaya. Aku yakin ini tak...
