Reva terus memegangi batu nisan yang sekarang berada tepat di hadapannya.
BINTANG PUTRA ARFANOS
BIN
ADI PRAKASA ARFANOS
LAHIR: 30 MARET 1995
WAFAT: 19 OKTOBER 2016
Reva mengusap terus batu nisan itu. Tulisan yang terpampang pada batu nisan itu membuat hatinya sedikit tenang, setidaknya, sekarang ia bisa melihat langsung peristirahatan terakhir Raka.
"Aku udah ikutin kemauan kamu, aku akan menikah bulan besok dengan Farel" bisiknya pada nisan itu, berharap Raka dapat mendengarnya.
"Maksud kamu apa?" Tanya Farel yang terlihat berkerut karena tak tahu apa yang di maksud Reva.
"Nanti aku ceritain" jawabnya pelan.
Setelah cukup lama berziarah akhirnya mereka beranjak untuk pulang. Mereka datang untuk berziarah menggunakan mobil milik Farel. Hanya butuh tiga jam dari rumahnya yang di Bandung untuk sampai ke makam Raka. Dan akhirnya mereka pamit kepada sang empunya nisan untuk pulang.
"Semoga di alam sana, kamu baik Rak. Aku pamit. Jika kamu tanya aku bahagia atau engga, jujur, aku sangat bahagia, bahagia yang pernah aku milikin kini kembali. Selamat jalan Rak, doaku selalu menyertaimu" ucapnya sebelum akhirnya benar-benar pergi.
"Kamu mau ketemu Bibi Nadia?" Tawar Farel saat mereka sudah di mobil.
"Kamu tau?"
"Iya, aku tau"
"Aku mau kesana. Udah lama ga jumpa"
"Tapi kamu punya utang sama aku"
Reva mengeryit, "utang apa?"
"Maksud dari ucapan kamu tadi"
"Oh, itu" Reva segera mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah Handycam yang selalu menemani hari-harinya.
"Ini jawaban dari pertanyaan kamu" Reva menyodorkan Handycam yang berisi rekaman Raka yang sedang memberi tahu kabar tentang Farel.
Farel menerimanya dan langsung menonton video itu dengan khidmat. Sampai video itu abis kemudian Farel menoleh ke arah Reva.
"Bintang baik. Aku suka. Aku jadi kangen main sama dia"
"Kata kamu, kita harus relain Bintang, supaya disana dia tenang"
"Eh, iya, maaf. Aku rindu aja. Saat itu ga seharusnya aku bener-bener ngehindar dari keadaan yang harusnya bisa aku manfaatkan sebaik mungkin"
"Ga ada yang perlu di sesali, Rel. Katanya mau ke Tante Nadia?"
"Eh. Iya" kemudian Farel membawa mobilnya melesat ke rumah Nadia.
-----
"Ini rumah tante Nadia?" Tanya Reva begitu sampai di depan rumah yang bernuansa kelabu.
"Kamu bilang, Bibi kembali ke rumah lamanya 'kan?"
"Iya sih terakhir bilangnya kaya gitu"
"Yaudah kita masuk aja dulu"
"Iya"
Mereka turun dari mobil dan segera menuju pagar berwarna kelabu itu, diketuknya pagar itu sampai memanggil seorang satpam di dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Cinta
Fiksi Remaja[SELESAI] [Proses Editing] Ini bukan suatu kebetulan. Bisa dikatakan ini Takdir. Takdir menemukannya lagi. Lagi yang dulu pernah terpisah. Kata orang 'kesempatan kedua ga akan bisa sama dengan awal perkenalan'. Tapi aku ga percaya. Aku yakin ini tak...
