part 22

3.9K 370 73
                                        

Tugas dokter adalah menyelamatkan nyawa orang tapi, jika nyawa dokter sendiri itu terancam? Siapa yang akan menyelamatkanya?

........


Ara perlahan membuka ke-2 matanya, tangannya terangkat untuk memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. sudah 2 jam lebih bocah itu tertidur, karna pengaruh CTM  bocah itu tak terbangun dari tidurnya hingga ia tak menyadari kejadian pertengkaran beberapa menit yang lalu yang terjadi pada ke-2 orang tuanya.

Mata kecil bak almond itu mengerjap, mengumpulkan segala kesadaran nya, namun sedetik kemudian dahinya mengernyit. Membuat ke-2 mata itu menyipit membuat sepasang garis lurus.

"pa..man" ucapnya pada seseorang yang tengah menatapnya sembari tersenyum padanya saat ini

"syukurlah, kau sudah bangun" Jimin bernafas lega,  sembari mengusap kening gadis kecil itu

"paman, dimana eomma dan appa?" tanya Ara pada Jimin

Sedetik kemudian Jimin terdiam, ia memikirkan jawaban apa untuk menjawab pertanyaan bocah itu. Tak mungkin jika ia menjawab yang sebenarnya bukan?

"ehh.. Orang tua mu sedang pergi sebentar Ara-ya, kau bersama paman dulu yah, paman akan menemanimu sampai ke-2 orang tua mu kembali " ucap Jimin

Namun gadis kecil itu hanya merespon dengan mempoutkan bibirnya kedepan, mungkin dia sedang kesal. Karna pertama kali yang ia lihat setelah ia bangun bukanlah ke-2 orang tuanya, melainkan orang lain.

Jimin mengusap kepala Ara " keponakan paman jangan sedih begitu, cha.. Paman suapin makanan " ucap Jimin, sembari mengambil nampan yang berisi makanan khas rumah sakit
Hanya sup ayam disertai dengan beberapa sayur dan segelas air putih sebagai pelengkapnya.

"aa~" ucap Jimin mengintrupsi Ara agar mau membuka mulutnya. namun gadis kecil itu malah memalingkan wajahnya

"tidak paman, aku hanya ingin disuapi oleh eomma, atau appa" ucapnya merajuk masih tanpa menatap Jimin

Jimin membuang nafas kasarnya, ia kemudian menaruh kembali makanan yang telah ia ambil tadi kedalam mangkuk dan meletakannya kembali diatas nampan.

"Ara, jika kau tak makan, maka nanti paman akan dimarahi appa mu.. Kau tega melihat paman dimarahi oleh appa hm?" rayu nya agar anak kecil itu mau memakan makanannya

Ara membalikkan wajahnya, menatap Jimin yang tengah ber-acting memasang ekspresi sedih itu, ya bagaimana pun juga pria itu adalah paman kesayangannya ia sudah menganggap pria itu sebagai paman nya sendiri, mengingat Jungkook adalah seorang anak tunggal dari Jeon Company. Jadi, dia tak memiliki paman kandung/pun bibi kandung.

"apakah kau mau paman mu ini mendapat jitakan dari appa mu, kalau kau tak makan hmm?" lagi, ia memasang raut sedih bohongan itu agar anak kecil itu, mau lulut dengannya

"tidak paman" gadis kecil itu berucap sembari menggelengkan kepalanya.

"kalau begitu, makanlah makananmu! Paman suapin yah"

"baik paman" ucap Ara

"anak pintar.." balas Jimin sembari mencubit lembut hidung Ara, ia pun kemudian kembali mengambil makanan itu dan menyuapinya pada gadis kecil itu.

Ditengah tengah aktivitas makannya

"paman.." panggil Ara pada Jimin dengan mulut yang sedikit penuh dengan makanan.

"ya sayang?" balas Jimin sembari mengaduk ngaduk antara sup dan nasi agar tercampur dengan rata

"tadi, aku bermimpi. Jika aku, memiliki sayap seperti tinkerbell."

Sorry [2] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang