part 16

4.1K 404 72
                                        

Dia yang buta akan cinta, akan melakukan apapun demi keutuhan cintanya.

........

Seorang wanita paruh baya tengah duduk disalah 1 kursi cafe , wanita yang masih terlihat cantik diusianya itupun mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang yang sedaritadi ditunggunya.

Sesekali ia berdecak sebal karna sudah hampir 30 menit orang yang mengajaknya bertemu tak kunjung datang. Didepannya saat ini sudah tersedia 2 gelas minuman yang sengaja ia pesan duluan.

Tring~~

Bunyi gemerincing lonceng khas cafe pun berbunyi, seseorang baru saja membukanya. Disana, seseorang wanita berstelkan blus berwarna putih tulang yang simple dan rok berwarna gold di atas mata kaki, terlihat elegan namun tak mengurangi kesan cantik yang terpancar diwajahnnya, baru saja masuk ke cafe itu. Dia tersenyum senang karna orang yang sedari ditunggu akhirnya datang juga.  Melihat itupun orang itu tersenyum sinis saat menatap seseorang yang lama tak ia temui itu.

Kaki jenjang itu ia bawa untuk mendekat ke bangku yang sudah ada orang yang ia ajak ketemu tadi.

"anyeong~~ keponakanku wah kau semakin cantik ya sekarang"

Yang dipanggil keponakan itupun hanya mendecih  sembari berkacak pinggang, dan memutar bola matanya malas, lantas tanpa babibu ia menarik kursi dan lantas mendudukinya tanpa membalas sapaan dari orang didepannya. 

"oh ya..aku sudah memesankan minuman untuk mu, jja minumlah"

"hentikan omong kosong mu itu, aku tau, kau tak bermaksud perhatian padaku"

Bagai sebuah tamparan keras, perkataan keponakannya itu membuat giginya bergemelutuk, jika saja ia tak tergiur akan bayaran yang telah ditawarkan oleh keponakannya itu, ia juga tak akan sudi bertingkah sok perhatian seperti ini. Yang bisa ia lakukan, adalah mengepalkan tanganya dibalik meja cafe. "dasar anak kurang ajar" umpatnya dalam hati.

"hh... Arraseo, jadi kita langsung to the pont saja? Baiklah.. Jadi... Apa yang membawamu untuk menemuiku keponakanku?"

Sohye menghela nafas sejenak kemudian ia melanjutkan bicaranya

"apakah kau masih mempunyai anak buah?" tanya nya tanpa memanggil dengan embel-embel bibi. Ya, ia merasa tak sudi memanggil wanita paruh baya didepannya itu sebagai bibinya. Orang yang dulu telah menjualnya menjadi wanita penghibur, orang yang dulu selalu mengacuhkannya disaat ia sedang berkabung atas kematian ke-2 orang tuanya. Tak pantas ia sebut sebagai bibi / bagian dari keluarganya.

Wanita itu mengangkat sebelah alisnya " ya... Aku masih punya anak buah, memangnya kenapa keponakanku? Apakah kau mau menyewa anak buahku?"

Jika Sohye harus mem-flashback dimasa lalunya, ia sama sekali tak ingin bertemu dengan bibinya itu, mengingat dulu ia yang diseret anak buah bibinya, agar mau masuk kedalam tempat terlaknat itu, ia sama sekali belum bisa melupakan semua itu. Namun keadaanlah yang memaksa ia untuk berurusan lagi dengan bibinya.

"ya.. Aku mau menyewa anak buahmu, untuk membunuh seseorang" ucap Sohye sedikit berbisik namun bisa ditangkap indera pendengaran bibinya, membuat wanita itu sedikit membuka mulutnya, dan refleks menutupnya dengan telapak tangannya karna tak percaya dengan apa yang keponakannya itu ucapkan tadi.

Sorry [2] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang