Chapter 12

10.5K 1.4K 54
                                        


Sena berendam dalam Bathup cukup lama, pagi ini badannya sudah seperti dipukuli beribu orang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sena berendam dalam Bathup cukup lama, pagi ini badannya sudah seperti dipukuli beribu orang. Ia mengingat jelas kejadian tadi malam yang memang menjadi pengalaman pertamanya. Badannya merah karena bekas perbuatan Daniel. Lelaki itu seperti ingin membunuhnya dalam satu malam.

Remuk,

Itulah yang Sena rasakan oleh badannya. Ia berdiri dan segera mengeringkan tubuh dan memakai baju yang ia siapkan. Langkahnya tertatih dengan leher yang ia tolehkan ke kanan dan kiri hingga menimbulkan bunyi kemerutuk.

Dia keluar dari kamar mandi dan Daniel masih dalam keadaan sebelum ia masuk kamar mandi. Kang Daniel masih setia pada kasurnya, ia seperti bayi dengan bahu lebar itu. Matanya masih tertutup, Sena memandangnya miris saat itu. Hanya selimut yang menutupi tubuhnya sampai leher. Ponsel Daniel terus berdering di nakas mereka dan Daniel tidak memperdulikannya.

 Ponsel Daniel terus berdering di nakas mereka dan Daniel tidak memperdulikannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sena mendekat dan duduk disamping Daniel dengan tidak nyaman. Lelaki itu mengeluarkan suara Eung, khas bangun tidurnya, "Daniel, ayo bangun. Kau tidak bekerja?"

Tidak ada jawaban dari Daniel, "banyak yang menghubungimu. Kau tidak—" belum sempat Sena bicara, Daniel bergerak memeluk pinggangnya sembari membiarkan kepalanya berada di paha Sena.

"Aku akan ambil cuti, tetaplah bersamaku," ucap Daniel saat itu, Daniel mendongak melihat wajah Sena. Dia tersenyum lebar karena melihat bekas merah hasil perbuatannya, "Kang Sena, namamu bukan lagi Park Sena."

Sena mengerjapkan matanya melihat Daniel seperti anak umuran lima tahun, "Niel, aku harus masak. Kau mandilah," ujar Sena.

Daniel duduk dengan selimutnya yang masih menutupi kakinya, "tetaplah jadi Sena-ku," lalu mengecup kening Sena.

Sena berusaha menetralkannya walau hati saat ini seolah menginginkan ketulusan dari Daniel. Nafasnya tercekat oleh perbuatan Daniel yang mungkin akan selalu Spontan seperti ini, "ya sudah, masakan aku sesuatu yang begitu enak."

Sena mengangguk kemudian berjalan ke arah pintu untuk segera pergi dan menuju dapurnya. Badannya masih sangat luar biasa sakit saat ini.

 Badannya masih sangat luar biasa sakit saat ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kang DanielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang