Chapter 33

6.8K 1K 378
                                        

Bacanya sambil dengeri lagu melow ya? Biar lebih nge-feel. Terserah lagu apa, yang penting lembut di dengar dan enak kalo baca sambil dengarinya.




Plak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Plak.

"Ayah, kak Sena tidak melakukan apapun," pekik adik kecil Sena.

Tangan Ayahnya terangkat tinggi untuk menamparnya. Namun, sigap Ibunya menahan bahkan mendorong suaminya itu. Sena menangis cukup keras saat Ibunya memeluknya cukup kuat. Suara tangis Sena juga diiringi oleh seorang anak kecil yang juga ikut menangis melengking, "Ayah, jangan Ayah."

Tubuh Sena memar akibat sabitan kuat tali pinggang sang Ayah. Ibunya menangis melihat tubuh anaknya memar seperti itu. Sungguh, hati seorang Ibu sangat rapuh ketika melihat anak perempuan satu-satunya di perlakukan tidak adil seperti ini. Ibunya merasa bersalah melahirkan Sena sebagai anak perempuan, namun Sena adalah titipan terindah dari pada yang lain.

"Seharusnya kau buang dia ke panti. Dengar YeonAh, aku tidak mau tau hari ini juga--kau buang Sena. Sudah aku bilang sejak lama, gugurkan kandunganmu, aku tidak butuh anak perempuan di keluargaku. Dia hanya pembawa sial," pria itu kemudian menarik anak lelakinya yang menangis melengking menjauh dari mereka.

"Kakak," pekik anak itu sembari menangis, "Ibu, aku tidak mau."





"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Matanya terbuka dan tertutup, nafasnya perlahan terasa sesak. Ada jarum impus di punggung tangannya dan kepalanya sedikit terluka, tapi syukurlah kedua malaikatnya selamat karena perlindungannya.

Sena terlalu panik hingga tidak sengaja menabrak pohon besar di tepi jalanan. Syukur, ia dan Yoonji dibawa ke rumah sakit oleh beberapa orang yang melihat. Sena menyentuh perutnya sembari memasang wajah senduh.

"Sena, kau sudah bangun. Syukurlah kau dan bayimu selamat." Lelaki itu menyentuh jemari Sena yang kosong oleh perkakas rumah sakit.

Sena masih menerawang bayangan kabur di sisi ranjang itu, perlahan mulai tercetak jelas dan nampaklah wajah sempurna Ong Sungwoo.

Kang DanielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang