(Spesial Chapter) The Missing Person Finally Returns

5.7K 947 112
                                        

Sekali lagi, dengarkan lagu ballad atau apapun yang enak di dengar.





Jinyoung berjalan dan masih menekan-nekan ponsel untuk menghubungi sang kakak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jinyoung berjalan dan masih menekan-nekan ponsel untuk menghubungi sang kakak. Beberapa hari lalu ia tidak bisa menghubungi Sena, khawatir dengan keadaan sang kakak. Ingin rasanya ia kabur dari asrama untuk menemui kakaknya. Ia tidak henti memikirkan sang kakak, bahkan pelajaran saja terlewat karena perasaannya yang tidak enak.

Padahal kakaknya berjanji akan sering berkunjung, Apa kakaknya baik-baik saja?

Jinyoung masih asik berjalan dengan mata terfokus pada ponsel. Tidak sadar jika dari arah berbeda orang lain menabraknya. Tubuh pria itu sedikit besar dan gemuk, membuat ponsel Jinyoung jatuh berserakan dengan layar yang retak. Namun, Jinyoung tidak fokus pada ponselnya melainkan pada dompet yang sudah terbuka. Ada gambar tak asing disana. Sungguh, tidak asing.

Ia mengambil dompet itu lebih dulu barulah ia mengambil ponselnya. Ia melihat sangat jelas dan dalam. Pria dan wanita itu sangat mirip dengan seseorang, ia pernah melihatnya. Terlebih ada gambar gadis kecil dengan kedua tangan merangkul dua lelaki kecil yang usianya sama.

Jinyoung melihatnya.

Ia ingat siapa gadis kecil itu. Mulutnya menganga dengan mata melebarnya.

"PAMAN!!" teriak Jinyoung berbalik.

Pria itu sudah hilang dengan tubuhnya. Buru-buru Jinyoung mengejarnya hingga masuk ke beberapa lorong dan berhenti di gerbang dalam yang tertutup. Jinyoung melihat dari batas pagar, pria berjas hitam itu berjalan menuju mobil mewah.

Tidak salah lagi, dia Ayah kandung kakak sepupunya.

"PAMAN PARK! PARK HYEONGSEOK!!" panggil Jinyoung berteriak.

Pria itu berbalik melihat lelaki berseragam itu. Ia memandang lelaki itu cukup heran. Ia malah berpikir jika anak itu tidak sopan memanggil namanya seperti itu.

Segera pria itu berjalan dan mengisyaratkan agar Security di sisi pagar membuka kembali pagar itu. Jinyoung memandang pria tua itu cukup dalam, ia ingin menangis. Sungguh, sudah lama ia ingin mempertemukan Sena dengan Ayah kandungnya yang asli bukan Ayah tirinya.

"Kau memanggilku, Nak. Kenapa cara memanggilmu sangat tidak sopan sekali?" tanya pria tua itu.

Jinyoung masih tersenyum melihat pria itu sembari menggenangi matanya dengan air mata kebahagiaan, "aku menemukanmu, Paman. Kak Sena sangat membutuhkanmu."

Pria itu membulat luar biasa saat nama Sena keluar dari mulut lelaki muda ini. Ia memegang bahu Bae Jinyoung lalu memandangnya penuh penjelasan.

"Dimana Sena?"

"Dia bersama orang jahat, Paman. Kakakku tidak bahagia karena pernikahan ini. Ia selalu menyembunyikan tangisannya. Kenapa kau membuang Bibi dan kakakku seperti itu? Mereka begitu baik padamu. Dimana kau saat Ayahku yang jahat malah menikahkan Bibiku dengan pria lain? Kemana kau saat Kakakku dinikahkan dengan orang lain? Mereka masih bersih, mereka bukan kotoran yang bisa kau buang. Kenapa kau begitu jahat hanya karena tidak menginginkan anak perempuan. Aku tau, Paman. Ibuku menceritakanya padaku. Ia mengalami Amnesia, ia tidak tau bagaimana hidupnya kau siksa dulu," Jinyoung menarik nafasnya.

Kang DanielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang