SUDAH TERBIT DENGAN JUDUL THE POSSESSIVE HUSBAND.
[Private] • [Complete]
Isi : Prologue - Chapter (1-49) - Epilogue.
Kang Daniel dan Park Sena harus menjalani kewajiban dengan cara menikah. Namun siapa sangka ternyata Park Sena dibeli oleh keluarga...
Hidupkan lagu sadballed atau lagu yang ada di mulmed.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bugh.
Sebuah pukulan keras menghantam wajah Sungwoo, tanpa babibu lelaki beranak satu ini menghantam Sungwoo. Dan berakhir mencengkram kerah kemeja Sungwoo,
"Sadarlah, kau mabuk," seru Jaehwan.
Sungwoo tidak menjawab, dia malah tumbang dengan darah di sudut bibirnya yang sudah keluar. Semua bisa terjadi jika seseorang dibawah kendali minuman bodoh itu. Orang baik pun bisa hancur dan berbahaya jika dia disakiti. Seperti Sungwoo, lelaki Ong itu gelisah saat tau anak dalam kandungan adik angkatnya memang bukan anak Daniel. Dan Sena sudah pasti jadi korban yang paling tersakiti disana. Entahlah, ego Sungwoo sedang bermain di ambang kepeduliannya.
"Sena, maafkan aku," lirih Sungwoo lalu terpejam.
Sena yang berada disudut ruangan hanya memeluk lututnya sembari merapalkan nama suaminya. Telinganya tidak berfungsi lagi, bahkan saat Jaehwan memanggilnya saja, Sena tidak dapat mendengar dengan baik. Kalimat Sungwoo tentang kebenaran anak Yoonji membuatnya depresi.
Ia menangis.
Kenapa semua orang selalu menyakitinya? Apa salahnya sampai Tuhan mempermainkan hubungannya? Apa benar, Daniel bukan jodohnya?
Sena menangis, dia menutup mulutnya sembari terisak. Tangan Jaehwan mulai meraih tengkuk Sena, detik berikutnya Jaehwan mendapat serangan dari Sena.
"Sena, ini aku. Aku, Jaehwan," pekik Jaehwan.
Sena malah menggaruk kepalanya. Memukul kepalanya dengan keras. Hal itu membuat Jaehwan panik dan membekap Sena dalam rengkuhannya. Sena merasakannya, detak jantung Daniel. Tapi ini bukan tubuh Daniel.
"Sekarang aku harus apa?" tanya Jaehwan pada Sena.
Sebelumnya, Jaehwan mendapat panggilan dari Daniel yang bersuara panik. Dan syukurlah pintu Apartement mereka tidak tertutup rapat. Suara teriakan Sena dan Sungwoo bahkan menggelegar di koridor Apartement.
"Dia tidak apa 'kan, Jae?" masih peduli. Sena masih peduli pada Sungwoo, tidak habis pikir.
Jaehwan tidak menjawab, ia mengangkat Sena menuju kamar dan membaringkan wanita itu di ranjang. Memandang wajah kosong ketakutan itu cukup lama lalu pergi dengan kekhawatiran yang mendalam.
Kini Jaehwan menggotong tubuh Sungwoo ke sofa, sempat dibuat kewalahan dan lelah oleh hal itu. Ia kemudian duduk sembari bersandar.
Sungwoo sudah babak belur oleh tangannya. Sebelumnya, Jaehwan tidak pernah berkelahi, tapi karena memikirkan Sena ia jadi sedikit emosi. Jaehwan merasa pergerakan Sungwoo yang membuatnya beralih saling memandang. Sungwoo menajamkan pusat penglihatannya pada objek di sampingnya.