(Spesial Chapter) I'm Lonely

4.7K 850 91
                                        





Sudah tiga bulan dia meninggalkan Daniel, hanya berada dalam rumah kecil tanpa aktifitas lebih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sudah tiga bulan dia meninggalkan Daniel, hanya berada dalam rumah kecil tanpa aktifitas lebih. Ia bosan hanya dengan berdiam saja di sini.

Kenapa rasa rindu Sena sangat sakit?

Sena memandang ke arah luar, beberapa bulan lalu rasa mual itu sangat membuatnya terganggu. Sena ingin jika Daniel datang sendiri ke sini, membawanya dan mengatakan hal yang ia ingin dengar. Tapi kenapa rasanya sesak jika mengingat nama Daniel dan beberapa kenangan buruk yang telah pria itu perbuat.

Sena kembali memasang wajah tegarnya. Berapa lama ia akan menahannya? Sudah sangat lama, bahkan usia kandungannya sudah lima bulan, tinggal menunggu empat bulan kedepan saja. Tanpa Daniel di sampingnya. Benar, akan lebih baik jika tanpa Daniel.

Mungkin memang sakit di awal, tapi jika di jalani, Sena yakin dia bisa melupakan Daniel seutuhnya. Membuat memori baru antara dia dan kedua buah hatinya.

Pengorbanan Ibu memang bisa berupa apapun, ia ingin anaknya tetap hidup walau bukan dari keluarga kaya sekalipun. Ia masih mengingat jelas bagaimana cara Daniel menyakiti hatinya dengan cara ingin meracuni bayinya yang bahkan belum memiliki daging pemikiran sekalipun. Ya, meski Sungwoo sudah berkali-kali meminta agar Sena memutuskan kebijakan dengan kepala dingin tetap saja Sena bersikeras tetap menuntut perceraian.

Cinta bisa berubah menjadi benci, seperti Sena. Ia sudah lelah terus bersama Daniel, sikap Daniel sama sekali tidak berubah. Ia tidak bisa berpikir dewasa sebagai seorang Suami, ia tidak bisa menuntut tanggung jawab sebagai seorang Ayah. Justru ia memperlakukan hal baik itu pada wanita yang sama sekali tidak mengikat apapun dengannya.

Sena egois, ia hancur. Sosok malaikatnya hilang menjadi Iblis, mendengar kalimat Sungwoo tentang keadaan Daniel saja sudah membuat Sena harus kembali meratapi kesalahan karena meninggalkan prianya. Tapi ia benci, sangat benci.

Sena sudah terlanjur sakit, ia tidak ingin hal itu terjadi lagi. Mungkin memang lebih baik jika mereka bercerai, saling memberi jarak dan tidak usah saling mengenal.

"Sena, Susunya," ucap Sungwoo membawa segelas susu hamil pada Sena.

"Besok kita pulang, kan?" tanya Sungwoo, Sena mengangguk yakin, lalu meneguk susu itu sampai habis.

Sungwoo melihat ada sesuatu di sudut bibir Sena, ia mengusap bekas susu itu dengan lengan bajunya sendiri. Setelah itu dia tersenyum lebar saat wajah Sena memerah.

"Ayo berjalan-jalan," Sungwoo mencondongkan badan pada perut Sena, "menghabiskan waktu dengan si kembar. Ayo ikut, Sungwoo Daddy ingin membelikan sesuatu untuk kalian."

Sena tersenyum lebar. Tangan mereka saling berpegangan, tangan Sungwoo yang kosong memegang payung kuning. Ia membawa Sena keluar dan berjalan-jalan sedikit di tengah rintik hujan yang mulai mereda. Berjalan kaki akan sangat baik untuk calon Ibu.

Sungwoo memang menjaga betul Sena, setelah Daniel dan Sena resmi bercerai, ia berjanji akan melamar Sena dan menikahinya. Menerima dua anak kembar Sena dan hidup berempat hingga tidak ada yang memisahkannya.

Sungwoo janji akan membahagiakan Sena. Ini janji yang sudah lama ia ikat untuk membahagiakan Sena.

"Sungwoo, hati-hati," pekik Sena saat Sungwoo berjalan mundur memandangnya.

Sungwoo terkekeh seperti orang dungu, ia ingin mengeluarkan sesuatu dari kantong kecilnya, tapi ia bukan tipe pria romantis seperti Daniel. Bisakah ia bersikap romantis sedikit saja di hadapan Sena?

Sungwoo menyentuh cincin yang ia beli pagi tadi di balik saku celananya.

Sena menikah denganku. Ahh, tidak. Sena will you marry me?. Ahh, tidak tidak. Sena kau mau menjadi teman hidupku? Ahh benar. Batinnya.

"Sungwoo awas." Sena menarik kemeja Sungwoo hingga pria itu terkejut bukan main.

Dia hampir berjalan mundur di keramaian mobil berlalu lalang karena lamunannya. Jika seperti ini semua akan lebih canggung lagi. Sena memandang mobil yang hampir menabrak Sungwoo. Lalu memandang garang ke arah Sungwoo.

"Jika terjadi apa-apa padamu bagaimana?" bentak Sena.

Sungwoo terdiam dengan ekspresi konyolnya. Ia memandang Sena bingung karena baru saja wanita itu membentaknya, namun terdengar khawatir, "maaf."

Sungwoo menunduk. Sena kemudian tertawa jahanam, wajah Sungwoo memang pantas dijadikan meme jika ia seperti ini. Hampir seperti kucing malang yang di bentak tikus kecil. Sangat mengesankan.

Melihat Sena tertawa, Sungwoo langsung merangkulnya, "hei, siapa suruh tertawa?"

Sena menahan tawanya, perutnya jadi sedikit sakit karena banyak tertawa. Dia memandang Sungwoo dari samping, tengah merangkulnya seperti seorang teman lelaki. Tidak ada sisi romantis, tapi cukup nyaman.

"Kau itu aneh, aku tidak tau kenapa ekspresimu seperti orang idiot begitu," Sungwoo terdiam dengan mimik yang kesal, "aku bercanda."

Tak lama Sungwoo tertawa karena ulah Sena yang lumayan menggelitiknya untuk tertawa.

Ia membawa Sena kembali untuk pergi ke arena bermain anak-anak. Sungwoo memasang wajah cemas. Ia tidak tau harus bagaimana cara melamar Sena, terlebih lagi status istri Daniel masih melekat pada Sena.

Sungwoo diam, ia urungkan niatnya untuk melamar Sena. Mungkin akan ada waktu yang tepat untuk mereka. Sungwoo akan menunggu hingga tiba waktunya.










 Sungwoo akan menunggu hingga tiba waktunya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagaimana bagian ini?

Makasih sama yang udah dukung aku sampai sejauh ini. Rasanya Ff ini gak akan pernah habis, sangking lamanya konflik dan penambahan konflik. Perjuangan Daniel belum usai mencari Sena. Mungkin di chapter 41 mereka bakal .....

Kang DanielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang