💧Sampai Jumpa💧

2K 346 13
                                        

Langit senja yang jingga kemerahan bersama burung camar itu menemani laki-laki berpakaian serba hitam itu di ujung tebing. Suara deburan ombak di bawah sana terdengar samar-samar, seperti sebuah lagu elegi bagi Sekala.

Setelah pemakaman Gayatri, semangat hidupnya tak bersisa lagi. Gadis yang tadinya tertawa itu jatuh bersimbah darah dengan panah yang menancap di dadanya. Tepat di hadapan Sekala.

"Saya tidak bermaksud membunuh Gayatri," ucap Gilang yang penuh dengan penyesalan itu sambil menjatuhkan bulir-ulir air matanya yang hampir kering itu.

"Jika kamu marah, harusnya kamu membunuh saya. Harusnya hari ini adalah upacara pemakaman saya, bukan Gayatri," sahut Sekala yang sudah jengah mendengar setiap ocehan Gilang itu.

"Ya harusnya kamu yang mati, bukan istri saya!" Gilang meremas bajunya dengan penuh amarah. Urat-uratnya bahkan terlihat di pelipis.

"Gayatri--"

"Gayatri terlalu mencintai kamu," timpal Gilang lalu menatap Sekala dengan mata sembabnya. "Bahkan di hari kematiannya dia menyebut namamu, dia masih memakai hiasan rambut itu."

"Ya, saya juga mencintai dia."

"Begitupula dengan saya," sahut Gilang. "Saya mencoba memberinya segalanya. Apa yang membuatnya bahagia. Sayangnya itu tak pernah membuatnya bahagia."

"Harusnya saya menikahi dia saat itu, dan kita bertiga tak perlu saling menyakiti seperti ini." Sekala menarik napasnya dalam-dalam. Mencoba menghilangkan kenangan lamanya yang terasa menyesakkan itu. "Jika kita dilahirkan kembali, saya tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi."

Sekala tersenyum tipis seraya menatap Gilang. "Kembalilah ke rumahmu, ini sudah hampir malam. Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan terakhir kali untuk Gayatri sebagai suaminya, sementara aku hanya bisa mengenangnya tanpa melakukan apapun."

Gilang mengangguk pelan, lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Sekala sendirian di sana.

"Jika seperti ini apa yang harus saya lakukan, Gayatri?" Sekala menatap langit dengan sendu. Perlahan bahunya mulai naik turun. "Kita sudah berjanji untuk terlahir sebagai belahan jiwa dan pasangan hidup, tapi jika seperti ini, apa kamu kira saya bisa menjalani sisa hidup saya?"

Sekala memejamkan matanya sejenak. Membiarkan rasa sesak dan sedihnya jatuh bersama dengan air matanya yang kembali mengucur dengan deras. Diam tapi menusuk, rasanya jantunnya terasa ngilu. Untuk siapa lagi dia akan berdetak. Hanya melihat Gayatri setiap hari saja sudah cukup bagi Sekala, tapi jika seperti ini, dia tidak sanggup.

Sekala kemudian bangkit. Menatap lautan biru nan luas yang ada tepat di bawah tebing ini.

"Laut, bawa saya bertemu dengan Gayatri lagi."

Laki-laki itu menjatuhkan dirinya dari ketinggian dan laut pun membawanya pergi.

[.]

RindumuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang