“Ahjussi duduk saja di sini, ya?”
Lelaki bermasker Piglet itu menurut. Ia duduk di salah satu sofa yang ada di tengah-tengah kafe yang baru mereka datangi untuk pertama kalinya ini.
“Kau mau ke mana?” tanya Sehun pada Yena yang tampak menghampiri anggota grup musik yang memang biasa menampilkan live acoustic di kafe tersebut.
Setelah terlihat saling berbisik, si pemegang gitar akustik dalam grup itu kemudian memberikan alat musiknya pada Yena yang tak Sehun ketahui memiliki rencana apa. Yena melangkah ke depan mikrofon sedang matanya terus menatap malu-malu ke arah paman tampan di tengah sana.
“Cek! Cek!”
Yena berdeham sebentar untuk menyamankan tenggorokannya. Dengan gerakan pasti, gadis itu melepas masker Piglet yang semula menutup daerah mulutnya. “Halo, namaku Byun Yena. Aku berdiri di sini ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk Ahjussi tampan yang duduk di sofa tengah sana,” ucap Yena yang seketika membuat para pengunjung kafe lainnya bersorak menggoda lelaki yang ia sebut ‘paman’ itu.
“Ahjussi, dengarkan baik-baik ya!” titah Yena, sementara Oh Sehun hanya memberikan anggukan kepala sebagai balasan.
[Kindly play and listen this audio carefully before continue reading]
Penampilan singkat si gadis Byun lantas mendapatkan respon berupa tepuk tangan meriah dari para pengunjung kafe, termasuk Oh Sehun. Dalam lirik yang disampaikan Yena, juga dalam setiap petikan gitar yang mengiringinya, tersirat jelas harapan gadis itu yang menginginkan Oh Sehun untuk terus bersamanya. Saat Yena menyuruh Sehun mendengarkan nyanyiannya dengan baik, lelaki itu menurut. Sehun mendengarkan setiap liriknya tanpa ketinggalan satu patah kata. Hal itulah yang kemudian membuat Sehun kini tersenyum simpul di balik maskernya.
“Bagaimana penampilan Yena tadi? Ahjussi suka?” tanya Yena sembari tersenyum lebar memperlihatkan barisan giginya sesaat setelah duduk nyaman di samping Sehun.
Lelaki itu mengangguk. “Ya, aku suka. Aku baru tahu kalau kau ternyata bisa menyanyi seindah itu. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja sih?”
“Hm... kira-kira kenapa ya?” Yena mengetuk-ngetukan telunjuknya ke dagu dengan senyuman lebar yang belum sirna, namun sedikit genangan di matanya pun tak luput dari pandangan Sehun.
“Kalaupun kau tak menjadi seorang penyanyi terkenal pada akhirnya, tidak apa, kau ‘kan tetap bisa menjadi penyanyi yang menyanyikan lagu spesial hanya untukku,” ucap Sehun, mengeluarkan jurus gombalnya yang seketika saja mampu membuat Yena kembali tertawa.
“Oh iya, Ahjussi mau pesan apa? Kopi yang seperti biasa?”
“Ya, itu saja,” timpal Sehun. Tangan besarnya mengelus lembut puncak kepala Yena sebelum gadis itu pergi untuk memesan secangkir kopi.
PRANG!
“Ya ampun, Nona! Nona tidak apa-apa?”
“Yena-ssi! Kau baik-baik saja?!”
Tubuh Yena bergemetar hebat sesaat setelah secangkir kopi pesanan Sehun lolos dan jatuh begitu saja dari genggamannya. Sekon berlalu, Yena berusaha memunguti serpihan beling yang berserakan di lantai kafe namun Sehun dan seorang pelayan bergerak sedikit lebih cepat dalam mencegahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVEN ELEVEN
Fanfiction[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
