[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
Sehun mengaduk-aduk dua ramen instan yang baru diseduhnya beberapa menit lalu. Ia terduduk di area makan sebuah minimarket, menunggu kedatangan Byun Yena yang berjanji akan menyusulnya setelah menutup kafe.
Harusnya tidak selama ini, batin Sehun.
Ramen yang diseduhnya sudah hampir mengembang, tidak akan enak jika dibiarkan terlalu lama lagi. Baru pada saat dirinya hendak bangkit dari duduk, gadis yang ditunggunya akhirnya menampakkan diri juga dengan senyuman tipis.
"Kenapa lama sekali? Ayo, cepat kita makan sebelum ramennya semakin mengembang!"
Yena duduk di hadapan Sehun, menatap lelakinya yang kemudian terlihat begitu lahap menyantap makanan instan tersebut. Untuk menghargai usaha Sehun membelikan apa yang dimintanya, Yena pun mengambil sepasang sumpit dan menikmati mie yang sudah sepenuhnya mengembang dalam mangkuk berbahan styrofoam itu.
"Ah! Panas!" pekik Yena saat merasa lidahnya seperti terbakar. Tangannya mengipas-ngipas lidahnya yang terjulur.
"Kau tidak apa-apa?" Sehun membuka kaleng kola, lalu menyerahkan minuman dingin itu pada Yena. "Ya ampun, kau ini seperti orang yang baru pertama kali makan ramen saja! Bagaimana bisa kau langsung memakannya tanpa meniupnya terlebih dahulu?" omel Sehun.
Bibir si Gadis Byun mengerucut, manyun. "Yena kira ramennya sudah dingin, habisnya Ahjussi makan dengan cepat seperti orang kelaparan tadi."
"Apa perlu aku yang tiupkan ramennya untukmu?"
Yena menggeleng cepat. Kedua tangannya saling menyilang, membentuk huruf X. "Tidak perlu, terima kasih. Yena masih bisa meniupnya sendiri."
Kedua alis Sehun hampir bertemu saat lelaki itu mengerutkan dahi, menyadari ada sesuatu yang berubah dari Yena. Maniknya langsung melebar, telunjuknya spontan mengarah horizontal pada sang gadis. "Cegukanmu? Cegukanmu sudah berhenti!"
"Hebat!" Lelaki itu bertepuk tangan sambil tertawa cukup lebar, memberi reaksi seolah berhentinya cegukan Yena adalah hal terluar biasa di dunia. "Kukira aku akan terus mendengar cegukanmu sepanjang hidupku!" sambungnya berhiperbola.
Wajar saja bila Sehun bereaksi seperti itu, lantaran dirinya sudah mencoba berbagai macam cara untuk membantu Yena menghilangkan cegukan seharian tadi, namun tak ada satupun cara yang berhasil. Dan kini, tanpa bantuan darinya, Byun Yena sudah bisa duduk di hadapannya tanpa cegukan sedikitpun. Terasa ajaib sekali, bukan?
"Kau minum obat apa?"
Gadis itu lagi-lagi menggelengkan kepala. "Obat apapun tidak akan mempan, Ahjussi. Yena punya tabib pribadi yang paling mengerti bagaimana cara menghilangkannya," jawab gadis itu diakhiri nada bercanda.
Sehun percaya saja dan tidak lanjut bertanya tentang siapa 'tabib' yang dimaksud sang gadis. Mungkin, itu tidak dirasa begitu penting untuk ia ketahui. Ya, setidaknya, tidak untuk sekarang.
♥♥♥
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.