Bitna masih ada di sana ketika seorang pria paruh baya yang tak dikenalnya datang menemui Dokter Kim. Jika dirinya tidak memiliki masalah pendengaran apapun, ia yakin betul pria berjas putih dengan stetoskop di lehernya itu menyebut pria tersebut sebagai Kim Jongin.
Awalnya, Bitna ingin sekali bersikap acuh tak acuh pada percakapan mereka. Namun, tatkala Jongin membawa-bawa topik perihal 'menghentikan Yena yang terjebak di masa lalu', rasa penasarannya perlahan menggunung, membuat dirinya ikut melangkah diam-diam ke manapun dua orang pria paruh baya itu pergi.
"Kita bisa bicara di sini," ucap Dokter Kim setibanya mereka di tangga darurat. Suasana yang selalu sepi membuat tangga darurat rumah sakit itu dirasa bisa menjadi lokasi teraman bagi mereka untuk berbicara tentang rahasia, setidaknya itulah yang Dokter Kim pikirkan.
Pria paruh baya berkulit gelap yang pernah mengaku menabrak Byun Yena tempo hari itu berdeham sebentar, menyamankan tenggorokannya yang sedikit tercekik oleh sebuah syal. "Saya sudah lelah terbangun di hari yang sama setiap harinya."
"Maksud Anda? Anda juga terjebak di tanggal 16 Desember 2035 dan tidak pernah merasakan pagi di 17 Desember saat keesokan harinya?"
Jongin mengangguk mantap. "Nona Yena sudah keterlaluan," lanjut pria itu. "Apa Anda tahu perubahan apa yang terjadi pada keluarga saya?"
"Karena Nona Yena, saya terus dihantui oleh ketakutan akan istri saya. Di hari sebelumnya, istri saya terus bicara tentang perceraian. Di hari selanjutnya, istri saya kembali bersikap baik dan seolah tak pernah meminta cerai. Di saat saya sudah merasa lega akan hal itu, Anda tahu? Keesokan harinya, di hari yang sama, takdir berubah lagi. Istri saya ... telah kabur dari rumah bersama pria lain."
Dua alis Dokter Kim hampir beradu, terpikir olehnya kini segala penderitaan yang selama ini ia alami. Ia tidak sendirian. Ia tidak pernah sendirian.
"Tapi, dari mana Anda bisa menyimpulkan kalau semua itu terjadi karena Nona Yena?" tanya si pria berjas putih.
"Anda yang bilang sendiri bahwa Byun Yena sedang mencoba mengubah masa lalu, meskipun dia sendiri tidak tahu apa masa depan yang berubah itu baik untuk orang lain atau tidak," jawab Jongin, mencoba tegar. Ia lalu menyambung, "Saya juga tahu, Anda pernah mencoba menghilangkan nyawa Byun Yena yang masih terbaring koma demi menghentikan semua keegoisannya ini, 'kan?"
Lutut Kim Junmyeon seketika bergetar hebat, hampir saja tumbang. Untungnya, sebidang dinding mampu menjadi tempatnya bersandar tanpa benar-benar terjatuh ke lantai. "Da-dari ... dari mana—"
"Maaf, Dok. Saya tidak sengaja menyaksikan hal itu," potong Jongin cepat. "Jika Anda tidak berani melakukannya, biarkan saya saja ... saya yang akan menggantikan Anda melakukannya."
"Maksud Anda?"
"Jika satu-satunya cara untuk menghentikan Nona Yena adalah dengan membuatnya meninggal, biarkan saya yang menanggung semuanya. Tidak apa-apa, asal semua kekacauan ini bisa berhenti dan tidak ada lagi hal lebih buruk yang akan terjadi."
"Jangan!"
Suara Bitna tiba-tiba menggelegar ke seisi tangga darurat. Gadis cantik dengan kaki jenjang itu akhirnya keluar dari persembunyiannya, tubuhnya amat gemetar, tampak syok setelah mendengar inti percakapan Kim Junmyeon dan Kim Jongin.
"Ther—ah, maksud saya, Bitna-ssi, sejak kapan Anda menguping pembicaraan kami? Sejauh mana yang telah Anda dengar?" Junmyeon terkejut, sama terkejutnya dengan Jongin yang kini terlihat mencoba menyembunyikan wajah, tak mau beradu tatap langsung dengan Bitna.
"Membuat Yena meninggal di masa ini tidak akan mengubah apapun," ujar Bitna serius, tanpa ada sedikitpun niat untuk membalas pertanyaan si dokter yang masih menggenggam album musik terbarunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVEN ELEVEN
Fanfiction[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
