Ada sebuah dongeng.
Karena terlibat sebuah perjanjian dengan seorang penyihir jahat, sepasang suami-istri harus merelakan bayi perempuan mereka untuk diberikan kepada si Penyihir. Penyihir itu merawatnya hingga tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, lalu mengurungnya di satu menara tinggi yang tidak terjangkau oleh siapapun karena tidak memiliki pintu maupun tangga. Jika Penyihir itu hendak menemui Sang Gadis, ia akan meminta Sang Gadis untuk mengulurkan rambutnya yang sangat panjang untuk kemudian ia panjat sampai ke menara.
Singkat cerita, seorang pangeran penasaran dengan nyanyian merdu yang berasal dari menara tersebut. Pangeran itu melihat cara Sang Penyihir untuk sampai ke atas, lalu menirunya di hari kemudian. Pangeran dan gadis itu bertemu, saling jatuh cinta, lalu berjanji untuk hidup bersama di Istana. Sayangnya, Penyihir mengetahui hal tersebut. Penyihir itu mengirim Sang Gadis ke tempat yang jauh, dan membuat si Pangeran celaka sampai kehilangan penglihatannya. Namun, takdir tetap berpihak pada keduanya. Karena nyanyian merdu Sang Gadis, pangeran buta yang telah mengembara selama ini berhasil bersatu kembali dengan gadisnya. Air mata gadis itu pun menjadi obat bagi Sang Pangeran yang kemudian sembuh dari kebutaannya.
Itu salah satu dongeng yang pernah diceritakan Cathrine pada Irene. Setelah Irene membacanya di buku kumpulan dongeng yang ia koleksi sendiri hari ini, timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya.
Apa akhir bahagia dari seorang Rapunzel hanya sebatas itu? Apa Rapunzel tidak pernah merasakan kegalauan akan jati dirinya? Apa ... kebahagiaan menemukan cinta, telah membuat si pendongeng alpa akan sosok suami-istri yang merupakan orang tua kandung dari Rapunzel?
Tentu saja, itu hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak. Terlalu panjang mungkin jika ditulis selogis pemikiran Bae Irene. Pun anak-anak bisa langsung tertidur begitu mendengar akhir bahwa Rapunzel dan Sang Pangeran hidup bahagia selama-lamanya, tanpa terpikirkan lagi untuk lanjut menyelisik lebih jauh, bertanya, "Apa yang terjadi pada orang tua Rapunzel, Eomma?"
Jika Irene adalah Rapunzel, siapa sosok Penyihir Jahat yang tega memisahkannya dengan kedua orang tuanya? Apa Irene juga bernasib serupa? Diberikan begitu saja kepada orang lain, lalu dilupakan tanpa dicari-cari lagi?
"Sayang," panggil Cathrine, sang ibu, yang membuka sedikit pintu kamar putrinya. "Ayo, kita makan bersama! Jangan mengurung diri terus, Eomma dan Appa sangat khawatir melihatmu seperti ini."
Irene langsung saja menutup rapat-rapat buku dongengnya dan menyimpannya di bawah bantal. Langkah kaki telanjangnya menghampiri Cathrine yang kemudian menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat.
"Kau harus tetap kuat. Kau sudah melakukan semuanya dengan baik, bukan salahmu, hanya saja, terkadang kenyataan memang tak seindah yang kita bayangkan," ucap Si Nyonya Bae, menyemangati.
"Terima kasih, Eomma."
Gadis berambut pirang itu kembali mengayunkan tungkai, berjalan ke ruang makan di mana Terrance dan hidangan makan siang buatan Cathrine sudah cukup lama menunggunya.
"Selamat siang, Nona Bae," sapa Terrance ketika Irene mulai menarik kursi, senyuman damai langsung terhias di wajah bulenya. "Tadi pagi, ada seorang kurir mengantarkan paket untukmu. Aku menyimpannya di atas meja di depan televisi."
"Apa kau membeli baju baru tanpa memberi tahu Eomma, hm?" Cathrine pura-pura ngambek.
Irene kontan menggeleng cepat. "Tidak kok! Aku tidak memesan apapun."
"Mungkin dari penggemar," ujar Terrance, menarik kesimpulan termudah.
Keluarga Bae menikmati makan siang mereka yang diselingi canda tawa ringan. Memang, sudah beberapa hari sejak Irene membuat pengumuman pembatalan rencana pernikahannya dengan Oh Sehun, Irene menolak semua tawaran pemotretan maupun wawancara lainnya dan lebih memilih untuk berdiam diri di rumah tanpa gangguan apapun dari siapapun. Dan momen makan siang kali ini adalah kali pertama yang terjadi setelah beberapa hari gadis itu mengurung diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELEVEN ELEVEN
Fiksi Penggemar[Sequel of 'BATHROOM'] Yena merasa hidupnya tidak akan pernah berjalan mulus jika orang-orang terus mengaitkan dirinya dengan masa lalu kelam sang ayah yang tak lain merupakan seorang pembunuh. Meski 14 tahun telah berlalu sejak sang ayah tercinta d...
